PEKAN BUNG HATTA

Pekan Bung Hatta Eps.01 – Bersama Burhanudin Muhtadi Ph.D : “Bung Hatta dan Demokrasi”

Pekan Bung Hatta Eps.02 – Bersama Yudi Latif Ph.D : “Bung Hatta: Islam & Kebangsaan”

Pekan Bung Hatta Eps.03 – Bersama Arcandra Tahar & Trias Kuncahyono : “Soekarno-Hatta Dwitunggal”

Pekan Bung Hatta Eps.04 – Bersama Faisal Basri : “Bung Hatta Bapak Koperasi”

Pekan Bung Hatta Eps.05 – Bersama Bonnie Triyana : “Bung Hatta dan Kecintaannya pada Buku”

Pekan Bung Hatta Eps.06 – Bersama Ray Rangkuti : “Kesederhanaan Hidup Bung Hatta”

Pekan Bung Hatta Eps.07 – Bersama Prof. Dr Hamdi Muluk : “Bung Hatta Mata Air Inspirasi”

Sumber : bknp pdipperjuangan youtube channel

KESAN ABADI PARA TOKOH TENTANG BUNG HATTA

(Dipetik dari : BUNG HATTA, Pribadinya dalam Kenangan. Penyunting: Meutia Farida Swasono)

  1. Mochtar Lubis (jurnalis, sastrawan ternama)
    Citra Bung Hatta bagi saya, anak manusia yang amat cinta pada bangsa dan tanah airnya, yang sepanjang hayatnya merisaukan nasib rakyat dan bangsa, penuh kejujuran dan keberanian intelektual, kokoh integrita pribadinya, adil dan tiada dihantui nafsu berkuasa maupun menumpuk harta.
    Dalam dirinya dia berhasil menghimpun nilai-nilai manusia Indonesia yang banyak telah hilang dalam diri banyak kita; sikap sederhana, hidup sederhana, sopan dan santun yang tinggi, kejujuran, cinta pada kebenaran dan keadilan, keberanian berpikir dan menyatakan pikiran, integrita pribadi dan ilmu, tiada nafsu berkuasa atau mengejar kekayaan.
    Bung Hatta juga cemas melihat betapa lemahnya kita sekarang melindungi perdagangan dalam negeri kita, yang seharusnya berada dalam tangan bangsa Indonesia sendiri. Bung Hatta tahu benar, dalam distribusi barang dalam negeri, banyak modal-modal asing berselubung melakukan perannya.
  2. A. H. Nasution (pejuang, pahlawan nasional, panglima, ketua MPR).
    Bung Hatta teladankan konsistensi pada prinsip-prinsip. Beliau sangat konsisten dalam melaksanakan dan membela kebijaksanaannya, dan tidak pandang bulu berhadapan dengan siapapun. Beliau sebagai teladan ideal. Seperti juga Bung Karno, dr Sutomo dan pemimpin-pemimpin nasional lainnya yang kita banggakan, maka Bung Hatta meneladankan identitas mahasiswa Indonesia, yakni yang sambil studi pula secara harmonis, bergiat sebagai aktivis mahasiswa, seraya pula memperjuangkan aspirasi rakyatnya. Mereka bukanlah sekedar menjadi pemikir, tetapi lebih-lebih lagi, merupakan pejuang dan pemimpin. Dan tantangan-tantangan perjuangan bukanlah penghambat bagi mereka, melainkan adalah menjadi penggembleng.
  3. Emil Salim (ahli ekonomi, cendekiawan, mantan menteri dan saat ini sebagai Ketua Wantimpres)
    Mendidik orang berpikir, berlaku dan bertindak demokratis, ini kentara dalam diskusi yang berkembang antara Bung Hatta dengan sekelompok mahasiswa waktu itu. Masalah yang dikupas bisa bersifat emosional, tetapi emosi tak pernah mempengaruhi Bung Hatta dalam diskusi. Tanpa disadari para pemimpin-pemimpin mahasiswa masa itu dididik memahami dan mempraktekkan asas-asas demokrasi.
    Beliau berpesan agar terus menerus dikembangkan kebiasaan beradu pendapat dan bertukar pikiran……………saya teringat kembali ungkapan Prancis… yang Bung Hatta paterikan dalam lubuk hati saya, “ dalam pertumburan beda pendapat, lahir kebenaran-kebenaran baru!”.
    Semangat solidaritas Bung Hatta terhadap Bung Karno dan anggota Pemerintah lainnya sangat kuat. Tidak ada dalam kamus beliau cara berpolitik “menikam dari belakang”. Beliau tidak menutup mata terhadap kekurangan yang ada. Dan adalah kebiasaan beliau untuk secara terus terang mengungkapkannya dalam surat tertulis kepada pihak yang berkepentingan. Tetapi keluar, ke masyarakat umum, beliau tegakkan sikap seorang demokrat. Sekali keputusan sudah diambil,
    betapapun tidak disetujui sepenuhnya isi keputusan itu, namun sebagai demokrat beliau tunduk pada keputusan itu.
    Waktu di Universitas California, Bung Hatta diminta pendapatnya tentang Bung Karno. Beliau jawab polos, “ Dalam beberapa hal saya memang berbeda pendapat dengan Bung Karno. Tetapi Bung Karno adalah Presiden Republik Indonesia, negara yang saya perjuangkan kemerdekaannya bertahun-tahun. Sebagai warga Negara Republik Indonesia yang ditegakkan atas dasar Pancasila, saya bisa berbeda pendapat, namun tidak mengurangi hormat saya kepada Bung Karno, presiden negara saya. Right or wrong he is my president. Presiden dari Negara Republik Indonesia yang saya cintai!”
  4. Sri Sultan Hamengkubuwono IX
    Bung Hatta adalah seorang pemimpin nasional yang berwatak dan berbudi luhur. Saya dapat kesan positif bahwa yang diutamakannya ialah perjuangan kita dan keadaan rakyat. Hal ini sangat berkesan bagi saya. Bila semua orang berjiwa seperti beliau, tak ada kekuatan di dunia yang dapat mematahkan revolusi kemerdekaan kita. ….beliau tidak memikirkan diri sendiri namun pasrah kepada Tuhan. Dapat saya rasakan harapan beliau atas hari depan Bangsa dan Negara yang cerah, penuh keadilan dan kemakmuran.
  5. Deliar Noer (pemikir, peneliti, politikus)
    Sifat pokok pada diri Bung Hatta yang menyebabkan beliau dihargai secara khusus….. ialah sifat taqwa, bagi seorang Muslim…” Yang termulia di sisi Allah adalah yang paling taqwa.” (Qur’an 4:13). Sifat-sifat taqwa yang disebutkan dalam Qur’an 2:3,4 dimiliki Bung Hatta dengan tuntas. Semenjak kecil ia telah terbiasa beribadah: sembahyang lima waktu, puasa dalam bulan Ramadhan, dan zakat, sesudah ia mempunyai harta sekedarnya. Ia lakukan ini baik ketika berada di tanah air, maupun ketika studi di Negeri Belanda, ataupun bermukim di tanah pembuangan, di tengah kesibukan sebagai orang pergerakan, ataupun sebagai wakil presiden, dan kemudian kembali sebagai rakyat biasa.
    Ketaqwaan itu tercermin pula dari sikapnya pada sesama manusia. Ia menganggap semua manusia sama. Hal itu bukan saja tercermin dalam pemikiran beliau dalam politik, tetapi juga dalam tingkah laku sehari-hari. Ia menerima siapa saja dengan ramah dan senyuman, menyapa yang tua “serta” yang muda dengan lemah lembut.
    Ketika ia di atas, ia memberikan contoh sebagai pemimpin, ketika ia di bawah iapun memberikan contoh bagaimana harusnya menjadi orang biasa. Disinilah letak sikap diri seorang yang dalam hubungannya dengan Allah, senantiasa sadar akan kedudukannya: ‘abd, hamba, yang membedakannya hanya taqwanya. Oleh sebab itu pula ia teguh dalam pendirian, tidak terombang ambing oleh keadaan, tidak terbawa oleh pasang surut suasana. Seperti yang sering ia anjurkan: menjaga individualitas, kepribadian, dan integritas.
  6. Sumitro Djojohadikusumo (begawan ekonomi, perancang ekonomi Indonesia)
    Betapapun sibuknya………..Bung Hatta senantiasa meluangkan waktu bagi golongan muda untuk mengadakan pertukaran pikiran secara leluasa atau untuk mendengarkan dengan penuh kesabaran apa yang menjadi keluhan hati mereka.
    ………beberapa peristiwa perselisihan pendapat dan pertentangan pendirian antara Bung Hatta dan saya dan sikap amarah yang saya alami dari beliau, …………………tidak pernah mengganggu
    3
    sedikitpun hubungan baik yang terus berlangsung dan tetap terpelihara dalam pergaulan pribadi antara kami berdua. Disinilah menonjolnya kebesaran jiwa pribadi Mohammad Hatta yang secara nyata membedakan selisih pendapat mengenai sesuatu masalah dari hubungan pribadi di antara se sama manusia di mana beliau selalu menunjukkan sikap saling harga-menghargai. ………saya dapat menyelami makna sebuah pepatah dalam bahasa asing yang juga menjadi salah satu patokan hidup bagi beliau “ barang siapa yang tulus menunjukkan kekurangan dan kelemahan yang melekat pada diri saya, orang itu adalah kawan sejati.
    Saya merasa dianugerahi kebahagiaan, bahwa dalam kehidupan saya, pernah saya kenal dari dekat seorang manusia besar yang namanya Mohammad Hatta.
  7. Rosihan Anwar (sejarawan, sastrawan, tokoh pers dan budayawan)
    Menghadapi realitas keras yang sepahit-pahitnya sekalipun, Bung Hatta tidak kehilangan keseimbangan………..dia memandang ke depan, berangan-angan, penuh cita-cita. Sudah barang tentu bukan sifat Stoicijn (sangat tabah) yang melekat pada Bung Hatta sehingga dia tidak gampang digoncangkan oleh keadaan yang dilihatnya, betapapun getirnya. Ada yang lebih dalam daripada itu yang mendasari sikap dan peri lakunya. Hanya orang yang beriman dan hidup dengan cita-cita, seorang idealis yang sanggup berbuat demikian.
  8. Masagung (Pendiri toko Gunung Agung, pebisnis)
    Bung Hatta sederhana orangnya, takwa kepada Tuhan, berjiwa besar. Beberapa bulan sebelum meninggal, beliau mengirim surat pribadi kepada saya. Isinya kira-kira begini, “ Kalau ada yang melarang buku-buku Soekarno, termasuk Kejaksaan Agung, saya heran. Saya tidak setuju, karena buku-buku Soekarno itu penting untuk perjuangan rakyat Indonesia, dan harus diketahui rakyat, untuk masa sekarang maupun untuk masa datang.” Inilah salah satu bukti jiwa besar beliau, walaupun dalam hal politik sering beliau berbeda dengan Soekarno.
  9. A.R. Baswedan (pejuang kemerdekaan, diplomat, sastrawan, jurnalis)
    Kesederhanaan Bung Hatta sangatlah menonjol. Di tengah alam “perlombaan kemewahan”, sikapnya mencerminkan kesederhanaan itu. Celana dan kemeja batiknya biasa-biasa saja. Sikap tegasnya memang memukau. Keberaniannya untuk mengemukakan pendapat jika itu benar, adalah ciri pribadi yang perlu menjadi contoh. Bung Hatta tak pernah mengomentari orang lain yang tidak tegas, akan tetapi tindakan dia sudah cukup menjadi cermin yang membuat kita bertanya: Sudah begitukah kita ? Itulah Hatta yang saya kenal, yang dalam pribadinya tercermin segenap pikiran dan pandangannya, dalam gerak langkahnya terbaca falsafah hidup yang dihayatinya.
  10. Meutia Farida Swasono, Gemala Rabi’ah Chalil Hatta, Halida Nuriah Hatta (Putri-putri Bung Hatta)
    Ayahku merupakan figur utama dan kuat dalam keluarga kami. Beliau adalah pelindung, pedoman, pemersatu dan pendamai dalam keluarga besar kami, baik dari pihak Batuhampar maupun Bukittinggi, bahkan juga dari pihak keluarga ibu saya. Ayah adalah segala-galanya bagi kami semua (Meutia).
    Ayah selalu menasihati saya agar keuangan saya yang sedikit itu diatur sebaik mungkin sehingga bila ada sisa, dapat ditabung. Memang, sesungguhnyalah, Ayah itu adalah penabung yang sangat ulung. Kehidupan beliau yang jauh dari mewah, membuat kita, anak-anak yang menghargainya. Buat Ayah, kepercayaan yang kuat kepada Tuhan Yang Maha Esa sudah menimbulkan kebahagiaan bagi kehidupannya. Beliau tidak pernah mempersoalkan kurangnya uang pensiun, apapun diterimanya tanpa banyak bicara (Gemala).
    Seluruh kehidupan Ayah telah membuktikan suatu kedisiplinan hidup yang luar biasa. Beliau tidak pernah terus-menerus menekankan kepada kami untuk hidup berdisiplin. Tetapi dari cara hidup Ayah yang penuh contoh kedisiplinan pribadi, kami secara tidak langsung dipengaruhi beliau. Disinilah kehebatan Ayah. Bagi beliau, meneladani adalah jauh lebih bermanfaat daripada mengindoktrinasikan (Gemala).
    Bukanlah hal yang berlebihan, bila aku menceritakan di sini tentang kelembutan ayahku. Beliau tidak pernah memaki atau memarahi anaknya sejadi-jadinya. Cukup dengan ucapan saja, anak-anak mau menurut ayah. Berkumpul sekeluarga di meja makan, merupakan hal yang paling Ayah inginkan. Ayah tidak mengucapkannya, namun kami sekeluarga mengetahuinya sendiri (Halida).
    Orang mengetahui bahwa Ayah dan Bung Karno adalah dua orang yang berbeda watak. Sebelum Kemerdekaan, mereka saling berkeras satu sama lain, yang tampak dari tulisan-tulisan mereka. Namun pada suatu ketika, beliau berdua bersatu dalam menjalankan tugas memprolakmasikan Kemerdekaan Negara Indonesia dan menjalankan pemerintahan negara yang masih sangat muda itu. Betapapun belainannya sifat pribadi mereka, demi keutuhan bangsa, mereka bersatu karena negara membutuhkan kedwitunggalan mereka. Orang juga mengetahui bahwa ketika kebersamaan mereka tak dapat dipertahankan. Ayah melihat bahwa sudah waktunya keputusan lain diambil: meletakkan jabatan sebagai Wakil Presiden, demi keutuhan bangsa pula (Meutia).
  11. S.K Trimurti (pejuang, wartawati, penulis, menteri).
    Saya bukan termasuk golongan Bung Hatta dalam wadah perjuangan politik. Partai saya bukan partai Bung Hatta ketika itu. Strategi dan taktik perjuangan saya bukan strategi dan taktik yang dipolakan Bung Hatta. Dan perkenalan saya secara pribadi dengan beliau baru mulai pada tahun 1943 di Jakarta. Namun dari wadah yang berbeda itu, saya dapat menilai seorang manusia yang jujur, yang mengatakan apa adanya. Sekalipun yang dikatakan “benar” itu lawannya, tetapi kalau beliau yakin bahwa dia benar, maka dikatakanlah dia benar. Sebaliknya, sekalipun kawan, kalau memang tidak benar, menurut pengamatan Bung Hatta, akan dikatakannya tidak benar juga. Akhirnya sebagai manusia biasa, Bung Hatta tentu punya kekurangan-kekurangan dan cacat-cacat. Akan tetapi kalau semua itu dibandingkan dengan sifat-sifatnya yang baik, maka kekurangan-kekurangan itu jadi tidak seberapa.
  12. H. Roeslan Abdulgani (pejuang, negarawan, diplomat dan politikus, Menteri Luar Negeri Indonesia pada tahun 1956-1957)
    Bung Hatta sebagai manusia juga berkadar emosi. Beliaupun dapat mencintai, tapi juga dapat membenci. Mencintai barang haq, dan membenci barang bathil. Mencintai kemerdekaan dan keadilan, membenci penjajahan dan kedholiman. Dan beliau tidak tinggal diam. Melainkan bersuara dan ada kalanya menulis surat kepada Pimpinan Negara. Watak kepekaan beliau sebagai pribadi, yang tidak dapat melihat penyalah gunaan kekuasaan dan ketidakadilan, membuat beliau berfungsi sebagai Pengawal dan Penjaga Hati Nurani Rakyat kita, yang masih cupet hidupnya dan kurang pengetahuannya itu.
    Bagi generasi dulu: politik adalah karakter! Politik adalah watak. Watak pejuang, yang patriotik, nasionalistik, demokratik, sosialistik dan humanistik. Itulah arti pokok:politik. Sangat sederhana. Kalau politik diartikan secara berliku-liku dan naif, maka politik bukan lagi sumber etik, melainkan sekedar teknik untuk memperoleh kekuasaan dan mempertahankan kekuasaan itu bagi dirinya sendiri.
    Sederhana dalam pikiran dan sederhana dalam cara hidup. Bung Hatta memiliki dua kesederhanaan itu. Dalam kesederhanaan berpikirnya, Bung Hatta memiliki daya analisa yang tajam, mendalam dan mendasar. Dalam kesederhanaan hidupnya, Bung Hatta memiliki kekayaan ilmu, kekayaan buku, kekayaan kawan dan keluarga yang berkualitas. Beliau tidak pernah tinggalkan Amanat Penderitaan Rakyatnya, yang sejak dulu kala mendambakan kemerdekaan, keadilan dan kemakmuran. Kesetiaan Bung Hatta kepada cita-cita rakyatnya itu adalah sangat sederhana, tanpa pamrih, tapi sangat dalam. Kesederhanaan itu juga mendasari watak pribadinya sebagai manusia. Semoga pemuda Indonesia,yang beliau sering puja sebagai “pahlawan dalam hati beliau”, pandai belajar dari pribadi Bung Hatta sebagai manusia pemikir dan manusia pejuang.
  13. George Mc T. Kahin (sejarawan dan pakar ilmu politik tentang Indonesia dan Asia Tenggara, Cornell University)
    Hatta memegang teguh dan tidak mau melepas prinsip-prinsip yang dianutnya. Dia tidak pernah melepaskan keyakinannya bahwa Indonesia harus mempertahankan politik luar negeri yang bebas dan tidak memihak. Argumentasi Amerika bahwa kebebasan seperti itu tidak mungkin dalam dunia yang berpolaritas dan bantuan Amerika untuk pemberontakan-pemberontakan kedaerahan dalam tahun 1957-1958 dianggap Hatta sebagai argumentasi yang bodoh dan keliru serta merugikan baik bagi Indonesia maupun bagi Amerika Serikat, karena segera memaksa Jakarta berpaling kepada Uni Soviet.
    Dia mempertahankan pendiriannya bahwa luasnya Indonesia dan variasi kedaerahannya sangat tidak cocok dengan sentralisme pemerintahan. Untuk mencapai persatuan yang murni berdasarkan keserasian sosial dan politik, perlu diadakan otonomi daerah yang lebih besar. Pandangan ini diucapkannya jauh sebelum terjadinya pemberontakan PRRI dan Permesta.
    Dia tidak pernah meninggalkan keyakinannya bahwa apabila koperasi pedesaan itu diurus oleh tenaga yang terlatih dan diberi dana permulaan yang cukup, kemungkinan keberhasilan cukup besar. Dia terus memandang koperasi sebagai sarana untuk meringankan beban para petani dan membantu mereka mempertahankan tanah mereka. Dia yakin bahwa koperasi adalah sarana yang paling baik untuk menjamin tercapainya keadilan sosial yang lebih besar bagi mayoritas pedesaan yang menjadi sasaran eksploitasi atau, dalam kata-kata Hatta sendiri, “jembatan ke arah demokrasi ekonomi”.
  14. Ali Sadikin (Gubernur DKI, 1966-1977)
    Selaku Gubernur DKI saya diberi kehormatan mendapat penugasan menyampaikan keputusan DPRD DKI tentang pengangkatan Bapak Dr. Mohammad Hatta sebagai ‘Warga Utama Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta’ tanggal 31 Juli 1972. Saya sekali-sekali berkunjung ke rumah beliau sebab saya merasa beliaulah sebagai orang tua yang sangat saya tuakan di Republik ini setelah Bung Karno tiada.
    Tentang sistem pengangkatan anggota DPR-MPR, Bung Hatta menegaskan kepada saya bahwa pemilu sebagai sarana demokrasi adalah dimaksudkan dalam rangka mewujudkan kedaulatan rakyat, sedangkan kedaulatan rakyat adalah hal yang fundamental yang secara tegas disebutkan baik dalam Preambule maupun pada batang tubuh UUD 1945.. Maka menurut Bung Hatta, sistem pengangkatan DPR-MPR adalah tidak sesuai dengan kedaulatan rakyat yang dimaksud oleh UUD 1945.
    Bung Hatta sebagai manusia besar bangsa kita, menjadi pemimpin dan intelektual yang betul-betul dipersiapkan dan mempersiapkan diri sejak usia muda. Dalam perjalanan hidup beliau, kita menyaksikan seolah-olah segala sesuatunya dijalani Bung Hatta dengan serba berencana disertai disiplin yang kuat dan secara konsisten pula. Benar-benar beliau mendapatkan petunjuk dan takdir kehidupan pejuang bangsa yang bahagia, indah dan penuh kenangan.
  15. Bermawy Latief (pejuang kemerdekaan, anggota KNIP)
    Manakala Ir Soekarno berpendapat “mengambil kekuasaan dengan kerongkongan”, maka Bung Hatta berpendapat ”Organisasi mendatangkan kekuatan”. Dua cara dari dua pemimpin besar ini jangan dipertentangkan, tetapi kita hendaknya memperpadukannya: Soekarno ialah sebagai juru-bicara massa rakyat dan Bung Hatta sebagai pemikir dan penyusun cita-cita dengan konsepsional yang mendasar.
    ………bertemu dengan Bung Hatta, kami mendapat kesan bahwa wajah beliau jernih, urat-urat mukanya menunjukkan seorang manusia yang beriman dan berkarakter, satu kata dengan perbuatan, manusianya jujur lillahita’ala……beliau keras dalam disiplin pergerakan dan lembut/halus sebagai sutera dalam hubungan ke segala pihak, baik terhadap lawan sekalipun. Beliau suka menolong.
  16. Biju Patnaik (pilot, pengusaha, pejuang kemerdekaan India, anggota parlemen dan menteri, beliau, di tengah kepungan Belanda, menerbangkan Bung Hatta dari Bukittinggi ke New Delhi India untuk bertemu pemimpin-pemimpin India, di bulan Juli 1947).
    Menulis tentang Dr Hatta adalah menulis tentang perjuangan kemerdekaan Indonesia. Usahanya, perencanaannya yang matang dan seksama ketika dia berada dalam misi rahasia di luar negeri, meletakkan dasar yang membawa aspirasi Indonesia ke luar batas koloni Belanda dan menjadikan aspirasi itu terkenal di dunia-ini merupakan langkah raksasa dalam perjalanan ke arah pengusiran penjajah Indonesia. Saya memperoleh kehormatan menjadi salah satu alat untuk mencapai tujuan ini.
    Selama pertemuan Dr Hatta di New Delhi, para pemimpin India, baik Nehru, Patel maupun yang lain, terpesona oleh keterangan Bung Hatta yang jelas, jalan pikirannya yang jernih, serta saran-sarannya yang tepat dan praktis….dan telah menjadikan pemimpin India bertekad untuk berusaha sekeras-kerasnya untuk memberikan dukungan sepenuhnya kepada Indonesia.
    Dengan berakhirnya hidup Dr Hatta, Indonesia telah kehilangan salah satu putranya yang besar, dan kita yang telah memperoleh kehormatan mengenalnya kehilangan seorang sahabat yang kita cintai dan hormati.
  17. Joesi Darik
    Orang yang mengenal pribadi Bung Hatta diingatkan pada sebuah sajak kecintaan dan pedomannya: Hanya satu Tanah yang bernama Tanah Airku, ia makmur karena usaha, dan usaha itu adalah usaha sendiri. Itulah baIgian yang terkandung dalam kalbu beliau.
    Kata Henrik Ibsen, seorang pujangga besar Denmark pada abad ke-19: “ Demokrasi saja tidak akan memecahkan persoalan masyarakat. Satu unsur kebangsawanan harus dimasukkan dalam hidup kita. Yang saya maksud tentulah bukan bangsawan keturunan, bangsawan kekayaan, malah juga bukan bangsawan intelek, yang saya maksud ialah bangsawan karakter, bangsawan kemauan dan bangsawan pikiran. Itulah yang membebaskan kita……..
    Bung Hatta adalah bangsawan karakter, bangsawan kemauan dan bangsawan pikiran. Beliau ingin para pemimpin Indonesia masa datang adalah bangsawan karakter, bangsawan kemauan dan bangsawan pikiran untuk merampungkan cita-cita nasional, Indonesia yang adil dan makmur.
  18. Des Alwi (sejarawan, diplomat, penulis, anak angkat Bung Hatta)
    Selama di Banda (masa pembuangan), Oom Hatta tidak pernah bergaul dengan orang-orang Belanda ataupun pegawai-pegawai pemerintah kolonial. Ia lebih senang bergaul dengan penduduk dan tokoh-tokoh kampung di Banda, seperti para tanase, atau para kepala nelayan. Oom Hatta sangat ramah terhadap penduduk. Oom Kacamata (Bung Hatta) selalu bersikap lembut dan tidak pernah memaki orang, walaupun ia jengkel dan marah bila menghadapi murid-murid yang bodoh. Oom Kacamata memiliki wibawa tinggi. Kaki dan suara murid-murid akan gemetar bila kedapatan angka merah di rapor sekolah.
    Ada kesan mendalam pada diri saya mengenai Oom Hatta. Oom Hatta adalah tokoh yang sama sekali tidak materialistis. Kepada saya, Oom Hatta selalu menekankan agar kita tidak boleh kejam terhadap manusia. Oom Hatta adalah tokoh yang dikenal jujur dan kokoh dalam prinsip. Ia adalah tokoh yang sangat dominan dalam diri saya, sehingga sayapun bertanya, apakah masih ada tokoh pengganti Bung Hatta, ataukah Oom Hatta adalah yang terakhir yang saya kenal di persada Indonesia pada masa sekarang ?
  19. Maskoen Soemadiredja (Pejuang, Pahlawan Nasional)
    Kedatangan Bung Hatta ke dalam arena politik di tanah air membawa cara perjuangan baru, ialah metode perjuangan rasional. Perjuangan tidak berdasarkan metode agitasi dan demonstrasi membangunkan semangat dan emosi rakyat, melainkan melalui dasar pendidikan politik, menanamkan pengertian dan kesadaran politik dan terutama membina mental/spiritual, membina watak dan menanamkan semangat percaya pada diri sendiri serta menanamkan rasa tanggung jawab.
    Bung Hatta memiliki pandangan jauh ke muka, yaitu bahwa perjuangan politik di tanah jajahan yang menuntut kemerdekaan tanah air, menuntut para pemimpinnya memiliki landasan keteguhan watak, sebab itu kader-kader harus dibina wataknya agar tahan uji dalam menghadapi macam-macam percobaan dalam perjalanan perjuangannya. Oleh karena itu politik di tanah jajahan, menurut Bung Hatta, lebih mengandung arti pendidikan. Pendidikan adalah senjata utama untuk mencapai kemerdekaan tanah air.
  20. Solichin Salam (wartawan, penulis)
    Bung Hatta dikenal sebagai seorang yang tekun dan taat, tidak saja kepada agama, melainkan juga terhadap segala peraturan dan perundang-undangan yang berlaku. Sekalipun kadang-kadang beliau pribadi tidak setuju terhadap sesuatu,….Bung Hatta tunduk dan menjalankan keputusan tersebut. Di sini tergambar jiwa Bung Hatta sebagai demokrat sejati. Dan setiap tugas yang dibebankan di atas pundak beliau akan dilaksanakan sebaik-baiknya tanpa memikirkan kepentingan pribadi. ….Apalagi menuntut sesuatu tanda balas jasa, tiada terdapat dalam kamus kehidupan Bung Hatta……Beliau tidak sedih atau meratap kalau jasanya tidak dihargai. Akan tetapi Bung Hatta merasa pedih dan sedih apabila nasib rakyat Indonesia semakin sengsara dan menderita hidupnya. Itulah jiwa manusia Hatta. Itulah tipe seorang Pemimpin rakyat sejati. Sayang Indonesia hanya memiliki seorang manusia seperti Bung Hatta ini. Mudah-mudahan generasi yang akan datang akan dapat banyak belajar dari sejarah hidup dan perjuangan Bung Hatta.
  21. I. Wangsa Widjaja (Sekretaris pribadi Bung Hatta)
    Dalam perjuangan, Bung Hatta tidak takut menghadapi percobaan, penangkapan dan pembuangan. Sebagai seorang demokrat tulen, beliau menghargai pendapat orang lain meskipun pendiriannya berlainan. Ucapan Bung Hatta tidak pernah mengandung perasaan benci kepada orang yang berlainan pendirian politiknya.
    Kalau Bung Hatta berbicara, beliau selamanya bercerita dalam Bahasa Indonesia yang bagus, kecuali dengan orang asing. Tulisan-tulisan beliau, pidato-pidato beliau tak pernah dicampuradukkan dengan bahasa asing, kecuali sepatah dua istilah asing yang belum ada terjemahannya dalam bahasa Indonesia.
    Bung Hatta juga sangat menghormati bendera Sang Saka Merah Putih. Beliau akan marah kalau melihat orang membawa bendera sembarangan atau dibiarkan jatuh ke tanah.
  22. Ny. Maria Ulfah Subadio (tokoh pembela perempuan, menteri)
    Kejujuran, kesederhanaan dan kesungguhan yang diperlukan seorang pemimpin, sangat menonjol pada Bung Hatta. Waktu mendengar Bung Hatta wafat, saya merasa kehilangan besar, suatu kekosongan. Tidak ada lagi seorang Tokoh yang berwibawa dan disegani ke mana kita dapat datang untuk mengemukakan dan membicarakan berbagai hal mengenai keadaan rakyat, bangsa dan negara kita. Bung Hatta selalu bersedia menerima dan mendengarkan teman-teman atau siapapun yang datang padanya. Sekarang Bung Hatta telah tiada, meninggalkan kita untuk selama-lamanya. Kita kehilangan seorang Bapak, seorang pejuang yang seluruh hidupnya diabdikan untuk kemerdekaan negara, dan bangsanya serta kesejahteraan rakyatnya.
  23. Suparman Sumahamijaya (pakar kewirausahaan dan kewiraswastaan)
    Pendapat orang banyak secara tulus setelah Bung Hatta pergi adalah sebagai berikut:
    Bung Hatta adalah negarawan besar; Bung Hatta adalah Pengawal Hati Nurani nasional Bangsa Indonesia; pengaruh Bung Hatta terhadap jalannya perjuangan terhadap kemerdekaan Indonesia adalah besar dan sangat menentukan; Bung Hatta tiada terpisahkan dari kepemimpinan nasional Dwitunggal Soekarno-Hatta; Bung Hatta adalah pendekar pendidikan; Bung Hatta adalah seorang sarjana yang hidup bersahaja; Bung Hatta pejuang yang tidak absen juga dalam Orde Baru; Bung Hatta sebagai pejuang Kedaulatan Rakyat; Bung Hatta sebagai pencetus usaha ekonomi bersama berdasarkan asas kekeluargaan; Bung Hatta sebagai Bapak Koperasi; Bung Hatta sebagai seorang kritikus yang berani karena yakin akan tanggung jawabnya; Bung Hatta adalah seorang Pancasilais yang saleh; Bung Hatta tak pernah terlibat dalam persoalan uang maupun wanita; Bung Hatta yang konsekuen anti-komunis maupun anti-kapitalis, liberal dan anti-individualisme. Yang paling utama dan sangat penting untuk diambil sebagai pelajaran dari kehidupannya adalah bahwa Bung Hatta adalah manusia yang sangat konsekuen dalam perjuangan dan upayanya untuk melindungi, mencerdaskan dan memajukan, terutama mereka yang termasuk lapisan rakyat kecil.
    Kita ditantang oleh pertanyaan: Mampukah kita menjadikan diri kita masing-masing sebagai manusia teladan sepanjang masa. Memang sungguh berat tanggung jawab setiap pemimpin dan oleh sebab itu hendaknya dia selalu waspada akan jeritan rakyat miskin yang masih terlalu banyak jumlahnya. Janganlah hanya ingin memetik kebesarannya saja tetapi hendaknya pula mau dan bertekad untuk melindungi, mencerdaskan dan memajukan terutama rakyat kecil.
    Masih adakah manusia teladan atau sudah gersangkah rahim bangsa ini……. setiap generasi patut mempersiapkan diri agar mampu mengemban tugas berikutnya yang mungkin jauh lebih berat lagi. Marilah kita lanjutkan perjuangan yang luhur dari semua manusia besar termasuk Bung Hatta dalam mewujudkan cita-cita bangsa membangun massyarakkat Pancasila yang adil dan makmur bebas dari kemiskinan dan pengangguran.

Bung Hatta yang tak Gila Harta

Saat disodorkan amplop berisi uang perjalanan dinas, Hatta menolak: itu uang rakyat!
Jumat , 26 Jun 2020, 05:31 WIB

Wikipedia
Wakil Presiden pertama RI, Mohammad Hatta. Bung Hatta selalu menolak uang yang bukan haknya.
Red: Karta Raharja Ucu
REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Karta Raharja Ucu
Kisah kejujuran Mohammad Hatta mungkin bagi pejabat di Indonesia adalah sebuah legenda. Bung Hatta, yang pernah menduduki jabatan sangat penting di republik ini, adalah sosok pria yang dikenal sederhana dan tak gila harta. Bahkan, biaya perjalanan dinasnya pun ia kembalikan ke negara ketika mengetahui ada kelebihan uang saku.

Cerita berawal dari tuturan I Wangsa Widjaja, sekretaris pribadi sang wakil presiden. Dalam buku yang ditulisnya berjudul Mengenang Bung Hatta, Wangsa, pria yang puluhan tahun mendampingi Bung Hatta, merawikan jika bosnya selalu mengembalikan kelebihan uang negara yang diberikan sebagai anggaran perjalanan dinas.

Pada 1970, ketika sudah tidak lagi menjadi wapres, Bung Hatta diundang ke Irian Jaya–sekarang bernama Papua. Sebagai catatan, Irian adalah akronim dari Ikut Republik Indonesia Anti Nederland yang diberikan pahlawan nasional asal Papua, Frans Kaisiepo. Namun, nama Irian diubah kembali menjadi Papua oleh Gus Dur saat masih menjadi presiden. (Kisah ini akan saya ceritakan nanti)

Kembali ke Papua, eh Bung Hatta. Saat diundang ke Irian Jaya, Bung Hatta juga meninjau tempat ia pernah dibuang pada masa kolonial Belanda. Drama pun terjadi ketika Bung Hatta disodori amplop berisi “uang saku” setelah ia dan rombongan tiba di Irian. “Surat apa ini?” tanya Bung Hatta.

Dijawab oleh Sumarno, menteri koordinator keuangan saat itu yang mengatur kunjungannya, “Bukan surat, Bung. Uang, uang saku untuk perjalanan Bung Hatta di sini.”

“Uang apa lagi? Bukankah semua ongkos perjalanan saya sudah ditanggung pemerintah? Dapat mengunjungi daerah Irian ini saja saya sudah harus bersyukur. Saya benar-benar tidak mengerti uang apa lagi ini?”

“Lho, Bung… ini uang dari pemerintah, termasuk dalam biaya perjalanan Bung Hatta dan rombongan,” kata Sumarno coba meyakinkan Bung Hatta.

“Tidak, itu uang rakyat. Saya tidak mau terima. Kembalikan,” kata Bung Hatta menolak amplop yang disodorkan kepadanya.

Rupanya Sumarno ingin meyakinkan Bung Hatta bahwa dia dan semua rombongan ke Irian dianggap sebagai pejabat. Menurut kebiasaan, pejabat diberi anggaran perjalanan, termasuk uang saku. Tidak mungkin dikembalikan lagi.

Setelah terdiam sebentar Bung Hatta berkata, “Maaf, Saudara, saya tidak mau menerima uang itu. Sekali lagi saya tegaskan, bagaimanapun itu uang rakyat, harus dikembalikan pada rakyat.”

Kemudian, ketika mengunjungi Tanah Merah tempat ia diasingkan, setelah memberikan wejangan kepada masyarakat Digbul, ia memanggil Sumarno. “Amplop yang berisi uang tempo hari apa masih Saudara simpan?” tanya Bung Hatta. Dijawab, “Masih Bung.”

Lalu, oleh Bung Hatta amplop dan seluruh isinya diserahkan kepada pemuka masyarakat di Digul. “Ini uang berasal dari rakyat dan telah kembali ke tangan rakyat,” kata Bung Hatta menegaskan.

Cerita Bung Hatta menolak menerima uang lebih berlanjut satu tahun setelahnya, tepatnya pada 1971 ketika ia pergi berobat ke Belanda. Saat tiba di Indonesia, Bung Hatta bertanya kepada Wangsa tentang catatan penerimaan dan pemakaian uang selama perjalanan. Ketika mengetahui ada sisa uang, ia memerintahkan Wangsa mengembalikan kepada negara dan mengucapkan terima kasih kepada presiden.

Wangsa pun bergegas mengembalikan uang ke Sekretariat Negara. Namun, Wangsa malah dijadikan bahan tertawaan di sana. Alasannya, uang yang sudah dikeluarkan dianggap sah menjadi orang yang dibiayai. Apalagi, yang dibiayai adalah mantan wakil presiden yang ditanggung negara.

Saat itu Wangsa pusing tujuh keliling. Ia menjelasan kepada Bung Hatta jika sisa uang perjalanan dinas adalah uang saku tambahan. Namun, Bung Hatta menegur Wangsa dengan keras. “Kebutuhan rombongan dan saya sudah tercukupi, jadi harus dikembalikan, dan kalau masih ada sisanya itu wajib dikembalikan.”

Wangsa menyebut, saat itu tidak ada terlintas dalam kepala Bung Hatta memanfaatkan uang dari negara untuk kepentingan pribadi. Padahal, saat itu ekonomi Bung Hatta morat-marit. Bung Hatta, kata Wangsa, selalu melihat uang dari negara adalah uang rakyat.

Singkat cerita, Wangsa pun berhasil mengembalikan uang kepada Sekneg sembari membawa bukti penyerahan. Setelah itu, Bung Hatta puas.

https://www.google.com/amp/s/m.republika.co.id/amp/qchuts282

Mengikuti Diskusi Nasional Tentang Masa depan Koperasi Indonesia Sekedar Catatan

Malam itu Jumat Tgl 15 Mei 2020, kebetulan saya membuka Wag YPBH dan membaca Undangan yang dikirim Ibu Gemala. Meski sedikit terlambat saya mengikuti Diskusi yang diselenggarakan via zoom oleh Jaringan Nasional membahas tentang masa depan Koperasi Indonesia itu dengan cermat.


Dari uraian pembicara saya merasakan pertanyaan yang relatif sama sejak zaman pak Harto, yaitu : Mengapa Koperasi kita tidak semaju Koperasi di Amerika atau Eropa dan Negara yang berlabel Kapitalis lainnya ? Data data menunjukkan bahwa meskipun jumlah Koperasi Indonesia sangat banyak bahkan terbanyak di dunia, namun sumbangannya terhadap PDB sangatlah kecil. Sangat jauh bisa dibanding dengan di Negara Scandinavia dimana Koperasi mengambil porsi sekitar 30% dari perekonomian Negara.


Padahal konstitusi kita menyatakan bahwa Koperasi adalah sokoguru ekonomi. Padahal kita punya Menteri Koperasi. Padahal kita punya Undang Undang Koperasi. Sementara di Negara maju tidak ada. Mungkin seloroh Menteri Perdagangan Era Orde Baru Radius Prawiro ketika melakukan study banding ke Negara Scandinavia bersama Menteri Koperasi Bustanil Arifin untuk mempelajari bagaimana memajukan Koperasi di Indonesia perlu kita simak dengan serius. Kata beliau “Koperasi di Scandinavia sangat maju karena disana tidak ada Menteri Koperasi dan tidak ada undang undang Koperasi !!”
Dalam Seminar Internasional tentang Koperasi di Padang tahun 2017 yang lalu, saya menyampaikan teori bahwa Sejarah Koperasi di Indonesia sangat berbeda dengan di Negara maju. Di Negara maju Koperasi berkembang secara bottom up berawal dari perjuangan kaum buruh yang tertindas di fase awal industrialisasi. Koperasi identik dengan semangat perlawanan. Bukan hanya jargon akan tetapi benar benar menjadi wadah yang sangat dirasakan manfaatnya, sehingga menjadi tangguh dan kuat. Koperasi benar benar mampu bersaing dengan kapitalis modal besar. Disana Koperasi tidak perlu dibantu, tidak perlu dilindungi dengan undang undang. Bahkan disana haram hukumnya untuk menerima bantuan atau charity karena diyakini akan memperlemah Koperasi itu sendiri.


Di Indonesia Koperasi adalah kebijakan Pemerintah yang bersifat Top Down dalam rangka meningkatkan kwalitas hidup masyarakat bawah. Koperasi adalah kegiatan charity, belas kasihan sehingga menghadirkan wajah Koperasi yang lemah. Koperasi disandingkan dengan UMKM yang informal dan berskala kecil. Sehingga muncul mind set bahwa Koperasi adalah sesuatu yang lemah, perlu dibantu dan bahkan seolah tidak legal. Memang mustahil untuk membalik sejarah guna mengikuti seperti perkembangan Koperasi di Negara maju karena memang sejarahnya berbeda.


Singkatnya kita tidak bisa belajar dari Negara maju untuk mengembangkan Koperasi dan harus mencari model sendiri. Model itu memerlukan visi politik ekonomi pemimpin Negara yang kuat.
Saya agak setuju dengan pemikiran P Suroto bahwa untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat melalui Koperasi dengan kata lain menegakkan ekonomi sebagaimana konstitusi diperlukan langkah radikal. Contoh kongkritnya misalnya menjadikan BUMN yang customernya adalah rakyat misal PLN berbentuk Koperasi dengan anggota seluruh pelanggannya yaitu rakyat. Ini sangat mungkin karena di Amerika bahkan hal ini sudah berjalan. Di beberapa wilayah di Amerika penyedia listrik adalah Koperasi dimana pelanggan adalah anggotanya. Misinya bukan mencari keuntungan akan tetapi menyedikan listrik yang semurah murahnya kepada anggota. Demikian pula dengan Telkom, sudah sewajarkan usaha ini berbentuk Koperasi yang beranggotakan pelanggannya.

Namun untuk mewujudkan hal ini tentu tidaklah mudah, diperlukan visi politik ekonomi pimpinan tertinggi yang kuat. Reformasi memang menyehatkan Demokrasi dan kebebasan berpendapat, namun terkait dengan policy ekonomi sepertinya tak berubah, yaitu memberi keleluasaan pada investor untuk membangun industrinya dengan harapan kesejahteraan akan menetes ke bawah. Kenyataannya kesenjangan saat ini justru makin menganga. Rakyat diupayakan meningkat kesejahteraannya dengan membina UMKM dan Koperasi. Namun kalau sebagian besar lahan sudah dimakan oleh modal besar, untuk rakyat hanya tersisa sedikit saja. Contoh di depan mata adalah industry retail atau mart yang seharusnya dikuasai oleh usaha kecil yang banyak dan bersinergi dalam wadah Koperasi justru dikuasai oleh satu pemodal besar.
Konsep ekonomi Bung Hatta sebetulnya sangat sederhana dan jelas yaitu : kekayaan alam dikuasasi Negara untuk kemakmuran rakyat, Koperasi menjadi sokoguru ekonomi dan …. awasi sector swasta (modal besar). Ketiga prinsip ini sepertinya tidak diindahkan lagi. Swasta dibiarkan menggurita dan mengambil lahan yang seharusnya menjadi hak dan memberdayakan rakyat (contoh bisnis retail). Kekayaan alam dikelola modal asing tanpa batas waktu (contoh Undang Undang Minerba yang baru disahkan) dan Koperasi terlemahkan.


Diskusi juga membahas tentang ketentuan ketentuan pembentukan Koperasi yang dirasa menyulitkan. Ada juga yang mengeluhkan kurangnya pemahaman masyarakat bahwa Koperasi adalah tempat meminjam uang bahkan identic dengan rentenir. Bisa jadi ada rentenir yang mengaku sebagai Koperasi. Rumitnya ,mengurus ijin Koperasi ini mungkin dimaksudkan untuk menyaring agar Koperasi yang benar benar serius yang mendapat ijin mengingat banyaknya koperasi papan nama di masa lalu yang dibentuk hanya dalam rangka untuk menerima bantuan dari pemerintah padahal tidak ada aktivitasnya.
Menurut saya masalah formalitas jangan menjadi kendala untuk berkoperasi. Koperasi secara factual seharusnya bisa berjalan tanpa stempel, ijin dll sepanjang fungsi dan perannya dirasakan anggota.


Cukup dibuat aturan bersama atau AD/ART sederhana yang disepakati dan dijalankan oleh pengurus bersama anggota. Apabila sudah dirasakan manfaatnya dan diperlukan administrasi untuk mengembangkan usaha, barulah Dinas Koperasi memberi bimbingan berdasarkan persyaratan yang ditetapkan.
Kembali ke masalah visi politik ekonomi pemimpin bangsa. Seharusnya kita bisa berharap pada Pak Jokowi karena beliau didukung oleh PDIP yang merupakan partainya wong cilik. Kita juga seharusnya bisa berharap pada pak Prabowo, karena beliau adalah putra Bapak Sumitro tokoh Sosialis yang juga pernah ditunjuk Pak Harto untuk membenahi Koperasi Indonesia. Saya yalin kedua sosok itu bersedia mendengar dan menerima input untuk kepentingan rakyat kecil. Pak Suroto menawarkan diri untuk membentuk Partai yang pro Koperasi, namun rasanya butuh waktu yang panjang.


Namun perubahan tidak harus bersifat revolusioner, bisa juga diupayakan secara perlahan. Cukup banyak hal yang bisa diefektifkan melalui Koperasi. Ada dua prinsip Koperasi sebagaimana digagas Bung Hatta yang perlu selalu dijaga. Yaitu prinsip kerjasama atau kekeluargaan dan prinsip kemandirian. Kerjasama artinya ada sinergi dan saling membantu atau membutuhkan. Sedang mandiri artinya tidak tergantung pada siapapun termasuk Pemerintah. Peran Pemerintah adalah menemukan simpul simpul sinergi pada ekonomi rakyat dan mendorong terbentuknya Koperasi agar berjalan diatas kaki sendiri dan terus berkembang. Pemerintah dengan kekuasaannya juga diharapkan memutus gurita yaitu sector swasta modal besar yang mengambil potensi rakyat kecil.
Kebun kelapa sawit kita saat ini dikuasasi oleh segelintir konglomerat yang menggunakan lahan raturan jutaan hektar yang seharusnya merupakan hak rakyat. Memang ada aturan yang mewajibkan Pekebun besar membangunkan kebun plasma untuk rakyat minimal sebesar 20% dari total luas lahan. Seharusnya hal ini diperjuangkan untuk ditingkatkan menjadi 50% atau bahkan 80%.


Selain itu , mendorong petani sawit mandiri agar bersama sama melalui Koperasi memiliki pabrik CPO sendiri merupakan hal yang sangat pantas dan sangat mungkin dilakukan dengan meningkatkan kapabilitas petani kita. Hal ini mengingat keuntungan kebun sawit itu terutama justru pada pabrik CPOnya. Apalagi produknya yang antara lain adalah minyak goreng, konsumennya sebagain besar adalah rakyat kecil. Demikianpun produk turunannya seperti biodiesel yang sedang digalakkan.


Kementrian Koperasi bisa minta bantuan atau berkolaborasi dengan Kementrian BUMN sebagai pemilik PTPN yang menguasai teknologi sawit untuk mengupayakan hal tersebut. Bukankah salah satu misi BUMN adalah sebagai agent of development ? Demikian sekedar masukan aplikatif.


Salam Koperasi !!!

Jakarta, 21 Mei 2020
Ezrinal Azis (Yayasan Proklamator Bung Hatta)

Pokok Pemikiran Bung Hatta, Bapak Perumahan Indonesia

10/09/2019

Drs. Muhammad Hatta. LIFE

Mohammad Hatta atau Bung Hatta, selain dikenal sebagai Bapak Proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) dan Bapak Koperasi, kini juga dikenal sebagai salah satu tokoh penting yang sangat concern pada masalah perumahan.
Namun, pemikiran Bung Hatta mengenai permasalahan perumahan hanya diketahui secara terbatas oleh kalangan tertentu saja, khususnya mereka yang bergelut di bidang perumahan dan permukiman.

Pemikiran Wakil Presiden RI pertama itu mengenai bidang perumahan tentu dapat ditangkap dengan baik ketika Bung Hatta menyampaikan pemikirannya melalui pidato pada Kongres Perumahan Rakyat Sehat di Bandung, Jawa Barat yang berlangsung pada tanggal 25-30 Agustus 1950.
Kongres tersebut dihadiri oleh peserta dari 63 kabupaten dan kotapraja, empat provinsi, wakil dari Jawatan Pekerjaan Umum, utusan organisasi pemuda, Barisan Tani, pengurus parindra, dan tokoh perseorangan lain.

Ada beberapa masalah yang dipaparkan Pada Kongres tersebut terkait dengan permasalahan perumahan yang menyangkut bahan pembangunan rumah rakyat, bentuk perumahan, sanitasi perumahan sampai menyangkut peraturan dan persediaan tanah perumahan.

Akhirnya, Kongres tersebut menghasilkan beberapa usulan mengenai harus didirikannya perusahaan pembangunan perumahan di daerah, penetapan syarat-syarat minimal bagi pembangunan perumahan, dan pembentukan badan yang menangani perumahan.

Ada pun pemikiran Bung Hatta terkait perumahan yang disampaikan dalam sambutannya pada kongres tersebut dapat dilihat dari kutipan sambutannya yang berbunyi:

“…cita-cita untuk terselenggaranya kebutuhan perumahan rakyat bukan mustahil apabila kita sungguh-sungguh mau dengan penuh kepercayaan, semua pasti bisa …”

Pemikiran Bung Hatta tersebut menegaskan bahwa rakyat berhak untuk mendapatkan perumahan dan itu dapat terwujud dengan baik apabila ada itikad dari semua pihak untuk dapat mewujudkannya.

Pemikiran Bung Hatta itu juga selaras dengan amanat Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 yang tercantum dalam pasal 28H ayat (1) yang berbunyi “Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan”.

Berdasarkan Amanat UUD 1945 ini, maka pemerintah berkewajiban untuk membantu memenuhi kebutuhan rumah yang layak huni bagi masyarakat, karena rumah merupakan hak dasar bagi setiap orang.

Pemikiran Bung Hatta dan amanat konstitusi tersebut pun menjadi landasan pemerintah dalam menetapkan lahirnya Hari Perumahan Nasional (Hapernas) pada tanggal 25 Agustus 2015.

Hal ini sebagai salah satu bukti keseriusan pemerintah yang didukung oleh seluruh pemangku kepentingan bidang perumahan untuk menjalankan amanat konstitusi dalam membantu masyarakat, khususnya Masyarakat Berpenghasilan Rendah untuk mendapatkan rumah layak huni.

Smber :
https://proklamator.id/pokok-pemikiran-bung-hatta-bapak-perumahan-indonesia/