Bung Hatta dalam Perbincangan

Prof Dr Maizar Rahman, sebagai Ketua Umum Yayasan Proklamator Bung Hatta, Selasa, 18 September 2018 mengundang saya ke Sekretariat Yayasan untuk berbincang-bincang tentang Proklamator Bung Hatta.

Sudah tentu undangan ini saya sambut dengan gembira, karena selain keturunan Minangkabau, disusunan pengurus terdapat nama-nama sebagai nara sumber, di antaranya Dr Mochtar Naim, Brigjen TNI Purn Dr Saafroedin Bahar yang baru saja mendahului kita, juga sebagai Pembina Yayasan, Prof Jend Pol Purn Awaluddin Djamin.

Read more

Bapak Prof. Dr. Emil Salim dalam Rapat BINEKSOS

Penjelasan Bapak Prof Dr Emil Salim dalam rapat BINEKSOS
Hotel Aloft, Jakarta, 31 Agustus 2018

Tugas mulia dwitunggal saling melengkapi, antara lain Bung Karno di dalam negeri, dan Bung Hatta di luar negeri, Bung Karno (BK) minta Bung Hatta (BH) membuat draft proklamasi, BK bapak Pancasila, ideologi negara, BH pengisi substansinya dalam dasar negara, yaitu UUD 45, disinilah pertemuan atau menyatu konsep BK dan BH.

Secara pribadi, hubungan semangat kekeluargaan BK dan BH tetap utuh dalam kondisi bagaimanapun. Adalah BH yang menyurati pak Harto agar perawatan BK diperbaiki waktu BK sakit. BH diminta jadi wali waktu Guntur menikah, dan BK yang mempertemukan BH dengan calon isterinya. Jadi janganlah dipertentangkan antara BK dan BH.

Read more

Koperasi Kopi Solok Radjo Pasarkan Hasil Panen ke Luar Negeri

Cara untuk melakukan pengembangan, dibentuklah sebuah koperasi dengan nama Produsen Solok Radjo melalui ide Alfadriansyah yang merupakan putra asli daerah. Berdiri sejak 2013 lalu, banyak hal yang telah dilakukan oleh penggagas bersama rekan-rekannya.

Ia menyebutkan Solok Radjo merupakan organisasi agribisnis yang fokus pada pengembangan kopi arabika di Sumatera Barat. Organisasit tersebut terdiri dari kumpulan petani, penyuluh, pedagang dan pengamat yang mempunyai satu visi yaitu pengembangan dengan orientasi pertanian berkelanjutan.

Read more

Kibarkan Sang Saka Merah Putih

Dalam rangka perayaan Hari Kemerdekaan ke 73 Republik Indonesia, seluruh warga Negara Republik Indonesia ikut aktif merayakannya dengan berbagai cara dan terutama memasang mengibarkan bendera sang saka merah putih disetiap rumah penduduk.

Bagi warga negara yang bermukim di apartemen-apartemen sekarang sudah bisa ikut memasang bendera sang saka merah putih untuk merayakan hari kemerdekaan pada masing-masing hunian unit apartemen yang ditempatinya, dengan cara menempelkan bendera merah putih disetiap balkon.

Dengan menempelkan bendera pada setiap unit balkon, akan terlihat meriah dan indahnya tower apartemen dalam memeriahkan hari kemerdekaan Republik Indonesia.

Kami dari Yayasan Proklamator Bung Hatta mengajak bekerja sama dengan manajeman apartemen, untuk peduli akan semangat kemerdekaan bagi warga negara yang bermukim dalam apartemen, menghimbau kepada manajemen apartemen untuk menfasilitasi penghuninya mendapatkan bendera yang dimaksud agar bisa ikut serta memeriahkan peringatan hari kemerdekaan kita, dengan cara memasang bendera merah putih pada balkon masing-masing. Read more

Intelektual Bung Hatta dan Semangat Jiwa Mudanya

Hatta muda saat mengetuai rapat anti kolonial di Brussel, Belgia 1927

Apa yang terpikirkan ketika mendengar nama Mohammad Hatta, atau Mohammad Athar, alias Bung Hatta?

Banyak orang mungkin akan mengatakan bahwa ia adalah sosok wakil presiden yang juga berperan besar dalam kemerdekaan negeri tercinta ini. Iya, benar dan tepat sekali. Namun, selain itu ada banyak hal menarik tentang Bung Hatta.

Sama seperti Bung Karno, Mohammad Hatta juga memiliki deretan kisah hebat. Ada banyak sekali prestasi tokoh nasional satu ini. Satu diantaranya ialah tentang intelektual dan jiwa mudanya.

Bung Hatta menempuh studi di Belanda, ini menjadi awal mula dari perkembangan intelektual Hatta yang sangat pesat, sekaligus membuka mata Hatta untuk memenuhi panggilan dirinya dalam memperjuangkan hak kemerdekaan Hindia Belanda (Indonesia).

Read more

Bung Hatta Dan Strategi Industrialisasi

Sekarang ini banyak orang, termasuk ekonom, mempercayai bahwa Indonesia sudah berada di ambang deindustrialisasi. Gejala ini mulai nampak sejak tahun 2004 lalu. Namun, pemerintah menganggap enteng fenomena itu. Bahkan, pemerintah berulang-kali berupaya menepisnya.

Belakangan, gejala deindustrialisasi itu makin tampak. Didik J. Rachbini, ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), menyebut tiga indikator deindustrialisasi saat ini, yakni semakin rendahnya kontribusi industri terhadap perekonomian, menurunnya ekspor, dan rendahnya penyerapan tenaga kerja di sektor industri.

Dalam kurun waktu tahun 1987 hingga 1996, pertumbuhan industri mencapai rata-rata sebesar 12% per tahun. Namun, sejak kurun waktu antara tahun 2000 hingga tahun 2008, sektor industri hanya tumbuh rata-rata 5,7%. Bahkan, pada tahun 2008 dan 2009, industri hanya tumbuh di bawah 4%.

Apa penyebabnya?

Read more

Sawit dan Keadilan Sosial

Kita patut bersyukur karena bumi khatulistiwa adalah lahan yang paling cocok untuk kebun sawit yang bernilai tinggi antara lain karena iklim dan curah hujan yang memadahi. Rencana larangan penggunaan crude palm oil (CPO) di Uni Eropa makin menegaskan keunggulan CPO dalam hal efisiensi dan produktivitas dibanding minyak nabati lain sehingga peredarannya perlu ditangkal antara lain dengan menggunakan isu lingkungan dan isu sosial.

Tentu kita patut menghargai upaya Pemerintah untuk meloby berbagai pihak agar membatalkan rencana pelarangan tersebut. Tapi yang perlu dipikirkan secara jangka panjang adalah mengurangi ketergantungan pada pasar ekspor melalui hilirisasi CPO.

Read more

Dan Bung Hatta pun Mulai Tersenyum …

Selama ini cukup jamak kita mendengar di Media Sosial maupun Media Massa ungkapan keprihatikan terhadap dominasi investasi asing atas pengelolaan kekayaan alam kita, khususnya di sektor Migas dan pertambangan. Nama nama asing seperti Total, Chevron, Freeport dan lain lain oleh sebagian masyarakat yang cukup kritis digambarkan telah membuat Bung Hatta menangis.  Pasalnya karena setiap detik mereka telah menyedot kekayaan alam kita seperti  gas, minyak, emas,nikel,tembaga dll dan menimbun keuntungan milyaran dollar yang lari ke luar negeri. Situasi ini tentu saja bertotak belakang dengan VISI Bung Hatta.

Sebagaimana difahami bersama pasal 33 Undang Undang Dasar 1945 mengamanatkan agar seluruh kekayaan yang terkandung dalam bumi Indonesia dikuasai oleh Negara dan digunakan sebesar besarnya untuk memakmurkan rakyat. Pasal ini adalah warisan Bung Hatta dan merupakan kristalisasi dari perenungan sekaligus visi beliau yang dengan sepenuh jiwa senantiasa memikirkan nasib rakyatnya  kini dan esok.

Read more