Sutan Sjahrir: Masa Muda, Kiprah, Penculikan, dan Akhir Hidup

Maria Duchateau saat tiba di Bandara Schipol, Belanda (kiri) dan Sutan Sjahrir (kanan).
Maria Duchateau saat tiba di Bandara Schipol, Belanda (kiri) dan Sutan Sjahrir (kanan).(geheugenvannederland.nl/Wikipedia)

Sutan Sjahrir adalah seorang pemimpin dan perdana menteri kemerdekaan revolusioner Indonesia. Ia digambarkan sebagai seorang intelektual Indonesia yang idealis. Sutan Sjahrir menjadi perdana menteri Indonesia pertama pada 1945, setelah berkarier sebagai penyelenggara utama nasionalis Indonesia tahun 1930-an dan 1940-an. Dari situ, Sjahrir mulai bekerja keras sebagai Perdana Menteri untuk memastikan Indonesia memenuhi namanya.  Ia dianggap sebagai seorang intelektual karena Sjahrir lebih mementingkan kepentingan bersama daripada kepentingan politiknya. Sjahrir mengutamakan negaranya di atas kebutuhannya sendiri.

Awal Hidup

Sutan Sjahrir lahir di Padang Panjang, Sumatera Barat pada 5 Maret 1909.  Sjahrir merupakan putra dari pasangan Mohammad Rasad gelar Maharaja Soetan bin Soetan Leman gelar Soetan Palindih dan Puti Siti Rabiah.  Sang ayah menjabat sebagai penasehat Sultan Deli dan kepala jaksa (landraad) di Medan.  Pada awal 1926, Sutan Sjahrir menyelesaikan pendidikannya di MULO ( Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) atau Sekolah Menengah Pertama pada zaman kolonial Belanda.  Setelah itu, ia ke sekolah lanjutan atas (AMS) di Bandung. AMS menjadi sekolah termahal pada waktu itu di Hindia Belanda.  Di AMS, Sjahrir bergabung dalam Himpunan Teater Mahasiswa Indonesia (Batovis) sebagai sutradara, penulis skenario, dan aktor.  Setiap hasil pementasan digunakan Sjahrir untuk membiayai sekolah yang ia dirikan, Tjahja Volksuniversiteit atau Cahaya Universitas Rakyat.  Di kalangan sekolah AMS, Sjahrir menjadi seorang bintang.  Ia menjadi murid yang aktif dalam klub debat di sekolahnya.  Sjahrir juga terjun dalam aksi pendidikan melek huruf secara gratis untuk anak-anak dari keluarga yang tidak mampu dalam Tjahja Volksuniversiteit.  Pada 20 Februari 1927, Sjahrir masuk dalam sepuluh orang penggagas pendirian himpunan pemuda nasionalis, Jong Indonesië.  Perhimpunan ini kemudian berubah nama menjadi Pemuda Indonesia. Pemuda Indonesia menyelenggarakan Kongres Pemuda Indonesia, kongres monumental yang mencetus Sumpah Pemuda 1928.

Pengasingan 

Pada 1929, Sjahrir sampai di Belanda untuk melanjutkan pendidikannya di Universitas Amsterdam. Kemudian, ia menjadi mahasiswa hukum di Universitas Leiden. Sutan Sjahrir sempat menjadi sekretaris Perhimpunan Indonesia, sebuah organisasi pelajar Indonesia di Belanda.  Sjahrir juga menjadi salah satu pendiri Jong Indonesia, sebuah perkumpulan pemuda Indonesia untuk membantu perkembangan pemuda Indonesia untuk generasi berikutnya. Selama aktivitas politiknya sebagai mahasiswa di Belanda, Sjahrir menjadi lebih dekat dengan aktivis kemerdekaan, Mohammad Hatta. Pada 1931, Sjahrir kembali ke Indonesia. Sekembalinya Sjahrir ke Indonesia, ia bergabung ke dalam organisasi Partai Nasional Indonesia (PNI Baru) pada Juni 1932 yang kemudian diketuainya.  Pada 1932, Mohammad Hatta yang juga telah kembali ke Indonesia, turut memimpin PNI Baru.  Bersama dengan Hatta, Sjahrir mengemudikan PNI Baru sebagai organisasi pencetak para kader pergerakan.  Karena merasa takut akan potensi revolusioner PNI Baru, pada Februari 1934, pemerintah Belanda menangkap dan mengasingkan Sjahrir beserta Hatta. Mereka menghabiskan masa pembuangan selama enam tahun di Banda Neira, Kepulauan Banda.

Proklamasi Indonesia

Pada masa pendudukan Jepang, Sjahrir membangun jaringan gerakan bawah tanah anti-fasis (gerakan radikal ideologi nasional).  Sjahrir meyakini bahwa Jepang tidak akan memenangkan perang.  Oleh karena itu, kaum pergerakan harus mempersiapkan diri untuk merebut kemerdekaan di waktu yang tepat.  Saat itu, Sutan Sjahrir mengetahui perkembangan Perang Dunia secara sembunyi-sembunyi dengan mendengarkan berita dari stasiun radio luar negeri.  Berita ini kemudian disampaikan Sjahrir kepada Moh. Hatta.  Sjahrir yang didukung dengan para pemuda lain mendesak Soekarno dan Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 15 Agustus, karena Jepang sudah menyerah tanpa syarat kepada Sekutu.  Soekarno dan Hatta yang belum mendengar berita menyerahnya Jepang pun tidak melakukan apa-apa.  Mereka menunggu keterangan dari pihak Jepang. Proklamasi juga harus dilakukan sesuai prosedur lewat keputusan Panita Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), bentukan Jepang.  Rencana PPKI, kemerdekaan Indonesia akan diproklamasikan pada 24 September 1945.  Tindakan yang dilakukan oleh Soekarno dan Hatta ini membuat para pemuda merasa kecewa.  Sebab itu, agar Soekarno dan Hatta tidak terpengaruh oleh Jepang, Sjahrir bersama para pemuda lain menculik Soekarno dan Hatta pada 16 Agustus 1945. Mereka diasingkan ke Rengasdengklok. Setelah didesak oleh para pemuda, Soekarno dan Hatta pun setuju untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, yaitu pada 17 Agustus 1945.  Baca juga: Tan Malaka: Masa Muda, Perjuangan, Peran, dan Akhir Hidupnya.

Penculikan Soekarno dan Hatta

Pada 26 Juni 1946, setelah Sjahrir menjadi Perdana Menteri Indonesia, ia diculik oleh oposisi Persatuan Perjuangan yang tidak puas atas diplomasi yang dilakukan Kabinet Sjahrir II.  Peristiwa ini terjadi di Surakarta. Diplomasi Sutan Sjahrir dianggap sangat merugikan perjuangan bangsa Indonesia pada saat itu.  Kelompok ini ingin mendapat pengakuan kedaulatan penuh yang dicetuskan oleh Tan Malaka.  Sedangkan Kabinet Sjahrir II hanya menuntut pengakuan atas Jawa dan Madura.  Perdana Menteri Sjahrir ditahan di suatu rumah peristirahatan di Paras. Ia diculik oleh kelompok Persatuan Perjuangan yang dipimpin oleh Mayor Jenderal Soedarsono dan 14 pimpinan sipil.  Salah satu di antara mereka adalah Tan Malaka.  Presiden Soekarno yang mendengar kabar penculikan ini merasa sangat marah.  Ia memerintahkan Polisi Surakarta untuk menangkap para pimpinan tersebut.  Pada 1 Juli 1946, ke-14 pimpinan berhasil ditangkap dan dijebloskan ke penjara Wirogunan.  Sehari kemudian, 2 Juli 1946, tentara Divisi 3 dipimpin Mayor Jenderal Soedarsono menyerang Wirogunan dan membebaskan ke-14 pimpinan yang ditahan.  Pada 3 Juli 1946, Mayjen Soedarsono dan pimpinan pemberontak berhasil dilucuti senjata dan ditangkap di dekat Istana Presiden di Yogyakarta.

Diplomasi

Setelah tragedi penculikan, Sjahrir hanya bertugas menjadi Menteri Luar Negeri.  Tugas Perdana Menteri pun diambil alih Presiden Soekarno.  Namun, pada 2 Oktober 1946, Soekarno kembali menunjuk Sjahrir untuk menjadi Perdana Menteri agar dapat melanjutkan Perundingan Linggarjati.  Perundingan ini kemudian berhasil ditandatangani pada 15 November 1946.  Agar Republik Indonesia tidak runtuh, Sjahrir menjalankan siasatnya.  Sebagai ketua Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP KNIP), ia menjadi pencetus perubahan Kabinet Presidensil menjadi Kabinet Parlementer.  Kabinet Parlementer bertanggung jawab kepada KNIP sebagai lembaga yang punya fungsi legislatif.  RI sendiri juga menganut sistem multipartai.  Kepada massa rakyat, Sutan Sjahrir selalu menyerukan nilai-nilai kemanusiaan dan anti kekerasan.  Dengan siasat-siasat tersebut, Sjahrir berusaha menunjukkan ke dunia intenrasional bahwa revolusi Republik Indonesia adalah perjuangan suatu bangsa yang beradab dan demokratis. Belanda kerap melakukan propaganda bahwa orang-orang di Indonesia merupakan gerombolan yang brutal, suka membunuh, merampok, dan lainnya.  Untuk mematahkan propaganda tersebut, Sjahrir menginisiasi penyelenggaraan pameran kesenian yang kemudian diliput dan dipublikasikan oleh para wartawan luar negeri.

Akhir Hidup

Tahun 1955, Partai Sosialis Indonesia gagal mendapat suara banyak dalam pemilihan umum pertama di Indonesia.  Tahun 1962 sampai 1965, Sjahrir ditangkap dan dipenjarakan tanpa diadili sampai mengalami stroke.  Sutan Sjahrir ditangkap karena partai yang ia dirikan, Partai Sosialis Indonesia diduga telah terlibat dalam pemberontakan PRRI.  Setelah itu, Sjahrir diizinkan untuk berobat ke Zürich Swiss. Sjahrir meninggal di Swiss pada 9 April 1956.  Di tanggal yang sama, melalui Keppres Nomor 76 Tahun 1966, Sutan Sjahrir dikukuhkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia. 

Sumber :

https://www.kompas.com/stori/read/2021/06/22/080000479/sutan-sjahrir–masa-muda-kiprah-penculikan-dan-akhir-hidup?page=all#page2

Penulis Verelladevanka Adryamarthanino | Editor Nibras Nada Nailufar

Kompas.com – 22/06/2021, 08:00 WIB

Filsafat Kerakyatan Bung Hatta

Jaya Suprana Show- Prof.Dr. Meutia Hatta Swasono- Filsafat Kerakyatan Bung Hatta

“Diantara sekian banyak negarawan dunia, jadi bukan hanya indonesia tetapi dunia. Yang paling saya kagumi dan paling saya hormati adalah Bung Hatta karena saya memang belum pernah, belum sempat berbincang-bincang langsung dengan beliau tetapi dari kejauhan saya senantiasa mengagumi Bung Hatta. Terutama mengenai filsafat kerakyatan Bung Hatta yang Saya kira tidak ada duanya di planet bumi ini, saya kira yang paling berhak untuk bicara tentang filsafat kerakyatan Bung Hatta adalah Putri Sulung beliau yaitu Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono, maka Ibu Prof. Meutia saya berterima kasih sekali atas berkenan anda untuk berkisah tentang filsafat kerakyatan Bung Hatta dalam kesempatan ini dan selanjutnya waktu dan tempat saya serahkan sepenuhnya kepada Prof. Dr.

Meutia Farida Hatta Swasono silahkan.” – Jaya Suprana.

“Terima kasih Pak, saya bersyukur bisa mempunyai kesempatan di sini dan Bapak minta saya untuk bicara soal filsafat Bung Hatta yang dilihat sebagai filsafat kerakyatan Bung Hatta kan dan dalam gaib ini saya melihatnya juga sebagai filsafat kenegaraan karena Bung Hatta itu seorang negarawan dari kecil, bukan dari kecil dari muda mahasiswa mempersiapkan diri untuk berpikir Indonesia Merdeka jadi dia memupuk diri sebagai negarawan.” – Prof. Dr. Meutia  Farida Hatta Swasono.

“Mohon maaf kalau boleh saya nimbung, kok bisa beliau itu sejak muda itu punya yang menurut saya itu obsesi beliau adalah untuk Indonesia Merdeka, padahal waktu itu kan Indonesia belum ada. Indonesia aja kan belum ada, adanya Hindia Belanda ya kok bisa Bung Hatta sejak muda itu punya cita-cita Indonesia Merdeka? silahkan.” – Jaya Suprana.

“Ya terima kasih mungkin Ini pengalaman hidupnya dari kecil, ketika masih kecil umur 6 tahun itu ada Perang Kamang di Sumatera Barat dan di Bukittinggi tempat beliau waktu itu masih anak-anak tinggal. Bung Hatta itu punya kebiasaan kalau makan malam, makan siang, makan malam bersama-sama keluarganya jadi percakapan orang dewasa ini mulai dari kakek , nenek,  ibu kemudian juga om-omnya ke paman-pamannya itu. Mengenai Perang Kamang ini juga menceritakan tentang Serdadu yang kasar kepada rakyat itu terpatride di hatinya, jadi Belanda jahat. Waktu sekolah di Padang ya, di sekolah di Padang datanglah tokoh-tokoh seperti Nazir Sutan Pamuncak dan Abdul Muis yang membicarakan tentang Jong Sumatranen Bond jadi anak-anak muda harus mengenal masyarakatnya sendiri gitu. Di sini Bung Hatta kemudian ada satu hal yang dia pikir itu upacara… upacara atau suatu kebiasaan adat tapi ternyata itu tanam paksa jadi baru tahu rupanya rakyat itu disuruh menanam sayur-sayur dan kopi ya seperti itu. Tapi tidak boleh menikmati sendiri harus diserahkan kepada Belanda jadi SMP sudah terbuka itu lalu Bung Hatta juga ketemu tokoh-tokoh yang seumur maupun yang lebih tua jadi dan ketika kebetulan ya, ketika sekolah di Batavia di Jakarta beliau itu sendiri, Ayah saya itu sendiri tapi Kemudian pada tahun 1918 Bung Hatta itu terekspos pada suatu situasi yang mengesalkan kepada rakyat, waktu itu terutama di Batavia mereka ngomongin ini Gubernur Jenderal Limburg Stirum itu dulu pernah berjanji mempersiapkan Indonesia Merdeka jadi pemupukan fasilitas seperti itu tapi setelah ditanya di foxset beliau mengingkar, mengingkari janji itu. Mereka mengambil keputusan kita harus Merdeka tidak usah minta tolong Belanda lagi seperti yang dipikirkan tetapi ayo kita mulai gitu. Perhimpunan Hindia Belanda itu kemudian juga tokoh-tokohnya mempengaruhi anak-anak muda, Ayah saya waktu itu kan umurnya baru 19 tahun kemudian ia di negeri Belanda waktu itu, lalu kalau kita Merdeka namanya apa ya negara kita tentu tidak bisa Hindia

Belanda lalu mereka mencari di perpustakaan nama apalagi yang pernah muncul ,nah itu ada tiga cholar ilmuwan yang dua Inggris yang satu Jerman, yang Jerman itu Bastian tapi sebelumnya itu sama elegan tiga-tiganya menggunakan nama Indonesia. Nah itulah nanti yang menjadi negara maka perhimpunan yang disebut Indische Vereeniging itu menjadi Indonesische Vereeniging tahun 1922 dan baru 2 minggu kemarin itu saya juga diundang karena Kedutaan Besar kita di negeri Belanda membuat peringatan 100 tahun Perhimpunan Indonesia jadi saya bersyukur sekali saya diundang. Iya ini dia jadi, nah jadi Bung Hatta itu terobsesi bahwa kita harus Merdeka dan sebagai anak muda kan dia juga suka pergi konferensi-konferensi yang dihadiri oleh anak-anak muda Asia dan Afrika yang kuliah di Eropa dan mereka datang semua. Negara-negara mereka waktu masih terjajah India jadi bertemu dengan ayah saya begitu ya dan akhirnya mereka memupuk kita harus Merdeka masing-masing dan Bung Hatta mengatakan kemerdekaan itu harus diperjuangkan oleh kita sendiri dan sifatnya non kooperasi tidak boleh minta-minta kepada Belanda semuanya harus dikerjakan sendiri. jadi tadi menjawab pertanyaan “Kenapa Bung Hatta pikirannya ke situ?” karena pengalaman itu.” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Dan Ibu menjelaskannya secara sangat gampang dan sangat-sangat sesuai kenyataan karena Ibu saya kira juga pernah tentu berbincang-bincang dengan Ayahanda Ibu mengenai hal itu kalau saya boleh tahu Bu, karena Ibu kan Putri Sulungnya nah secara manusia, bukan sebagai negarawan tapi sebagai manusia Bung Hatta itu bagaimana sifatnya?” – Jaya Suprana.

“Beliau itu orangnya tidak banyak bicara tapi banyak berpikir, tapi ramah ya tidak pernah marah kecuali harus marah. Karena ada yang dablek tapi marahnya juga secara berwibawa tuh kalau Ayah saya marah itu berwibawa gitu ya.” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Jadi ada prinsipnya beliau orangnya sabar.” – Jaya Suprana.

“Ya sabar tetapi kalau punya prinsip dan merasa benar tidak mau kalah.” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Pantang menyerah. Oke kembali lagi Bu kepada uraian Ibu tentang filsafat kenegaraan Bung Hatta” – Jaya Suprana.

“Ya jadi filsafat kenegaraan Bung Hatta itu adalah azasnya kebangsaan dan kerakyatan itu dua sisi, kedua yang bersatu itu apa bersatu satu sama lain ya, jadi nah ketika itu mengenai filsafat kenegaraan Bung Hatta ini adalah sebetulnya tegaknya akses kebangsaan ya justru Bung Hatta waktu itu memikirkan itu sedang marak-maraknya di Eropa, itu dikumandangkan semangat internasional yang setelah Perang Dunia I itu ya. Di mana itu dinamai sebagai pusat pergaulan internasional, nah disitu dalam menegakkan asas kebersamaan itu kembali lagi kita lihat di negara kita saat itu kan Bung Karno mendirikan PNI (Partai Nasional Indonesia) itu juga suatu partai kebangsaan tetapi ketika Bung Karno ditangkap partai itu dibubarkan dan Bung Hatta kembali ke Indonesia, Sutan Syahrir lebih dulu ke Indonesia dan apa, Bung Hatta itu mengatur, membimbing ya jadinya dari luar negeri beliau sudah

memikirkan Sutan Syahrir harus membantu Bung Karno untuk mendirikan TNI itu nah ketika Bung Karno ditangkap Bung Hatta datang dan mereka dengan Bung Syahrir mendirikan Pendidikan Nasional Indonesia supaya inisialnya itu sama dengan PNI, jadi ini untuk mengenang tapi sekaligus

meneruskan badan terutama partai kader karena di dalam Pendidikan Nasional Indonesia itu mendidik anggota supaya melek terhadap situasi yang ada dan juga melek terhadap kondisi-kondisi supaya kalau nanti kita Merdeka, Indonesia Merdeka kemudian ada yang mau jadi Menteri ada yang mau jadi barangkali Ketua Partai ada yang mau jadi apa, mereka tahu bahwa system ekonomi itu seperti ini, sistem hukum itu, seperti ini jadi mereka diajari itu supaya melek ya. Jadi tidak masuk partai asal aja terus ngomong sembarangan tetapi sudah ada dasarnya jadi di dalam partai

yang mendidik itu orang diajar. Bagaimana kalau mengelola negara jadi dasar-dasarnya itu diberikan

di dalam aktivitas partai, cuma diam-diam karenakan dipantau oleh aparat keamanan Pemerintah Kolonial ya, jadi kadang-kadang pintunya ditutup tapi satu kamar terbuka nah di situ diajarkan jadi dari atasnya rumahnya gelap gitu malam hari padahal ada orang-orang yang diajari gitu.” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Gerilya Pendidikan.” – Jaya Suprana.

“Bung Hatta akhirnya ketangkap dan dibawa ke Boven Digoel bersama Sutan Syahrir kemudian dipindah ke Banda Naira jadi karena perjuangan itu.” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Kalau boleh saya terus terang kurang-kurang mengenal Sutan Syahrir dan itu bagaimana? kok bisa dengan Bung Hatta, kok bisa seperti dua sejoli begitu?” – Jaya Suprana.

“Saya kira mereka itu walaupun sifatnya beda-beda tapi mereka sama pikirannya dan sama juga orangnya tapi saya kira etnis tidak terlalu menjadi sebab mereka bersatu tapi mereka punya pikiran yang sama dan Sutan Syahrir lebih mudah jadi bung Hatta seperti kakak gitu.” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Sutan Syahrir itu juga dari Minang?” – Jaya Suprana.

“Kan ketemunya di negeri Belanda, jadi ini tadi saya juga mau mengatakan ,jadi bung Hatta mengatakan tulisannya Itu namanya ke arah Indonesia Merdeka. Ada satu buku kecil tapi sangat

penting itu ditulis 1931 ayat 32 nah Bung Hatta mengatakan begini “Selama Indonesia Merdeka menjadi tujuan kita yang utama, maka selama itu pergerakannya bersifat kebangsaan” karena Bung Hatta mengatakan “Tidak ada pergerakan kemerdekaan yang terlepas dari semangat kebangsaan apa yang mau dimerdekakan? dari genggaman penjajah bangsa asing, kalau tidak bangsa dan tanah airnya sendiri” nah gitu jadi mengatakan “Memang persatuan hati dan persaudaraan segala manusia itu adalah bagus dan baik tetapi kalau tidak Merdeka itu yang lebih dulu adalah kemerdekaan bangsa jadi harus diutamakan”. Jadi disitu Bung Hatta mengatakan ya “Indonesia itu nama politisnya ya tahun 1922 di situ Indonesia menjadi Peristiwa Pertama menunjukkan penggunaan nama Indonesia untuk tujuan politik ini mencapai kemerdekaan Indonesia” dan satu lagi non kooperatif dan kooperatif itu merupakan kebijakan menyandarkan diri kepada kekuatan sendiri kebijakan Berdikari kalau istilahnya.” – Prof. Dr.. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Ini kan sebetulnya paradoks dengan koperasi yang beliau diberikan itu kan esensi dari koperasi kan adalah kooperatif tapi melawan penjajah kita nggak boleh kooperatif.” – Jaya Suprana.

“Kalau melawan penjajah tidak boleh tapi kalau koperasi diterapkan dalam ekonomi bahwa ekonomi itu dikerjakan oleh secara bersama-sama untuk menolong diri sendiri secara bersama-sama dan itu, dengan itu menjadi besar dan semuanya dirembuk bersama saling menolong, saling asah, asih dan  asuh. Begitu ya ada prinsip-prinsip Koperasi kalau nanti ada waktunya saya bisa tambahkan jadi Bung Hatta itu, saya tertarik pada apa kata-katanya ya, katanya ini “hanya bangsa-bangsa dan manusia yang sama derajat dan sama Merdeka dapat bersaudara kalau tuan dan Budak itu susah berpendapat

seperti persaudaraan nggak bisa gitu tapi harus Merdeka hatinya sama-sama gitu ya” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Maka Beliau juga pernah bilang “jangan menjadi kuli”.” – Jaya Suprana.

“Ya betul, jadi ini di atas kebangsaan kan apa keberanian?  “kalau takut sama penjajah tapi suatu

waktu ada keberanian untuk membela negaranya sendiri berani menantang maut dan sebagainya dan juga bagaimanapun juga bodoh dan penakutnya orang tapi pada suatu saat yang penting ia udah berkorban untuk membela tanah airnya” Nah apa Bung Hatta mengatakan gitu. Jadi saya melihat di sini apa yang non kooperatif tadi ya jadi pentingnya membangun, memerdeka Indonesia harus dengan tujuan kita sendiri jangan minta tolong, jangan tergantung pada Belanda tidak akan terjadi.” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Hubungan Bung Hatta dengan Multatuli?” – Jaya Suprana.

“Beliau lebih senior ya, jadi itu juga dalam kaitan perjuangan tetapi Bung Hatta punya prinsipnya sendiri.” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Jadi tidak ada kerjasama dengan multatuli? tidak ada?”. Jaya Suprana.

“Tidak, karena usianya lanjut ya bung hatta. tapi anaknya Douwes Dekker kan? anaknya itu mengatakan tidak setuju kalau nama Indonesia dipakai, tapi Bung Hatta tetap pada pendiriannya nama Indonesia harus dipakai ya.” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Alasan anaknya Douwes  Dekker itu keberatan namanya Indonesia dipakai itu apa?” – Jaya Suprana.

“Ya dia lebih suka menggunakan nama lensa, saya lupa apa ya mungkin karena dia juga Indo kan orang Indo, tapi Bung Hatta nasionalis banget dan orang Indonesia.” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Pokoknya tidak ada kompromi.” – Jaya Suprana.

“Jadi Bung Hatta mengatakan “Hanya satu bangsa yang paham akan harga dirinya, maka cakrawalanya akan terang benderang” perhimpunan Indonesia mendidik bangsa itu membuatnya kukuh ya, kuat dan kukuh jadi maka itu prinsip non kooperatif ini yang paling penting untuk bung hatta, juga Bung Hatta memperkenalkan dan mengumandangkan nama Indonesia itu sampai juga menjadi amplifier Kata Profesor Sartono kartodirdjo untuk deklarasi Sumpah Pemuda di Tanah Air itu juga karena anak-anak muda di Indonesia mendengarkan yang diperhimpunan Indonesia dan Indonesia. Itu salah satu yang penting dan yang kedua tadi asas kerakyatan tadi kan kebangsaan dan kerakyatan nah Bung Hatta mengatakan “azas kerakyatan itu mengandung arti bahwa kedaulatan ada di tangan rakyat segala hukum atau peraturan Negeri haruslah bersandar pada perasaan keadilan dan kebenaran yang hidup dihati rakyat banyak dan aturan penghidupan haruslah sempurna dan berbahagia bagi rakyat” maksudnya membahagiakan rakyat itu jadi rakyat harus berbahagia di sinilah supaya masyarakat itu berdasarkan keadilan dan kebenaran haruslah rakyat Insaf akan haknya dan harga dirinya dan ini yang harus diajarkan kepada rakyat. Jadi cara menyusun ekonomi pemerintah itu harus mufakat yang musyawarah, mufakat itu semua diajarkan jadi tanggung jawab pemerintah itu, ini belum merdeka waktu itu ya tapi tanggung jawab pemerintah ada dalam untuk menyadarkan rakyat nah itu jadi ini falsafah Bung Hatta itu prinsipnya. Apa yang dilakukan? apa tahtanya? pemimpin itu punya apa ya tahta gitu ya, bukan Raja tapi maksudnya tugas memimpin negara itu ditujukan untuk rakyat itu dia.” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Sebetulnya beliau sangat demokratis.” – Jaya Suprana.

“katanya juga disebut sebagai bapak kedaulatan rakyat oleh banyak orang waktu 100 tahun peringatan ulang tahun Bung Hatta juga ada satu buku diterbitkan. Mulai dari Pak Subadyo, Pak Sartono Kartodirdjo, Ahmad Syafi’i Ma’arif, banyak yang sekarang sudah wafat ya tapi mereka mengatakan sama yaitu Bung Hatta adalah Bapak Kedaulatan Rakyat dan ini saya… yaitu Pak jadi itu apanya yang saat tadi dari filsafat kenegaraan itu kebangsaan dan kerakyatan kemudian filsafat yang lain ekonomi, ekonomi kerakyatan.” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Kalau gak salah filsafat ekonomi kerakyatan Bung Hatta dilanjutkan oleh Prof. Mubyarto di UGM ya?” – Jaya Suprana.

“Ya, tapi beliau ini yaa…cepat pergi ya.” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Tapi sekarang dilanjutkan oleh menantu beliau yaitu Prof. Sri Edi Swasono.” – Jaya Suprana.

“Memang sekarang tantangannya berat ya Pak artinya karena di tengah jalan kan waktu itu cita-citanya ekonomi kerakyatan dan itu sudah ada di Undang-Undang Dasar 1945 tetapi kemudian ada masuk satu periode di mana kapitalisme masuk nah jadi ini mengacaukan karena tidak sama, karena saya waktu itu mendengar ceritanya aduh tertarik sekali ya tapi nanti sebentar saya ceritakan, tapi begitu ada kapitalisme masuk kok makin yang ditanamkan kok kapitalisme gitu ekonomi rakyatnya susah, Bung Hatta selalu mengatakan “Jangan memutar ujung menjadi pangkal” jadi kalau kita mempunyai produk ekonomi dalam negeri jangan langsung diekspor tetapi buatlah jadi, bukan bahan mentah yang utama untuk membangun tapi bahan mentah itu harus dikerjakan dulu di Indonesia di dalam negeri sehingga nanti ada orang-orang yang expert terlatih menjadi buruh menjadi expert dalam membuat bahan-bahan mentah itu menjadi produk yang berharga tapi juga bahannya dari negara kita sendiri dan tanah tumbuh di tanah rakyat gitu, jadi kan ada banyak yang kita tahu dulu itu ada karet rakyat, tebu rakyat itu memang dari tanah rakyat lalu ekonomi nasional menggunakan itu masuk dalam system kemudian juga sebagian rakyat lagi bekerja di pabrik-pabrik dan mereka daya belinya meningkat karena punya uang dan akhirnya kemajuan dari ekonomi dalam negeri itu adalah dari rakyat untuk rakyat oleh rakyat.” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Sebetulnya dari itu juga terjadi di minyak bumi, minyak bumi kita kan dalam bentuk mentahkan malah di export kemudian diolah di luar negeri kemudian dijual kembali ke Indonesia. wah ini Bung Hatta kalau masih hidup marah itu.” – Jaya Suprana.

“Pernah sempat tahu dan marah, sempat tahu juga tapi kalau lihat sekarang kita tambangnya kan makin banyak ya yang ketemu-ketemu berikutnya. ternyata tidak ada lagi PLECI misalnya itu energi dari minyak gas dan macam-macam. Nah itu apa seharusnya kita yang mengola, karena kapitalisme masuk yang lemah disingkirkan.” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Oke Ibu saya kira ekonomi kerakyatan Bung Hatta memang itu adalah ekonomi Indonesia sebetulnya tapi ibu memang benar bahwa setelah itu, setelah kapitalisme masuk ke sini kekuatan-kekuatan tertentu itu melupakan bahkan menyingkirkan rakyat ya sehingga rakyat bukannya di bahagiakan seperti harapan Bung Hatta tapi rakyat disengsarakan itu memang banyak terjadi ibu, itu terutama masyarakat adat dan rakyat miskin. Itu mereka sudah menyuarakan amanat penderitaan mereka beliau-beliau. nah memang sayang sekali Bung Hatta sudah tiada itu bentuknya sayang sekali karena kalau beliau masih ada saya yakin beliau akan marah tentu dengan marah yang berwibawanya beliau itu. Silahkan Ibu lanjut apa yang ingin Ibu utarakan dala tentang filsafat kerakyatan Bung Hatta silakan. – Jaya Suprana.

“Jadi itu tadi bahwa Bung Hatta selalu mengatakan Tuhan di negeri sendiri artinya Master in our on home country, bukan host, kalau kita jadi host kita kadang-kadang arisan atau pesta biar tamunya senang uang kita sedikit jadi itu bukan begitu, tapi kita yang mengatur kalian disini boleh apa… Master in our on home country gitu, tergantung kenapa harus, tergantung pada asing itu kerjasama dengan baik mengikuti kita juga gitu bukan mengatur kita.” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Kalau itu kita setuju tanpa syarat cuma memang nggak semua setuju Bu karena kepentingan, saya kira ada juga sesama warga kita yang memperoleh keuntungan dengan bekerja sama dengan berkolaborasi atau berkomplot lah dengan asing itu ada yang diuntungkan sebenarnya.” – Jaya Suprana.

“Seharusnya yang diuntungkan itu negara dan negara.” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Bukan pribadi.” – Jaya Suprana.

“Bukan.” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Maka itu setiap saya teringat Bung Hatta itu terus terang bulu roma saya itu berdiri Bu, agak  merinding gitu ya, karena kok ada manusia seperti Bung Hatta, apalagi almarhumah Ibu Rahmi berkisar bagaimana beliau menabung untuk beli mesin jahit kemudian akhirnya nggak berhasil karena uangnya dipotong tetapi beliau tidak dikasih tahu oleh Bung Hatta, waktu Bu Rahmi marah sama Bung Hatta, Bung Hatta bilang “Loh kamu kan istri saya tapi saya harus membela bukan istri saya, yang saya bela negeri saya, Wah itu saya betul-betul.” – Jaya Suprana.

“Jadi memang membedakan antara kedinasan dan kekeluargaan karena perjuangan itu membutuhkan korban kan? ya tapi ayah saya, ibu saya juga ikut berkorban nggak papa gitu asal masih tertanggung kan, gapapalah mesin jahit gapapa gitu.” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Apalagi ya kalau Ibu kan orangnya juga sabar sekali kan saya kira….” – Jaya Suprana.

“Suka ngomel juga, tapi sabar. Ngomel tapi nurut gitu.” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Ya saya memang, ya memang bagaimana ya kalau dengan segala hormat kepada Bung Karno saya itu terus terang merasa lebih bagaimana ya… lebih dekat dengan Bung Hatta karena cara berpikir beliau yang menurut saya sangat-sangat alami, sangat natural, sangat tidak dibuat-buat dan beliau tidak terpengaruh oleh isme-isme tetapi kecintaannya kepada Indonesia itu ya memang cinta ya sudah mau apa lagi dan nggak perlu definisi nggak perlu apapun beliau itu kan.” – Jaya Suprana.

“Karena beliau memahami rakyat karena cinta pada rakyat dari kecilkan suka sudah lihat dia tuh orang kota tapi pergi ke desa-desa gitu, lahirnya di kota tapi diajar karena kakeknya itu punya angkutan pos yang kalau sekarang JNE, Tiki tapi dulu masih pakai kereta kuda jadi suka pergi dari kota ke kota naik kereta, naik itu lihat-lihat desa gitu jadi hatinya ke rakyat padahal dia orang kota.” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Beliau dilahirkannya dimana bu?” – Jaya Suprana.

“Kenapa pak?” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Lahirnya di Bukittinggi ya?” – Jaya Suprana.

“Bukittinggi iya.” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Kotanya ya?” – Jaya Suprana.

“Iya, cucunya orang kaya, saudagar. Jadi tapi Bung Hatta bisa memahami orang yang miskin gitu itu hebatnya jadi karena beliau cinta sama rakyat Indonesia gitu makanya ingin Indonesia cepat merdeka karena waktu pergi ke negeri Belanda lihat orang, anak-anak muda Belanda lulus SMA terus dapat pekerjaan, ada juga yang pergi ke Hindia Belanda kan Tanah Air kita tapi kok orang-orang Indonesia sendiri yang orang Hindia Belanda kok tidak boleh sekolah gitu, makanya dia pengen harus bisa seperti rakyat yang merdeka gitu jadi itu obsesinya Bung Hatta.” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Beliau waktu di negeri Belanda itu sekolahnya di mana Bu?” – Jaya Suprana.

“Di Rotterdam, Rotterdam Handels Hogeschool.” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Tempatnya Pak Koe Ki Anggi juga sekolah ya?” – Jaya Suprana.

“Iya, dia senior” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Makanya Pak Koe itu kalau dengan Bung Hatta itu… udah beliau pokoknya, sudah pokonya kamu belajar dari Bung Hatta kecintaannya dengan indonesia itu gak ada tanpa syarat itu.” – Jaya Suprana.

“Jadi Ayah saya itu, Bung Hatta memahami belajar tentang kapitalisme, belajar tentang komunisme tapi karena dia tahu tentang kehidupan masyarakat Indonesia dia melihat ini dua-duanya tidak cocok maka itu ekonomi rakyat itu filsafatnya begitu.” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Hebat, hebat.” – Jaya Suprana.

“Musti ada kebangsaan dan ada kerakyatan, rakyat yang berdaulat di dalam Tanah Air yang dimerdekakan itu.” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Jadi beliau itu ternyata anak saudagar?” – Jaya Suprana.

“Iyaa, kaya sekali dulu itu zaman itu ya, kalau sekarang orang lebih kaya jauh.” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Tapi waktu itu sudah dianggap orang yang kaya, udah kaya lah jadi beliau tidak pernah mengalami penderitaan ekonomi?” – Jaya Suprana.

“Tapi rela menderita dipembuangan di Digoel dan Banda Neira.” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Iya setelah itu bukan main dan saya baru tahu bagaimana beliau waktu di Boven Digoel itu eh waktu di Banda Neira beliau bikin kapal yang di cat nya merah putih biru.” – Jaya Suprana.

“Merah putih, terus bilang “Kenapa merah putih?” “Karena lautnya sudah biru nggak usah lagi bikin cat biru.” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Iya makanya birunya sudah di laut, jadi orangnya sebetulnya humoris juga ya.” – Jaya Suprana.

“Tapi anggun, gak seperti lelucon gitu.” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Bukan lelucon, tetapi humor dalam arti yang mulia, karena cara berpikir beliau itu buat saya sangat humoristis dalam arti bermain dengan logika. Apalagi Bu Meutia yang anda bisa kisahkan tetang Bung Hatta dengan filsafat kerakyatan beliau?” – Jaya Suprana.

“Jadi itu ekonomi kerakyatan tadi sudah disebut bahwa produk rakyat dari tanah rakyat, di produk rakyat dimasukkan dalam sistem ekonomi nasional daerah maupun nasional gitu ya jadi rakyat itu punya, punya penghasilan daya belinya meningkat dan kita jadi sejahtera gitu dan juga Bung Hatta… oh satu lagi Pak yang menariknya jadi waktu itu Ir. Laoh diangkat menjadi Menteri PU tahun 48 kira-kira Kabinet itu, waktu itu dan Bung Hatta memanggil Ir. Laoh “Kamu tahu apa tugasmu?” “tidak Bung”, dipanggilnya Bung dulu ya “Kamu harus merangkai Indonesia” merangkai Indonesia itu bikin Dermaga dimana-mana, bikin Pelabuhan, Airport, ya memang dulu belum ada cukup uang tapi idenya sudah ada.” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Gila itu, itu kemaritiman yang modern sekali Bu.” – Jaya Suprana.

“Maritim maupun pesawat nanti atau kalau di daerah-daerah, jalan-jalan atau sungai-sungai itu ada Dermaga sungai jadi masuk ke pelosok-pelosok nanti rakyat sendiri yang akan membuat daerah itu menjadi ada rumahnya, ada warungnya, ada apa jadi berkembang sendiri. Jadi artinya tidak ada yang terpencil, tidak terlalu terpencil gitu ya terpencil pasti ada karena negara kita ini begini luas ya dan ekonomi kan juga waktu itu masih tahun 40-an ke atas itu 49 – 50 masih sederhana kan, tapi Bung Hatta sudah memikirkan “Kamu harus merangkai Indonesia” sehingga dengan merangkai Indonesia itu tidak ada gap yang sangat tinggi antara yang kaya dan yang miskin dan ada yang terpencil dan yang terbuka gitu, sekotak-kota besar seperti Jakarta dan lain-lain itu jadi supaya rakyat Indonesia ini adil gitu. Makanya Bung Hatta juga kesel kalau korupsi itu menyebabkan dana maupun aset-aset yang harusnya ke daerah terpencil tidak terjadi karena korupsi, itu tidak adil kepada rakyat sekarang di mana-mana ada korupsi ya susah juga.” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Waduh kalau sekarang maaf Bu, ini menjadi demokratisasi korupsi sekarang ini Bu.” – Jaya Suprana.

“Terutama Bung Hatta yang sudah bilang korupsi menjadi kebudayaan,  terus orang kese eh sekarang lebih-lebih lagi kan.” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Jadi sebetulnya pada waktu Bung Hatta masih hadir diantara kita semua, itu korupsi sebetulnya kan belum merajalela kan Bu?” – Jaya Suprana.

“Sudah ada tetapi tidak seperti sekarang terus Ketika saya jadi Menteri saja Pak SBY itu pernah bilang “Itu kasihan Ibu-ibu yang suaminya korupsi lalu dia harus tampil, saya juga merasakan begitu yang sama istri-istrinya harus pergi ke tempat dimana suaminya ditangkap di foto itu tapi sekarang suami istri sama-sama korupsi kan?” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Malah kadang-kadang yang korupsi istrinya, suaminya malah nggak tahu.” – Jaya Suprana.

“Tapi saya kira ini adalah karena kita mengabaikan prinsip-prinsip luhur dan apa kebaikan yang baik dari leluhur maupun dari agama ya, semua agama pasti mengajarkan kebaikan. Nah ini harus dikembalikan tapi susah sekali tapi harus gitu.” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Tapi saya kira juga ada pengaruhnya mengenai pengkhianatan terhadap rakyat itu Bu, karena orang-orang yang korupsi itu pasti mereka itu tidak memikirkan kepentingan rakyat, yang dipikrikan kan kepentingan pribadi dia. Kalau dengan, kalau kita memahami pemikiran Bung Hatta dengan sendirinya

kita pasti tidak akan tega hati melakukan itu semua karena itu korupsi itu penghianatan kerakyatan yang paling parah itu sebetulnya.” – Jaya Suprana.

“Ya betul dan disamping itu merendahkan dirinya sendiri, lupa, martabatnya sendiri dan keluarganya tapi dicuekin ya.” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Belakangan ini Bu dan saya juga jadi curhat kepada Ibu, begini belakangan ini ada sebagian dari teman-teman KPK kita yang waktu itu disingkirkan dari KPK itu, mereka itu sangat-sangat menderita dalam arti bukannya menderita secara ekonomi terhadap tapi menderita dalam arti mereka berjuang untuk melawan korupsi tetapi malah disingkirkan, karena kebetulan yang melakukan korupsi itu sedang memegang kekuasaan. Nah ini Bu kalau Bung Hatta masih hidup, saya pasti akan mengajak teman-teman ini untuk menghadap Bung Hatta untuk supaya, pasti Bung Hatta akan marah yang berwibawa itu tadi ya dan begini Bu terus terang pada saat Bung Hatta meninggal / wafat itu tidak kurang dari seorang Ruslan Abdul Gani yang memberitahu itu bilang ke saya “Waduh Pak Jaya celaka ini” “Loh kenapa celaka?” “Ini Pak Harto itu paling hormat dan paling takut kepada Bung Hatta, nah sekarang kalau ini Bung Hatta nya gak ada, Pak Harto gak ada yang ditakuti lagi” itu betul, itu omongannya Ruslan Abdul Gani itu.” – Jaya Suprana.

“Beliau mengatakan hati nurani bangsa Indonesia sudah enggak ada, iya kan? di koran waktu itu begitu.” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Ya itu di koran, tapi pribadi kesaya, dia itu ngakunya tidak ada yang ditakuti lagi.” – Jaya Suprana.

“Jadi saya tadi, apa Bapak bilang mau mengajak orang-orang yang kecewa itu ke Bung Hatta kalau masih hidup? saya inget hati nurani bangsa Indonesia itu, ya tidak ada yang ditakuti lagi ya, tidak ada yang disegani lagi.” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Tidak ada, tidak ada yang dihormati lagi. Iya jadi kita betul-betul kehilangan ya, saya itu sangat belum sempat berjumpa beliau. Kalau saya sempat pasti dengan bantuan Ibu memperkenalkan saya, bagi beliau sayapun tidak ada artinya. Tapi sebetulnya saya ingin banyak belajar dari beliau, bukan ilmunya Bu tapi pengalamannya beliau itu loh, kalau ilmu kan saya bisa baca buku tapi kalau pengalaman kan nggak bisa Bu. Itukan harus orang yang ngalami sendiri.” – Jaya Suprana.

“Pengalaman itu dicerna dan dilihat apakah Indonesia cocok dengan suatu hal prinsip tertentu seperti komunisme, kapitalisme. Tapi kita harus punya sendiri, yaitu ekonomi rakyat, ya itu sudah dasarnya kita sudah punya kebersamaan ya. Milik rakyat yang di… karena kasih sayang pada rakyat tanahnya, produknya diberdayakan masuk dalam sistem ekonomi nasional. Mestinya kan begitu tapi tidak gitu, malah kalau bisa digusur kehilangan tananhnya.” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Nah itu dia, kalau dengar perkataan digusur itu saya sedih sekali, saya nggak pernah digusur Bu, tapi saya pernah menyaksikan sendiri seorang Ibu, kalau itu orang emak-emak ya begitu, waktu digusur itu di Bukit Duri waktu itu, dia itu diusir dari gubuknya bukan rumah Bu, gubuk. Gubuknya kemudian dia bilang (yang gusur)  “Ayo bawa semua harta bendamu” saya nunggu di situ saya pikir Bu harta bendanya mungkin banyak begitu kan, ternyata dia cuma dibawain gerobak, isinya gerobak itu Bu cuma satu kompor minyak tanah yang udah tua gitu kemudian beberapa dua piring dan sendok garpu dan anak perempuannya yang baru berusia 4 tahun berada di gerobak itu, nah kemudian saya tanya “Loh yang lain mana?” Ibu itu bilang “Iya ini, harta saya ya ini” nah rasanya gimana bu?” – Jaya Suprana.

“Ya itu sifat-sifat yang tegaan seperti itu terlalu kasar ya, kejam boleh dibilang. Itu terjadi kita baca di media dimana nonton di media jadi saya kira harus ada lebih banyak orang saling mengingatkan lah gitu, kita nih mau, negara kita mau jadi negara seperti apa makanya Bung Hatta mengatakan pendidikan karakter bangsa itu penting ya, jadi orang pintar banyak tetapi yang karakternya baik itu harus dipupuk dari diri sendiri dan itu sulit memang tapi harus dilakukan. Kalau bisa menang dari Dirinya Sendiri itu baru baik.” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Jadi menaklukkan diri sendiri Bu ya, dalam Islam kan itu Jihad Al Nafs itu. itu saya sangat mengagumi faslafah Jihad Al Nafs itu. Menaklukkan diri sendiri.” – Jaya Suprana.

“Ya mendalami dari saya tapi saya juga paham ini, ya artinya juga kita membutuhkan sekarang ini orang yang menunjukkan bahwa dia tidak korupsi, dia menjadi star, menjadi bintang di negara ini kalau dia bisa menunjukkan dia tidak korupsi, karena banyak sekali sih korupsi di mana-mana tapi tokoh-tokoh ini bukan tokoh yang kaya, yang cantik, yang baik hati tapi jangan korupsi.” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Begini Bu teman-teman KPK itu kan merencanakan akan membedah buku yang mereka tulis. Nanti Ibu saya undang nggeh ya.” – Jaya Suprana.

“Terimakasih.” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Loh kami yang terimakasih, supaya mereka mendengar pesan dari Bung Hatta melalui Putri Sulungnya ini dan tentu dari Prof. Meutia sendiri dan Prof. Sri Edi Swasono. Saya tidak pernah lupa bagaimana pada waktu itu, waktu kita sedang berusaha membantu para ojek-ojek itu Prof. Edi itu dengan penuh semangat memberikan semangat, mengenai membentuk koperasi kepada anak-anak gojek ini untuk mereka bertahan melawan modal besar. itu Prof. Edi melakukannya dengan Con Amore padahal Profesor itu kalau dibayar berapa itu, maksudnya sebagai Konsultan Koperasi.” – Jaya Suprana.

“Dan memang kebersamaan itu penting rasa kebersamaan saling memiliki tidak menghianati satu sama lain gitu, Setia.” –Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Oke Bu ini waktu yang membatasi kita, Nah apa yang belum saya tanyakan, yang pasti masih banyak. Nah tapi menurut Ibu sangat perlu kita ketahui segera kita lebih bisa memahami filsafat kerakyatan warisan Bung Hatta silahkan.” – Jaya Suprana.

“Saya berharap begini bahwa rakyat itu diberdayakan dan jangan digusur artinya dan dibimbing terus dan juga misalnya saya pengalaman saya penelitian belum lama ini pemimpin-pemimpin di wilayah desa atau kecamatan itu harus saling terintegrasi dengan rakyatnya susah senang ditanggung bersama dan tahu mau kemana, jadi rakyat tidak sendiri, tapi Pemimpin juga didukung oleh rakyatnya jadi karena punya tujuan yang sama untuk membangun desanya atau kecamatannya atau apa dan mereka sendiri jadi kalau bersama-sama ini akan bisa apa ya lebih cepat mensejahterakan. Karena harus, hatinya harus bersatu harus bersama dan legowo gitu untuk….” –Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Saya kira pesan Ibu bukan hanya tertuju kepada Kepala Desa atau Kepala Kecamatan tapi juga Bupati, Walikota, Gubernur bahkan Presiden dan Wakil Presiden itu harus bersatu dengan rakyat.” – Jaya Suprana.

“Dicontohkan oleh Bung Karno dan Bung Hatta.” –Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Ada pertanyaan saya terakhir kenapa kalau Bung Karno bisa? Bung Hatta bisa? Kenapa kok kita sekarang sulit bisa, itu kenapa itu? kan kita sama bangsa Indonesia.” – Jaya Suprana.

“Ya karena belum selesai dengan dirinya sendiri, itu.” –Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Belum selesai dengan dirinya sendiri.” – Jaya Suprana.

“Belum bisa menahan masih menyukai apa yang duniawi yang…” –Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Yang apa yang dia butuhkan dia inginkan.” – Jaya Suprana.

“Karena pemimpin itu harus berkorban dan Bung Hatta melakukan itu Bung Karno juga. Bung Hatta yang saya tahu sangat berkorban.” –Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Sampai Ibu Rahmi ikut harus berkorban dan saya kira anak-anaknya juga kan, anak anaknya ikut berkorban kan pasti.” – Jaya Suprana.

“Kita bisa kok.” –Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Ya makanya, makanya itu lah Bu saya kira memang kita nggak salah dalam arti kita mencoba memohon Prof. Meutia Farida Hatta Swasono untuk memberi pelajaran kepada kita semua tentang filsafat kerakyatan Indonesia ini ya, kepada kita semua karena anda sendiri termasuk saudara-saudara anda ya Mba Gemala dan Mba Halida, beliaukan mengajar disekolah kami, nah itu di situ kita bisa belajar dari bukan teori tapi keteladanan sikap dan perilaku dan terbukti anda semua bisa jadi artinya kalau mau kan bisa lah kalau ndak bisa artinya nggak mau. Ya itu saja terima kasih Ibu Prof. Meutia Hatta Swasono, tapi nggak punya apa-apa. Tapi nanti akan apa, mengirim ini kepada anda sangat sederhana ucapan terima kasih kepada Prof. Dr. Mutia Faridah Hatta Swasono.

Sumber : Jaya Suprana Show

PENDIRI BANGSA,BUNG HATTA LEBIH DARI SEKEDAR BAPAK KOPERASI INDONESIA – Kwik Kian Gie

https://www.youtube.com/watch?v=h-A5CsdqTnA

Bung Hatta : Untuk Kemerdekaan Indonesia, Kalau Perlu Darah Mengalir Dalam Keluarga Saya

Bung Hatta : Saya Lebih Suka Melihat Nusantara Tenggelam, Ambles Di Bawah Laut,dari pada harus Di Jajah

Kwik Kian Gie : Saya Menghormati dan Tidak Bisa Mengerti bahwa ada Manusia (Bung Hatta), Yang Begitu Hebatnya

Sumber : Syakaa Channel Tv

Peringatan 120 Tahun Bung Hatta

Memperingati 120 tahun sang proklamator Bung Hatta Yayasan Proklamator Bung Hatta menggelar kegiatan Webinar dengan Tema “Bung Hatta Pejuang Tangguh dan Pemikir yang Visioner” Napak Tilas, Ultra Run dan Launching Metaverse Hatta Memorial Heritage Virtual. Acara ini dibuka langsung oleh Putri Bung Hatta Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono pada Istana Bung Hatta Bukittingi.

Tiga agenda sekaligus digelar pada (13/8) yaitu : Napak Tilas Bung Hatta, Ultra Run atau lari maraton 120 km dan launching museum virtual dengan teknologi Metaverse.

Ketiga putri Bung Hatta yaitu Meutia, Gemala dan Halida hadir dalam rangkaian acara yang digelar di istana Bung Hatta Bukittinggi sejak pukul 07.00 pagi itu. Acara juga dihadiri oleh Rektor Universitas Bung Hatta Prof. Dr. Tafdil Husni, S.E., M.B.A., Bupati Agam Dr. H. Andri Warman, MM. dan Ketua Umum Yayasan Proklamator Bung Hatta Prof. Dr. Maizar Rahman serta perwakilan Pemprov Sumbar dan Pemkot Bukittinggi.

Dalam sambutannya Meutia Hatta menyampaikan bahwa yang paling penting dari peringatan ini adalah bagaimana agar keteladanan Bung Hatta itu bisa dipedomani oleh setiap pejabat khususnya di Sumatera Barat.

Selanjutnya Meutia Hatta juga mengungkap bahwa Bung Hatta bukanlah sosok yang tiba-tiba saja hadir dari langit untuk memproklamirkan Kemerdekaan Indonesia, namun kehadiran beliau adalah sebuah perjalanan yang panjang.

Dalam upaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia Bung Hatta melakukan perjalanan ke berbagai pelosok Negeri untuk meyakinkan rakyat dan membangun optimisme.

Sementara itu Bupati Agam, Andri Warman merasa sangat beruntung bahwa dalam agenda 120 tahun Bung Hatta ini, Bukittinggi dan Kabupaten Agam kedatangan 3 putri Bung Hatta dan Pesanggrahan Bung Hatta yang berlokasi di Kabupaten Agam menjadi tujuan utama agenda napak tilas Bung Hatta.

Andri Warman berharap pesanggrahan Bung Hatta dapat menjadi destinasi wisata baru karena disamping keindahan alamnya juga ada jejak Bung Hatta yang bisa menjadi situs sejarah.

Kemeriahan peringatan 120 tahun Bung Hatta sangat terasa di Kabupaten Agam dimana para tamu disuguhi “upacara tradisional” atau dalam bahasa Minangnya “Baralek Gadang” atau pesta besar di lapangan di depan SD 09 yang konon diresmikan oleh Bung Hatta pada tahun 1952.

Upacara ini disaksikan oleh para pemuka adat di kabupaten Agam dan diakhiri dengan makan bersama secara tradisional yang disebut dengan ‘makan bajambek’.

Bukittinggi, 13 Agustus 2022

Konsep Bung Hatta Memanfaatkan Hutan dan Lahan

Bung Hatta sudah punya konsep bagaimana memanfaatkan hutan dan lahan. Kuncinya keberpihakan kepada masyarakat lemah dan miskin.

Hariadi Kartodihardjo

SEKALI waktu kita mungkin perlu menoleh ke belakang: untuk tahu apa yang dahulu dipikirkan oleh tokoh pendiri Indonesia—dalam hal ini Bung Hatta (1902-1980)—tentang tanah hutan dan lahan. Apakah konsep dan cita-citanya kita jalankan pada saat ini. 

Dalam berbagai kesempatan, Bung Hatta mengemukakan pendapatnya soal pemanfaatan hutan dan lahan berikut ini:

Di koran Hindia Poetra Nomor 2 edisi Maret 1923, Bung Hatta menekankan perihal kurangnya perlindungan mengenai sewa tanah pertanian yang merugikan bangsa Indonesia, yaitu petani yang menyewakan lahannya kepada industri gula. 

Bung Hatta menulis: “Selama nilai sewa belum mencapai nilai tertinggi, cukup untuk membeli padi dengan jumlah yang sama, yaitu uang yang akan diterima oleh kaum petani sebagai pemberian bagi hasil pertanian, dan selama jalan masuk ke perbudakan bagi petani yang berada dalam posisi lemah secara hukum masih terbuka lebar, maka tidak akan ada perlindungan hukum yang nyata terhadap petani pemilik tanah yang lemah secara ekonomis. Jika hal-hal tersebut masih mungkin, kiranya Indonesia masih akan berada di bawah kekuasaan modal”.

Dalam kalimatnya yang lain, ia menulis “Bila seseorang berhati-hati dalam memandang keadaan Indonesia yang berubah cepat, tidak sukar untuk melihat bahaya besar bagi petani Indonesia”. 

Pada Kumpulan Karangan III (1954), Bung Hatta mengemukakan dasar pemikiran mengenai pemilikan dan penguasaan tanah. Sebagai negara agraria, pemilikan tanah diizinkan apabila tanah tersebut dikerjakan sendiri. Kepemilikan ini harus bisa dilindungi dari praktik memeras dan merampas para tukang riba, serta melarang praktik ijon. Seseorang tidak boleh punya lahan lebih dari lima hektare dan apabila tanah itu tidak dikerjakan sendiri, bagian yang mengerjakan tidak boleh kurang dari separuh hasil tanah itu. 

Mengenai hutan, Bung Hatta menulis artikel Hutan Menyimpan Kapital Nasional Kita pada 1950.  Dalam artikel ini, ia menjelaskan bagaimana perjuangan mempertahankan kemerdekaan 1945-1949, yang telah membakar bangunan-bangunan sendiri karena merasa lebih baik dibumi-hanguskan daripada dipergunakan oleh Belanda, serta bagaimana negara kekurangan kapital untuk kehidupan sosial-ekonomi setelah itu.

Setelah itu, Bung Hatta menulis “Betapa banyaknya hutan-hutan kita yang sebenarnya menyimpan kapital nasional. Hutan itu tidak boleh ditebang, ia harus dipelihara, karena itulah kapital nasional kita. Siapa yang hendak membuat ladang, haruslah bertanya dulu kepada dinas kehutanan, mana yang boleh ditanami menjadi ladang, mana yang tidak. Karena apabila kayu di gunung itu habis ditebang, air tidak bisa ditahan mengalir ke laut yang lambat laun akan menjadikan tanah-tanah kita menjadi tandus. Humus yang ada di kulit tanah habis dihanyutkan oleh air yang menyebabkan terjadinya gunung-gunung tandus. Inilah kapital nasional yang harus dijaga”.

Dengan sangat jelas fokus Bung Hatta pada keadilan dan kelestarian penggunaan tanah dan hutan. Pernyataannya ia tegaskan kembali pada saat briefing para pejabat dan tokoh masyarakat di Biak, Papua, pada 3 Juni 1970: “Sekarang bukan lagi berjuang untuk merdeka, tetapi berjuang untuk alam kita, untuk melaksanakan alam itu menjadi bahan kemakmuran bagi kita. Perjuangan kita sudah tertanam dalam Undang-Undang Dasar kita. Untuk mendirikan suatu negara Indonesia yang merdeka dan berdaulat kita sudah laksanakan, tinggal mendirikan Indonesia yang adil dan makmur!”

Pembicaraan yang terkait dengan tanah dan hutan itu juga pernah dilakukan dalam suatu seminar pada 6-7 Oktober 1977 bertajuk “Penjabaran Pasal 33 UUD 1945”. Seminar itu seperti evaluasi setelah 32 tahun merdeka, mengapa pada saat itu ekonomi tidak menjawab masalah kemiskinan dan pengangguran yang justru meningkat.

Bung Hatta mengatakan bahwa hasil-hasil pembangunan hanya berakibat menambah penghasilan berbagai golongan berpendapatan lebih tinggi, yang sudah memiliki modal, alat-alat produksi, jabatan-jabatan yang ada kaitannya dengan golongannya, kredit dan berbagai fasilitas lainnya, tetapi tidak menyentuh golongan yang masih rendah penghasilannya.

Apabila dihubungkan dengan situasi pemanfaatan lahan dan hutan saat ini—setelah 44 tahun seminar itu—keadaannya masih sama, walaupun setelah reformasi 1998 pemerintah telah berupaya mengatasinya.

Misalnya, di Riau, korporasi pulp dan paper telah menguasai hutan seluas 2.028.141 hektare dan perkebunan kelapa sawit telah menguasai 3.444.270 hektare (Ali, 2021). Secara nasional, penguasaan tanah jutaan hektare untuk perkebunan telah berada di tangan hanya beberapa perusahaan grup besar dan konflik lahan pun terjadi di hampir semua provinsi yang mempunyai perkebunan (Dirjen Perkebunan, 2021).

Pemanfaatan hutan juga didominasi perusahaan besar daripada masyarakat lokal dan adat (KLHK, 2020). Bahkan dalam Undang-Undang Nomor 11/2020 tentang cipta kerja, konsesi-konsesi besar mendapat peluang perizinan selama dua kali 90 tahun, dibandingkan dengan persetujuan perhutanan sosial yang hanya dua kali 35 tahun.

Dengan demikian, pokok soal yang dibahas dalam seminar 1977 itu, masih sangat relevan dengan kondisi saat ini. Untuk itu perlu kita pahami makna makalah kunci yang disusun Bung Hatta sebagai menjadi acuan.

Bung Hatta menegaskan dasar pemikiran bagaimana pasal 33 dibentuk, yaitu sistem ekonomi yang dikembangkan dari bawah melalui koperasi untuk memenuhi keperluan hidup rakyat sehari-hari dan kemudian berangsur-angsur meningkat ke atas. Pemerintah membangun dari atas, melaksanakan hal-hal besar seperti penyediaan tenaga listrik, air minum, infrastruktur ekonomi maupun berbagai macam produksi yang menguasai hajat hidup orang banyak.

Selanjutnya, pelaku ekonomi ketiga yaitu swasta, yang mempunyai ruang pengembangan ekonomi di antaranya. Dalam pelaksanaannya, Bung Hatta mengatakan, “Pemerintah berkewajiban membuat peraturan guna kelancaran jalannya ekonomi, yaitu peraturan yang melarang “pengisapan” orang yang lemah oleh orang yang bermodal”.

Sebagai pembahas makalah tersebut, Ruslan Abdulgani (1914-2005)—pemimpin selama revolusi pada akhir 1940-an dan Duta Besar PBB pada pemerintahan Presiden Soekarno—menekankan keharusan adanya keseimbangan antara peran negara dan peran pasar dalam pengaturan kekayaan alam, yang didasarkan pada idealisme dan realisme Bung Hatta.

Ia mengatakan rakyat mempunyai pengembangan ekonomi melalui aktiva koperasi dan aktiva negara menguasai public utilities dan natural riches, harus kita pegang teguh. Dalam hal ini tidak semua aktiva ekonomi harus dijadikan koperasi atau diambil alih negara.

Ruslan memberi alasan: “Karena, jika begitu, negara akan menjadi robot, harkat dan harga manusia akan lenyap. Kleptokrasi akan mendesak demokrasi dan nafsu klepto maniak akan menyelinap ke dalam birokrasi negara, mencuri kekayaan rakyat. Sebaliknya, kalau semua aktiva ekonomi diswastakan tanpa campur tangan, pembinaan oleh pimpinan negara dan pemerintah, maka free-fight liberalisme akan timbul: si kaya dan si kuat akan menghisap si miskin dan si lemah, si pintar akan menipu si bodoh. Kanibalisme ekonomi dan politik akan menjadi kebiasaan. Kombinasi etatisme negara dan kompetisinya liberalisme swasta itu dapat menyempitkan kemakmuran rakyat”.

Dalam seminar itu terungkap bagaimana hal-hal fundamental itu masih belum tercapai, antara lain, adanya penghamburan kekayaan negara termasuk nilai devisa, akibat penyalahgunaan, salah urus, komersialisasi jabatan, manipulasi maupun korupsi.

Dengan begitu, secara keseluruhan bisa kita lihat bahwa persoalan lahan dan hutan itu—yang telah dipersoalkan hampir 50 tahun yang lalu—akibat sistem pemerintahan yang tidak bisa memisahkan antara apa yang harus dijalankan sesuai dengan kepentingan publik, kebijakan afirmatif bagi rakyat yang tertinggal secara ekonomi dan politik, dengan apa yang dapat diberikan peluang-peluang ekonomi bagi swasta, yang berujung pada kanibalisme ekonomi dan politik.

Dua abad sebelumnya, hal itu telah diingatkan oleh pakar ekonomi Adam Smith (1723-1790), yang dahulu sering dikritik karena menyebarkan liberalisme melalui The Wealth of Nations dan The Theory of Moral Sentiments.

Smith curiga terhadap etika dan moral para pelaku bisnis dengan kebijakan pribadinya. Ia pernah berkata kurang lebih sebagai berikut: “Orang-orang dari bisnis yang sama jarang bertemu, bahkan untuk kesenangan dan hiburan, kecuali percakapannya berakhir dengan konspirasi melawan publik, atau untuk menaikkan harga. Pedagang dan pemilik pabrik tidak seharusnya mengatur umat manusia.”

Pikiran itu sejalan dengan konsep Bung Hatta dalam pemanfaatan hutan dan lahan.

Penulis : Hariadi Kartodihardjo

Guru Besar Kebijakan Kehutanan pada Fakultas Kehutanan dan Lingkungan serta fellow pada Center for Transdiciplinary and Sustainability Sciences, IPB.

Sumber : https://www.forestdigest.com/detail/1196/pikiran-bung-hatta-soal-hutan-dan-lahan#.Yw4W1Azmnlc.whatsapp

LAPORAN PROGRESS KERJASAMA KARYA ILMIAH

PROGRESS REPORT KARYA ILMIAH  
NoTanggalKegiatanKeterangan
 1.Juni – September 2021Persiapan proposal karya ilmiahMembuat proposal karya ilmiah untuk diajukan ke sponsorshipMembuat surat pengantar proposal untuk calon sponsorshipPengiriman hardcopy atau softcopy proposal dan surat ke sponsorship
 2.11 Agustus 2021Launching program Karya Ilmiah Launching program Karya Ilmiah ke Universitas Bung Hatta (UBH)  
     
                   
 3.
05 November 2021
Rapat dan Sosialisasi YPBH dengan UBHSelain mahasiswa insentif juga terbuka untuk dosen yang melakukan    penelitian dan dimuat di jurnal nasional/internasional.Nilai bantuan akan dibahas kemudianUBH akan membuat panduan sebelum program disosialisasikan ke civitas academicaRencana sosialisasi akan dilakukan akhir November 2021    
           
 4.07 Desember  2021Rapat dan Sosialisasi YPBH dengan Univ. Mercubuana Jogja Dana untuk ilmiah sesuai visi dan gagasan Bung Hatta akan dialokasikan utk Riset kolaborasi Dosen Mahasiswa dg output Skripsi dan Jurnal internasional.   Hasil : Januari 2022: Penetapan Judul Februari – Maret 2022:   Pelaksanaan Riset Juni 2022: Finalisasi Skripsi dan Pemuatan di Jurnal Ilmiah
 5.15 Desember 2021Sosialisasi program ke kampus UBH yang dihadiri oleh Ibu Prof. Dr. Meutia Hatta, Bapak Prof. Dr. Maizar Rahman, Bapak Prof. Dr. Tafdil Husni.S.E., MBA
 6.01 Januari 2022Pengumuman SOP pengajuan karya ilmiahSaat ini mahasiswa sedang ujian semester. Diperkirakan minggu kedua februari sudah ada proposal karya ilmiah yang masuk
 7.14 Januari 2022Pembahasan penelitian tentang Pengajaran Koperasi di Indonesia dengan Universitas Bercubuana Jogjakarta dan Mubyarto Institute
8.16 Februari 2022Meeting Yayasan Proklamator Bung Hatta dengan Universitas Mercu Buana Yogyakartahttp://proklamatorbunghatta.or.id/wp-content/uploads/2022/02/NOTULEN-RAPAT-YPBH-UMBY-16-Feb-2022.pdf
9.16 Februari 2022Penelitian Kolaborasi Yayasan Proklamator Bung Hatta, Universitas Mercu Buata Yogyakarta dan Mubyarto Institutehttp://proklamatorbunghatta.or.id/wp-content/uploads/2022/02/Penelitian-Kolaborasi-Yayasan-Proklamator-Bung-Hatta.pdf
10.14 Maret 2022UBH mengirim 10 judul karya ilmiah untuk : S1, S3 dan jurnal ilmiah
11.17 Maret 2022YPBH telah mengirim evaluasi atas 10 judul dari UBH
12.12 April 2022Evaluasi judul karya ilmiah dari UBH
13.17 April 2022Tujuh Judul Penelitian dan Publikasi Dosen-Mahasiswa Universitas Bung Hatta Lolos Hibah Pendanaan Yayasan Proklamator Bung Hatta (YPBH)https://bunghatta.ac.id/news-3648-tujuh-judul-penelitian-dan-publikasi-dosen-mahasiswa-universitas-bung-hata-lolos-hibah-pendanaan-yayasan-proklamator-bung-hatta-ypbh-.html
14.11 Mei 2022Berita Kerjasama ilmiah YPBH – UBHhttps://bunghatta.ac.id/news-3648-tujuh-judul-penelitian-dan-publikasi-dosen-mahasiswa-universitas-bung-hata-lolos-hibah-pendanaan-yayasan-proklamator-bung-hatta-ypbh-.html
15.07 Juli 2022Materi Progress Kerjasama Karya Ilmiahhttp://openjournal.unpam.ac.id/index.php/jit/article/view/18524

Panduan Proposal Riset YPBH
http://proklamatorbunghatta.or.id/wp-content/uploads/2022/01/Panduan-Proposal-Riset-YPBH.pdf

Progress Pelaksanaan Sponsorship Kerjasama Karya Ilmiah

No.PendonorPenerima GrantJudul dan Ikhtisar Karya IlmiahScheduleProgressKeterangan
1.PT. Petrokimia Gresik Universitas Bung Hatta – PadangDisertasi S3 atas :
a. Nama : Ir. Afrizal Naumar MT b. Judul : Sistim Pengurusan Air Pertanian untuk Kemampuan Pertanian Padi
PT. Petrokimia Gresik Universitas Mercubuana Yogyakarta Skripsi S1 atas :
a. Nama : Solahuddin
b. Judul : Pengaruh Faktor Pengalaman, Motivasi, Teknologi Informasi dan Diversifikasi Produk terhadap pertumbuhan Bisnis UMKM di Yogyakarta di masa Pandemi
2.PT. Kaltim Medika
3.PT. Kalianusa
4.PT. Pupuk Indonesia Energi
5.Bapak Supramu Santoso

ROKOK KLOBOT DAN HARGA DIRI ANAK BANGSA

Masya Allah

Pada bulan Desember 1949, dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) yang digelar di Den Haag, Belanda.

Dalam sesi rehat, semua orang terganggu karena ruangan dipenuhi asap yang beraroma rempah terbakar. Semua mata tertuju pada seorang pria tua berjanggut yang sedang merokok di pojok ruangan.

Rokok klobot campuran dari tembakau, cengkeh, dan lada.
Delegasi AS perlahan mendekati pria tersebut yang tampak acuh tak acuh meski diperhatikan semua orang. Seketika itu juga beberapa orang dari Delegasi Belanda, Australia, dan Swedia ikut menghampirinya.
“Apa Tuan tidak punya rasa hormat?” ujar Delegasi Belanda.

Pria tua berjanggut itu hanya tersenyum seraya mengembuskan asap rokok yang membentuk huruf O.
Pria tua itu menjawab: “Apa maksud Tuan dengan rasa hormat?”

“Asap dan aromanya itu (rokok) sangat menyengat, mengganggu kami semua,” jawab orang Belanda.

“Tahukah Tuan, aroma itu berasal dari tembakau Deli, cengkeh dari Sulawesi, lada dari Lampung. Ketiga komoditas itulah yang mendorong Tuan beserta balatentara Tuan datang ke negeri kami dan akhirnya menjajah kami. Tanpa ketiga komoditas itu, apa Tuan masih mau datang ke negeri kami?” ucap pria tua itu dengan santun dalam bahasa diplomat berkelas.

“Ya, tapi ini ‘kan tempat terhormat? Tidak ada tempat merokok di sini”, jawab orang Belanda.

“Kami memang tidak pandai menciptakan tempat bagi orang terhormat, tetapi kami mampu beramah-tamah sekian ratus tahun dengan orang yang menjarah negeri kami. Apakah itu kurang cukup mengajarkan Tuan tentang rasa malu?” jawab pria tua itu lagi.

Kemudian pria tua itu menatap ke semua orang yang mengerumuninya, “Setujui dan akui sajalah kedaulatan negeri kami, maka Tuan-tuan tidak akan pernah bertemu dengan orang seperti saya lagi. Tempat terhormat ini tidak akan lagi tercemar dengan asap beraroma tembakau, cengkeh dan lada,” tuturnya.

Orang Belanda itu tersipu malu. Sementara para Delegasi AS, Australia dan Swedia bertepuk tangan sebagai ungkapan rasa hormat.


Siapakah tetua itu?
Ia adalah H. Agus Salim, Bapak Pendiri bangsa Indonesia.
Beliau menguasai 6 bahasa. Diplomat yang seumur hidupnya melarat untuk pengabdiannya kepada kemerdekaan RI. Pada tahun 1953, ia dipercayai menjadi dosen selama setengah tahun di Cornell University, AS._


Proklamasi itu kemerdekaan secara de facto, namun secara de jure orang-orang terbaik bangsa mati-matian memperjuangkannya di Den Haag, Belanda.

Begitulah cara H. Agus Salim menghadapi penjajah beserta kacungnya yang mengatasnamakan “INTERNASIONAL”


Semua orang itu sama. Punya rasa takut, baik itu kepada Tuhan, sesama manusia maupun bencana alam.

*Orang yang kita lihat hari ini berani karena dulunya sering diintimidasi oleh rasa takut. Karena sudah biasa menghadapi rasa takut, akhirnya mereka mampu mengendalikan rasa takutnya menjadi kekuatan untuk berani.

NAMA JALAN DI LUAR NEGERI YANG MENGGUNAKAN NAMA TOKOH/PAHLAWAN INDONESIA

HALLLOOOOOOOOOOOOOOOOOO……..
Bahasan kali ini tuh tentang nama jalan diluar negri yang menggunakan nama tokoh/pahlawan Indonesia. Keren kann??nah makanyaa dari pada penasaran mending langsung baca ajaa..

1.       RUE SOEKARNO – RABAT, MAROKO

Rue Soekarno telah resmi dikenalkan sebagai nama pada jalan di ibu kota Maroko Rabat mulai tanggal tanggal 2 Mei 1960. Penamaan itu adalah salah satu bentuk penghargaan yang diberikan Raja Muhammad V atas jasa Ir. Soekarno pada Maroko.

 
2.     MOHAMMED HATTA STRAAT – HARLEEM, BELANDA

Tokoh tersebut pastinya sudah tidak asing lagi. Sebagai tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia yang pernah belajar di Belanda, maka pemerintah Belanda melalui walikota RH Claudius mengabadikan namanya sebagai nama jalan di Harleem Belanda.

https://goo.gl/maps/kn8pZEXKSA1QjV226

3.       R A KARTINISTRAAT – AMSTERDAM, BELANDA

Di kawasan Amsterdam Zuidoost atau yang dikenal dengan sebutan Bijlmer Anda bisa melihat papan nama jalan bertuliskan Raden Ajeng Kartini Straat. Selain di tempat tersebut nama jalan Kartini juga bisa ditemukan di Harleem dan Utrech. Nama R A Kartini dipakai untuk menghormati perjuangan beliau karena telah membela hak-hak perempuan.

4.       SJAHRIRSTRAAT – LEIDEN, BELANDA

Mantan Perdana Menteri Indonesia inijuga terkenal dekat dengan kalangan aktivis politik di Leiden. Sutan Sjahrir pernah belajar di Fakultas Hukum Universitas Amsterdam lalu pindah ke Leiden School Of Indology. Dari sini ia memperluas pergaulannya jadi akhirnya nama beliau diabadikan menjadi nama sebuah jalan di kota Leiden.

5.       IRAWAN SOEJONOSTRAAT – AMSTERDAM, BELANDA

Nama ini mungkin asing bagi telinga orang Indonesia. Beliau merupakan anak dari Raden Ario Adipati Soejono, salah satu menteri pertama Indonesia. Bagi orang Belanda, Irawan tak lain adalah pemuda Indonesia yang gagah berani. Irawan terbunuh pasukan SS Nazi Jerman yang ketika itu sedang menguasai Belanda. Sekarang namanya diabadikan sebagai nama jalan di kota Amsterdam.

6.       AHMED SOKARNO ST – MESIR

Nama Ahmed diberikan pada nama jalan tersebut karena bung Karno dikenal dengan nama Ahmad Soekarno di Mesir. Nama tersebut diberikan oleh Gammal Abdul Nasser sebagai pemimpin waktu itu. Dipilihnya nama Soekarno untuk nama jalan karena pada tahun 1955 Sukarno berjasa sebagai pencetus Konferensi Asia Afrika (KAA).

7.       MUNIRSTRAAT – DEN HAAG, BELANDA

Munir adalah pembongkar kasus penculikan aktivis tahun 1997-1998. Pemberian nama Munir sebagai nama jalan ini didasarkan atas semangat dan jasanya memperjuangkan Hak Asasi Manusia di Indonesia.

sumber: www.liveberita.com

https://fkhnissaa.weebly.com/blog/nama-jalan-di-luar-negeri-yang-menggunakan-nama-tokohpahlawan-indonesia

KESAN ABADI PARA TOKOH TENTANG BUNG HATTA

(Dipetik dari : BUNG HATTA, Pribadinya dalam Kenangan. Penyunting: Meutia Farida Swasono)

  1. Mochtar Lubis (jurnalis, sastrawan ternama)
    Citra Bung Hatta bagi saya, anak manusia yang amat cinta pada bangsa dan tanah airnya, yang sepanjang hayatnya merisaukan nasib rakyat dan bangsa, penuh kejujuran dan keberanian intelektual, kokoh integrita pribadinya, adil dan tiada dihantui nafsu berkuasa maupun menumpuk harta.
    Dalam dirinya dia berhasil menghimpun nilai-nilai manusia Indonesia yang banyak telah hilang dalam diri banyak kita; sikap sederhana, hidup sederhana, sopan dan santun yang tinggi, kejujuran, cinta pada kebenaran dan keadilan, keberanian berpikir dan menyatakan pikiran, integrita pribadi dan ilmu, tiada nafsu berkuasa atau mengejar kekayaan.
    Bung Hatta juga cemas melihat betapa lemahnya kita sekarang melindungi perdagangan dalam negeri kita, yang seharusnya berada dalam tangan bangsa Indonesia sendiri. Bung Hatta tahu benar, dalam distribusi barang dalam negeri, banyak modal-modal asing berselubung melakukan perannya.
  2. A. H. Nasution (pejuang, pahlawan nasional, panglima, ketua MPR).
    Bung Hatta teladankan konsistensi pada prinsip-prinsip. Beliau sangat konsisten dalam melaksanakan dan membela kebijaksanaannya, dan tidak pandang bulu berhadapan dengan siapapun. Beliau sebagai teladan ideal. Seperti juga Bung Karno, dr Sutomo dan pemimpin-pemimpin nasional lainnya yang kita banggakan, maka Bung Hatta meneladankan identitas mahasiswa Indonesia, yakni yang sambil studi pula secara harmonis, bergiat sebagai aktivis mahasiswa, seraya pula memperjuangkan aspirasi rakyatnya. Mereka bukanlah sekedar menjadi pemikir, tetapi lebih-lebih lagi, merupakan pejuang dan pemimpin. Dan tantangan-tantangan perjuangan bukanlah penghambat bagi mereka, melainkan adalah menjadi penggembleng.
  3. Emil Salim (ahli ekonomi, cendekiawan, mantan menteri dan saat ini sebagai Ketua Wantimpres)
    Mendidik orang berpikir, berlaku dan bertindak demokratis, ini kentara dalam diskusi yang berkembang antara Bung Hatta dengan sekelompok mahasiswa waktu itu. Masalah yang dikupas bisa bersifat emosional, tetapi emosi tak pernah mempengaruhi Bung Hatta dalam diskusi. Tanpa disadari para pemimpin-pemimpin mahasiswa masa itu dididik memahami dan mempraktekkan asas-asas demokrasi.
    Beliau berpesan agar terus menerus dikembangkan kebiasaan beradu pendapat dan bertukar pikiran……………saya teringat kembali ungkapan Prancis… yang Bung Hatta paterikan dalam lubuk hati saya, “ dalam pertumburan beda pendapat, lahir kebenaran-kebenaran baru!”.
    Semangat solidaritas Bung Hatta terhadap Bung Karno dan anggota Pemerintah lainnya sangat kuat. Tidak ada dalam kamus beliau cara berpolitik “menikam dari belakang”. Beliau tidak menutup mata terhadap kekurangan yang ada. Dan adalah kebiasaan beliau untuk secara terus terang mengungkapkannya dalam surat tertulis kepada pihak yang berkepentingan. Tetapi keluar, ke masyarakat umum, beliau tegakkan sikap seorang demokrat. Sekali keputusan sudah diambil,
    betapapun tidak disetujui sepenuhnya isi keputusan itu, namun sebagai demokrat beliau tunduk pada keputusan itu.
    Waktu di Universitas California, Bung Hatta diminta pendapatnya tentang Bung Karno. Beliau jawab polos, “ Dalam beberapa hal saya memang berbeda pendapat dengan Bung Karno. Tetapi Bung Karno adalah Presiden Republik Indonesia, negara yang saya perjuangkan kemerdekaannya bertahun-tahun. Sebagai warga Negara Republik Indonesia yang ditegakkan atas dasar Pancasila, saya bisa berbeda pendapat, namun tidak mengurangi hormat saya kepada Bung Karno, presiden negara saya. Right or wrong he is my president. Presiden dari Negara Republik Indonesia yang saya cintai!”
  4. Sri Sultan Hamengkubuwono IX
    Bung Hatta adalah seorang pemimpin nasional yang berwatak dan berbudi luhur. Saya dapat kesan positif bahwa yang diutamakannya ialah perjuangan kita dan keadaan rakyat. Hal ini sangat berkesan bagi saya. Bila semua orang berjiwa seperti beliau, tak ada kekuatan di dunia yang dapat mematahkan revolusi kemerdekaan kita. ….beliau tidak memikirkan diri sendiri namun pasrah kepada Tuhan. Dapat saya rasakan harapan beliau atas hari depan Bangsa dan Negara yang cerah, penuh keadilan dan kemakmuran.
  5. Deliar Noer (pemikir, peneliti, politikus)
    Sifat pokok pada diri Bung Hatta yang menyebabkan beliau dihargai secara khusus….. ialah sifat taqwa, bagi seorang Muslim…” Yang termulia di sisi Allah adalah yang paling taqwa.” (Qur’an 4:13). Sifat-sifat taqwa yang disebutkan dalam Qur’an 2:3,4 dimiliki Bung Hatta dengan tuntas. Semenjak kecil ia telah terbiasa beribadah: sembahyang lima waktu, puasa dalam bulan Ramadhan, dan zakat, sesudah ia mempunyai harta sekedarnya. Ia lakukan ini baik ketika berada di tanah air, maupun ketika studi di Negeri Belanda, ataupun bermukim di tanah pembuangan, di tengah kesibukan sebagai orang pergerakan, ataupun sebagai wakil presiden, dan kemudian kembali sebagai rakyat biasa.
    Ketaqwaan itu tercermin pula dari sikapnya pada sesama manusia. Ia menganggap semua manusia sama. Hal itu bukan saja tercermin dalam pemikiran beliau dalam politik, tetapi juga dalam tingkah laku sehari-hari. Ia menerima siapa saja dengan ramah dan senyuman, menyapa yang tua “serta” yang muda dengan lemah lembut.
    Ketika ia di atas, ia memberikan contoh sebagai pemimpin, ketika ia di bawah iapun memberikan contoh bagaimana harusnya menjadi orang biasa. Disinilah letak sikap diri seorang yang dalam hubungannya dengan Allah, senantiasa sadar akan kedudukannya: ‘abd, hamba, yang membedakannya hanya taqwanya. Oleh sebab itu pula ia teguh dalam pendirian, tidak terombang ambing oleh keadaan, tidak terbawa oleh pasang surut suasana. Seperti yang sering ia anjurkan: menjaga individualitas, kepribadian, dan integritas.
  6. Sumitro Djojohadikusumo (begawan ekonomi, perancang ekonomi Indonesia)
    Betapapun sibuknya………..Bung Hatta senantiasa meluangkan waktu bagi golongan muda untuk mengadakan pertukaran pikiran secara leluasa atau untuk mendengarkan dengan penuh kesabaran apa yang menjadi keluhan hati mereka.
    ………beberapa peristiwa perselisihan pendapat dan pertentangan pendirian antara Bung Hatta dan saya dan sikap amarah yang saya alami dari beliau, …………………tidak pernah mengganggu
    3
    sedikitpun hubungan baik yang terus berlangsung dan tetap terpelihara dalam pergaulan pribadi antara kami berdua. Disinilah menonjolnya kebesaran jiwa pribadi Mohammad Hatta yang secara nyata membedakan selisih pendapat mengenai sesuatu masalah dari hubungan pribadi di antara se sama manusia di mana beliau selalu menunjukkan sikap saling harga-menghargai. ………saya dapat menyelami makna sebuah pepatah dalam bahasa asing yang juga menjadi salah satu patokan hidup bagi beliau “ barang siapa yang tulus menunjukkan kekurangan dan kelemahan yang melekat pada diri saya, orang itu adalah kawan sejati.
    Saya merasa dianugerahi kebahagiaan, bahwa dalam kehidupan saya, pernah saya kenal dari dekat seorang manusia besar yang namanya Mohammad Hatta.
  7. Rosihan Anwar (sejarawan, sastrawan, tokoh pers dan budayawan)
    Menghadapi realitas keras yang sepahit-pahitnya sekalipun, Bung Hatta tidak kehilangan keseimbangan………..dia memandang ke depan, berangan-angan, penuh cita-cita. Sudah barang tentu bukan sifat Stoicijn (sangat tabah) yang melekat pada Bung Hatta sehingga dia tidak gampang digoncangkan oleh keadaan yang dilihatnya, betapapun getirnya. Ada yang lebih dalam daripada itu yang mendasari sikap dan peri lakunya. Hanya orang yang beriman dan hidup dengan cita-cita, seorang idealis yang sanggup berbuat demikian.
  8. Masagung (Pendiri toko Gunung Agung, pebisnis)
    Bung Hatta sederhana orangnya, takwa kepada Tuhan, berjiwa besar. Beberapa bulan sebelum meninggal, beliau mengirim surat pribadi kepada saya. Isinya kira-kira begini, “ Kalau ada yang melarang buku-buku Soekarno, termasuk Kejaksaan Agung, saya heran. Saya tidak setuju, karena buku-buku Soekarno itu penting untuk perjuangan rakyat Indonesia, dan harus diketahui rakyat, untuk masa sekarang maupun untuk masa datang.” Inilah salah satu bukti jiwa besar beliau, walaupun dalam hal politik sering beliau berbeda dengan Soekarno.
  9. A.R. Baswedan (pejuang kemerdekaan, diplomat, sastrawan, jurnalis)
    Kesederhanaan Bung Hatta sangatlah menonjol. Di tengah alam “perlombaan kemewahan”, sikapnya mencerminkan kesederhanaan itu. Celana dan kemeja batiknya biasa-biasa saja. Sikap tegasnya memang memukau. Keberaniannya untuk mengemukakan pendapat jika itu benar, adalah ciri pribadi yang perlu menjadi contoh. Bung Hatta tak pernah mengomentari orang lain yang tidak tegas, akan tetapi tindakan dia sudah cukup menjadi cermin yang membuat kita bertanya: Sudah begitukah kita ? Itulah Hatta yang saya kenal, yang dalam pribadinya tercermin segenap pikiran dan pandangannya, dalam gerak langkahnya terbaca falsafah hidup yang dihayatinya.
  10. Meutia Farida Swasono, Gemala Rabi’ah Chalil Hatta, Halida Nuriah Hatta (Putri-putri Bung Hatta)
    Ayahku merupakan figur utama dan kuat dalam keluarga kami. Beliau adalah pelindung, pedoman, pemersatu dan pendamai dalam keluarga besar kami, baik dari pihak Batuhampar maupun Bukittinggi, bahkan juga dari pihak keluarga ibu saya. Ayah adalah segala-galanya bagi kami semua (Meutia).
    Ayah selalu menasihati saya agar keuangan saya yang sedikit itu diatur sebaik mungkin sehingga bila ada sisa, dapat ditabung. Memang, sesungguhnyalah, Ayah itu adalah penabung yang sangat ulung. Kehidupan beliau yang jauh dari mewah, membuat kita, anak-anak yang menghargainya. Buat Ayah, kepercayaan yang kuat kepada Tuhan Yang Maha Esa sudah menimbulkan kebahagiaan bagi kehidupannya. Beliau tidak pernah mempersoalkan kurangnya uang pensiun, apapun diterimanya tanpa banyak bicara (Gemala).
    Seluruh kehidupan Ayah telah membuktikan suatu kedisiplinan hidup yang luar biasa. Beliau tidak pernah terus-menerus menekankan kepada kami untuk hidup berdisiplin. Tetapi dari cara hidup Ayah yang penuh contoh kedisiplinan pribadi, kami secara tidak langsung dipengaruhi beliau. Disinilah kehebatan Ayah. Bagi beliau, meneladani adalah jauh lebih bermanfaat daripada mengindoktrinasikan (Gemala).
    Bukanlah hal yang berlebihan, bila aku menceritakan di sini tentang kelembutan ayahku. Beliau tidak pernah memaki atau memarahi anaknya sejadi-jadinya. Cukup dengan ucapan saja, anak-anak mau menurut ayah. Berkumpul sekeluarga di meja makan, merupakan hal yang paling Ayah inginkan. Ayah tidak mengucapkannya, namun kami sekeluarga mengetahuinya sendiri (Halida).
    Orang mengetahui bahwa Ayah dan Bung Karno adalah dua orang yang berbeda watak. Sebelum Kemerdekaan, mereka saling berkeras satu sama lain, yang tampak dari tulisan-tulisan mereka. Namun pada suatu ketika, beliau berdua bersatu dalam menjalankan tugas memprolakmasikan Kemerdekaan Negara Indonesia dan menjalankan pemerintahan negara yang masih sangat muda itu. Betapapun belainannya sifat pribadi mereka, demi keutuhan bangsa, mereka bersatu karena negara membutuhkan kedwitunggalan mereka. Orang juga mengetahui bahwa ketika kebersamaan mereka tak dapat dipertahankan. Ayah melihat bahwa sudah waktunya keputusan lain diambil: meletakkan jabatan sebagai Wakil Presiden, demi keutuhan bangsa pula (Meutia).
  11. S.K Trimurti (pejuang, wartawati, penulis, menteri).
    Saya bukan termasuk golongan Bung Hatta dalam wadah perjuangan politik. Partai saya bukan partai Bung Hatta ketika itu. Strategi dan taktik perjuangan saya bukan strategi dan taktik yang dipolakan Bung Hatta. Dan perkenalan saya secara pribadi dengan beliau baru mulai pada tahun 1943 di Jakarta. Namun dari wadah yang berbeda itu, saya dapat menilai seorang manusia yang jujur, yang mengatakan apa adanya. Sekalipun yang dikatakan “benar” itu lawannya, tetapi kalau beliau yakin bahwa dia benar, maka dikatakanlah dia benar. Sebaliknya, sekalipun kawan, kalau memang tidak benar, menurut pengamatan Bung Hatta, akan dikatakannya tidak benar juga. Akhirnya sebagai manusia biasa, Bung Hatta tentu punya kekurangan-kekurangan dan cacat-cacat. Akan tetapi kalau semua itu dibandingkan dengan sifat-sifatnya yang baik, maka kekurangan-kekurangan itu jadi tidak seberapa.
  12. H. Roeslan Abdulgani (pejuang, negarawan, diplomat dan politikus, Menteri Luar Negeri Indonesia pada tahun 1956-1957)
    Bung Hatta sebagai manusia juga berkadar emosi. Beliaupun dapat mencintai, tapi juga dapat membenci. Mencintai barang haq, dan membenci barang bathil. Mencintai kemerdekaan dan keadilan, membenci penjajahan dan kedholiman. Dan beliau tidak tinggal diam. Melainkan bersuara dan ada kalanya menulis surat kepada Pimpinan Negara. Watak kepekaan beliau sebagai pribadi, yang tidak dapat melihat penyalah gunaan kekuasaan dan ketidakadilan, membuat beliau berfungsi sebagai Pengawal dan Penjaga Hati Nurani Rakyat kita, yang masih cupet hidupnya dan kurang pengetahuannya itu.
    Bagi generasi dulu: politik adalah karakter! Politik adalah watak. Watak pejuang, yang patriotik, nasionalistik, demokratik, sosialistik dan humanistik. Itulah arti pokok:politik. Sangat sederhana. Kalau politik diartikan secara berliku-liku dan naif, maka politik bukan lagi sumber etik, melainkan sekedar teknik untuk memperoleh kekuasaan dan mempertahankan kekuasaan itu bagi dirinya sendiri.
    Sederhana dalam pikiran dan sederhana dalam cara hidup. Bung Hatta memiliki dua kesederhanaan itu. Dalam kesederhanaan berpikirnya, Bung Hatta memiliki daya analisa yang tajam, mendalam dan mendasar. Dalam kesederhanaan hidupnya, Bung Hatta memiliki kekayaan ilmu, kekayaan buku, kekayaan kawan dan keluarga yang berkualitas. Beliau tidak pernah tinggalkan Amanat Penderitaan Rakyatnya, yang sejak dulu kala mendambakan kemerdekaan, keadilan dan kemakmuran. Kesetiaan Bung Hatta kepada cita-cita rakyatnya itu adalah sangat sederhana, tanpa pamrih, tapi sangat dalam. Kesederhanaan itu juga mendasari watak pribadinya sebagai manusia. Semoga pemuda Indonesia,yang beliau sering puja sebagai “pahlawan dalam hati beliau”, pandai belajar dari pribadi Bung Hatta sebagai manusia pemikir dan manusia pejuang.
  13. George Mc T. Kahin (sejarawan dan pakar ilmu politik tentang Indonesia dan Asia Tenggara, Cornell University)
    Hatta memegang teguh dan tidak mau melepas prinsip-prinsip yang dianutnya. Dia tidak pernah melepaskan keyakinannya bahwa Indonesia harus mempertahankan politik luar negeri yang bebas dan tidak memihak. Argumentasi Amerika bahwa kebebasan seperti itu tidak mungkin dalam dunia yang berpolaritas dan bantuan Amerika untuk pemberontakan-pemberontakan kedaerahan dalam tahun 1957-1958 dianggap Hatta sebagai argumentasi yang bodoh dan keliru serta merugikan baik bagi Indonesia maupun bagi Amerika Serikat, karena segera memaksa Jakarta berpaling kepada Uni Soviet.
    Dia mempertahankan pendiriannya bahwa luasnya Indonesia dan variasi kedaerahannya sangat tidak cocok dengan sentralisme pemerintahan. Untuk mencapai persatuan yang murni berdasarkan keserasian sosial dan politik, perlu diadakan otonomi daerah yang lebih besar. Pandangan ini diucapkannya jauh sebelum terjadinya pemberontakan PRRI dan Permesta.
    Dia tidak pernah meninggalkan keyakinannya bahwa apabila koperasi pedesaan itu diurus oleh tenaga yang terlatih dan diberi dana permulaan yang cukup, kemungkinan keberhasilan cukup besar. Dia terus memandang koperasi sebagai sarana untuk meringankan beban para petani dan membantu mereka mempertahankan tanah mereka. Dia yakin bahwa koperasi adalah sarana yang paling baik untuk menjamin tercapainya keadilan sosial yang lebih besar bagi mayoritas pedesaan yang menjadi sasaran eksploitasi atau, dalam kata-kata Hatta sendiri, “jembatan ke arah demokrasi ekonomi”.
  14. Ali Sadikin (Gubernur DKI, 1966-1977)
    Selaku Gubernur DKI saya diberi kehormatan mendapat penugasan menyampaikan keputusan DPRD DKI tentang pengangkatan Bapak Dr. Mohammad Hatta sebagai ‘Warga Utama Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta’ tanggal 31 Juli 1972. Saya sekali-sekali berkunjung ke rumah beliau sebab saya merasa beliaulah sebagai orang tua yang sangat saya tuakan di Republik ini setelah Bung Karno tiada.
    Tentang sistem pengangkatan anggota DPR-MPR, Bung Hatta menegaskan kepada saya bahwa pemilu sebagai sarana demokrasi adalah dimaksudkan dalam rangka mewujudkan kedaulatan rakyat, sedangkan kedaulatan rakyat adalah hal yang fundamental yang secara tegas disebutkan baik dalam Preambule maupun pada batang tubuh UUD 1945.. Maka menurut Bung Hatta, sistem pengangkatan DPR-MPR adalah tidak sesuai dengan kedaulatan rakyat yang dimaksud oleh UUD 1945.
    Bung Hatta sebagai manusia besar bangsa kita, menjadi pemimpin dan intelektual yang betul-betul dipersiapkan dan mempersiapkan diri sejak usia muda. Dalam perjalanan hidup beliau, kita menyaksikan seolah-olah segala sesuatunya dijalani Bung Hatta dengan serba berencana disertai disiplin yang kuat dan secara konsisten pula. Benar-benar beliau mendapatkan petunjuk dan takdir kehidupan pejuang bangsa yang bahagia, indah dan penuh kenangan.
  15. Bermawy Latief (pejuang kemerdekaan, anggota KNIP)
    Manakala Ir Soekarno berpendapat “mengambil kekuasaan dengan kerongkongan”, maka Bung Hatta berpendapat ”Organisasi mendatangkan kekuatan”. Dua cara dari dua pemimpin besar ini jangan dipertentangkan, tetapi kita hendaknya memperpadukannya: Soekarno ialah sebagai juru-bicara massa rakyat dan Bung Hatta sebagai pemikir dan penyusun cita-cita dengan konsepsional yang mendasar.
    ………bertemu dengan Bung Hatta, kami mendapat kesan bahwa wajah beliau jernih, urat-urat mukanya menunjukkan seorang manusia yang beriman dan berkarakter, satu kata dengan perbuatan, manusianya jujur lillahita’ala……beliau keras dalam disiplin pergerakan dan lembut/halus sebagai sutera dalam hubungan ke segala pihak, baik terhadap lawan sekalipun. Beliau suka menolong.
  16. Biju Patnaik (pilot, pengusaha, pejuang kemerdekaan India, anggota parlemen dan menteri, beliau, di tengah kepungan Belanda, menerbangkan Bung Hatta dari Bukittinggi ke New Delhi India untuk bertemu pemimpin-pemimpin India, di bulan Juli 1947).
    Menulis tentang Dr Hatta adalah menulis tentang perjuangan kemerdekaan Indonesia. Usahanya, perencanaannya yang matang dan seksama ketika dia berada dalam misi rahasia di luar negeri, meletakkan dasar yang membawa aspirasi Indonesia ke luar batas koloni Belanda dan menjadikan aspirasi itu terkenal di dunia-ini merupakan langkah raksasa dalam perjalanan ke arah pengusiran penjajah Indonesia. Saya memperoleh kehormatan menjadi salah satu alat untuk mencapai tujuan ini.
    Selama pertemuan Dr Hatta di New Delhi, para pemimpin India, baik Nehru, Patel maupun yang lain, terpesona oleh keterangan Bung Hatta yang jelas, jalan pikirannya yang jernih, serta saran-sarannya yang tepat dan praktis….dan telah menjadikan pemimpin India bertekad untuk berusaha sekeras-kerasnya untuk memberikan dukungan sepenuhnya kepada Indonesia.
    Dengan berakhirnya hidup Dr Hatta, Indonesia telah kehilangan salah satu putranya yang besar, dan kita yang telah memperoleh kehormatan mengenalnya kehilangan seorang sahabat yang kita cintai dan hormati.
  17. Joesi Darik
    Orang yang mengenal pribadi Bung Hatta diingatkan pada sebuah sajak kecintaan dan pedomannya: Hanya satu Tanah yang bernama Tanah Airku, ia makmur karena usaha, dan usaha itu adalah usaha sendiri. Itulah baIgian yang terkandung dalam kalbu beliau.
    Kata Henrik Ibsen, seorang pujangga besar Denmark pada abad ke-19: “ Demokrasi saja tidak akan memecahkan persoalan masyarakat. Satu unsur kebangsawanan harus dimasukkan dalam hidup kita. Yang saya maksud tentulah bukan bangsawan keturunan, bangsawan kekayaan, malah juga bukan bangsawan intelek, yang saya maksud ialah bangsawan karakter, bangsawan kemauan dan bangsawan pikiran. Itulah yang membebaskan kita……..
    Bung Hatta adalah bangsawan karakter, bangsawan kemauan dan bangsawan pikiran. Beliau ingin para pemimpin Indonesia masa datang adalah bangsawan karakter, bangsawan kemauan dan bangsawan pikiran untuk merampungkan cita-cita nasional, Indonesia yang adil dan makmur.
  18. Des Alwi (sejarawan, diplomat, penulis, anak angkat Bung Hatta)
    Selama di Banda (masa pembuangan), Oom Hatta tidak pernah bergaul dengan orang-orang Belanda ataupun pegawai-pegawai pemerintah kolonial. Ia lebih senang bergaul dengan penduduk dan tokoh-tokoh kampung di Banda, seperti para tanase, atau para kepala nelayan. Oom Hatta sangat ramah terhadap penduduk. Oom Kacamata (Bung Hatta) selalu bersikap lembut dan tidak pernah memaki orang, walaupun ia jengkel dan marah bila menghadapi murid-murid yang bodoh. Oom Kacamata memiliki wibawa tinggi. Kaki dan suara murid-murid akan gemetar bila kedapatan angka merah di rapor sekolah.
    Ada kesan mendalam pada diri saya mengenai Oom Hatta. Oom Hatta adalah tokoh yang sama sekali tidak materialistis. Kepada saya, Oom Hatta selalu menekankan agar kita tidak boleh kejam terhadap manusia. Oom Hatta adalah tokoh yang dikenal jujur dan kokoh dalam prinsip. Ia adalah tokoh yang sangat dominan dalam diri saya, sehingga sayapun bertanya, apakah masih ada tokoh pengganti Bung Hatta, ataukah Oom Hatta adalah yang terakhir yang saya kenal di persada Indonesia pada masa sekarang ?
  19. Maskoen Soemadiredja (Pejuang, Pahlawan Nasional)
    Kedatangan Bung Hatta ke dalam arena politik di tanah air membawa cara perjuangan baru, ialah metode perjuangan rasional. Perjuangan tidak berdasarkan metode agitasi dan demonstrasi membangunkan semangat dan emosi rakyat, melainkan melalui dasar pendidikan politik, menanamkan pengertian dan kesadaran politik dan terutama membina mental/spiritual, membina watak dan menanamkan semangat percaya pada diri sendiri serta menanamkan rasa tanggung jawab.
    Bung Hatta memiliki pandangan jauh ke muka, yaitu bahwa perjuangan politik di tanah jajahan yang menuntut kemerdekaan tanah air, menuntut para pemimpinnya memiliki landasan keteguhan watak, sebab itu kader-kader harus dibina wataknya agar tahan uji dalam menghadapi macam-macam percobaan dalam perjalanan perjuangannya. Oleh karena itu politik di tanah jajahan, menurut Bung Hatta, lebih mengandung arti pendidikan. Pendidikan adalah senjata utama untuk mencapai kemerdekaan tanah air.
  20. Solichin Salam (wartawan, penulis)
    Bung Hatta dikenal sebagai seorang yang tekun dan taat, tidak saja kepada agama, melainkan juga terhadap segala peraturan dan perundang-undangan yang berlaku. Sekalipun kadang-kadang beliau pribadi tidak setuju terhadap sesuatu,….Bung Hatta tunduk dan menjalankan keputusan tersebut. Di sini tergambar jiwa Bung Hatta sebagai demokrat sejati. Dan setiap tugas yang dibebankan di atas pundak beliau akan dilaksanakan sebaik-baiknya tanpa memikirkan kepentingan pribadi. ….Apalagi menuntut sesuatu tanda balas jasa, tiada terdapat dalam kamus kehidupan Bung Hatta……Beliau tidak sedih atau meratap kalau jasanya tidak dihargai. Akan tetapi Bung Hatta merasa pedih dan sedih apabila nasib rakyat Indonesia semakin sengsara dan menderita hidupnya. Itulah jiwa manusia Hatta. Itulah tipe seorang Pemimpin rakyat sejati. Sayang Indonesia hanya memiliki seorang manusia seperti Bung Hatta ini. Mudah-mudahan generasi yang akan datang akan dapat banyak belajar dari sejarah hidup dan perjuangan Bung Hatta.
  21. I. Wangsa Widjaja (Sekretaris pribadi Bung Hatta)
    Dalam perjuangan, Bung Hatta tidak takut menghadapi percobaan, penangkapan dan pembuangan. Sebagai seorang demokrat tulen, beliau menghargai pendapat orang lain meskipun pendiriannya berlainan. Ucapan Bung Hatta tidak pernah mengandung perasaan benci kepada orang yang berlainan pendirian politiknya.
    Kalau Bung Hatta berbicara, beliau selamanya bercerita dalam Bahasa Indonesia yang bagus, kecuali dengan orang asing. Tulisan-tulisan beliau, pidato-pidato beliau tak pernah dicampuradukkan dengan bahasa asing, kecuali sepatah dua istilah asing yang belum ada terjemahannya dalam bahasa Indonesia.
    Bung Hatta juga sangat menghormati bendera Sang Saka Merah Putih. Beliau akan marah kalau melihat orang membawa bendera sembarangan atau dibiarkan jatuh ke tanah.
  22. Ny. Maria Ulfah Subadio (tokoh pembela perempuan, menteri)
    Kejujuran, kesederhanaan dan kesungguhan yang diperlukan seorang pemimpin, sangat menonjol pada Bung Hatta. Waktu mendengar Bung Hatta wafat, saya merasa kehilangan besar, suatu kekosongan. Tidak ada lagi seorang Tokoh yang berwibawa dan disegani ke mana kita dapat datang untuk mengemukakan dan membicarakan berbagai hal mengenai keadaan rakyat, bangsa dan negara kita. Bung Hatta selalu bersedia menerima dan mendengarkan teman-teman atau siapapun yang datang padanya. Sekarang Bung Hatta telah tiada, meninggalkan kita untuk selama-lamanya. Kita kehilangan seorang Bapak, seorang pejuang yang seluruh hidupnya diabdikan untuk kemerdekaan negara, dan bangsanya serta kesejahteraan rakyatnya.
  23. Suparman Sumahamijaya (pakar kewirausahaan dan kewiraswastaan)
    Pendapat orang banyak secara tulus setelah Bung Hatta pergi adalah sebagai berikut:
    Bung Hatta adalah negarawan besar; Bung Hatta adalah Pengawal Hati Nurani nasional Bangsa Indonesia; pengaruh Bung Hatta terhadap jalannya perjuangan terhadap kemerdekaan Indonesia adalah besar dan sangat menentukan; Bung Hatta tiada terpisahkan dari kepemimpinan nasional Dwitunggal Soekarno-Hatta; Bung Hatta adalah pendekar pendidikan; Bung Hatta adalah seorang sarjana yang hidup bersahaja; Bung Hatta pejuang yang tidak absen juga dalam Orde Baru; Bung Hatta sebagai pejuang Kedaulatan Rakyat; Bung Hatta sebagai pencetus usaha ekonomi bersama berdasarkan asas kekeluargaan; Bung Hatta sebagai Bapak Koperasi; Bung Hatta sebagai seorang kritikus yang berani karena yakin akan tanggung jawabnya; Bung Hatta adalah seorang Pancasilais yang saleh; Bung Hatta tak pernah terlibat dalam persoalan uang maupun wanita; Bung Hatta yang konsekuen anti-komunis maupun anti-kapitalis, liberal dan anti-individualisme. Yang paling utama dan sangat penting untuk diambil sebagai pelajaran dari kehidupannya adalah bahwa Bung Hatta adalah manusia yang sangat konsekuen dalam perjuangan dan upayanya untuk melindungi, mencerdaskan dan memajukan, terutama mereka yang termasuk lapisan rakyat kecil.
    Kita ditantang oleh pertanyaan: Mampukah kita menjadikan diri kita masing-masing sebagai manusia teladan sepanjang masa. Memang sungguh berat tanggung jawab setiap pemimpin dan oleh sebab itu hendaknya dia selalu waspada akan jeritan rakyat miskin yang masih terlalu banyak jumlahnya. Janganlah hanya ingin memetik kebesarannya saja tetapi hendaknya pula mau dan bertekad untuk melindungi, mencerdaskan dan memajukan terutama rakyat kecil.
    Masih adakah manusia teladan atau sudah gersangkah rahim bangsa ini……. setiap generasi patut mempersiapkan diri agar mampu mengemban tugas berikutnya yang mungkin jauh lebih berat lagi. Marilah kita lanjutkan perjuangan yang luhur dari semua manusia besar termasuk Bung Hatta dalam mewujudkan cita-cita bangsa membangun massyarakkat Pancasila yang adil dan makmur bebas dari kemiskinan dan pengangguran.

Bung Hatta Dalam Politik Distributif Dan Kedaulatan Rakyat

ABI REKSO PANGGALIH

Rabu, 24 Juni 2020


Sejak muda Hatta sudah cukup yakin dengan sistem pemerintahan yang harus dikelola dengan mekanisme demokrasi. Dalam sikap pembelaannya di Belanda, Bung Hatta menggugat prinsip-prinsip demokrasi Barat terhadap realitas politik kolonialisme Hindia Belanda.


Selain penjajahan bangsa lain, Hatta melihat kepemimpinan yang otoritarian oleh bangsa sendiri juga menjadi ancaman terhadap rakyat. Hal ini diperlihatkan pada pemerintahan fasis di Jerman. Pemerintahan totalitarian Hitler melahirkan sengsara untuk bangsa Jerman dan bangsa lain.


Landasan Hatta menyetujui sistem demokrasi, memanglah akar dari Barat di mana sistem ini adalah konsekuensi logis atas penalaran liberalisme. Pandangan liberalisme ini mengacu pada persoalan kebebasan dan perlindungan hak-hak individu, serta mempertimbangkan aspek-aspek lain. Cara berfikir seperti ini banyak diadopsi oleh kelompok utilitarian seperti Bentahm dan J.S Mills pada abad 19, dengan slogan ‘the great happiness is the great number’.
Apabila cara pandang itu diterapkan dalam kehidupan sosial-politik masyarakat, maka secara logis interaksi ekonomi akan melahirkan sistem kapitalisme yang menganggap setiap manusia sebagai ‘homonicus economic’, titik inilah yang menjadi orientasi kritik Hatta. Paling tidak keyakinan Hatta terhadap demokrasi tidaklah meletakkan seutuhnya pada konsep liberalism. Karena Hatta juga ingin menekan dan mempertimbangkan aspek sosialisme dalam praktek demokrasi di Indonesia.


Secara umum ada dua prinsip demokrasi yang ingin kita garis bawahi dalam pandangan Hatta, pertama adalah kepemimpinan yang tidak berjalan pada pola otoritarian. Kedua penekanan pada prinsip sosialisme (persaudaraan, keadilan dan kesetaraan) dalam kedudukan lembaga-lembaga negara dan proses politik.


Selanjutnya kita akan melacak kembali pandangan Hatta yang berkaitan dengan dua prinsip tadi dalam memahmi demokrasi dan menuju praktek demokrasi di Indonesia. Dalam opininya di surat kabar Pemandangan tahun 1934 dengan judul ‘Fasisme dan Paradoks’, bisa mewakilkan pandangan Hatta atas kegelisahan terhadap otoritarian dan ultra-nasionalisme.


Jauh hari sebelum Indonesia merdeka Hatta tidak menginginkan bentuk negra merdeka yang akan mengarah fasisme, ini menjadi mungkin karena situasi Hatta menulis artikel ini. Di saat fasisme menjadi kekuatan baru di Eropa yang merugikan gerakan buruh dan membunuh sistem demokrasi.
Hatta menulis, dasar fasisme dalah berontak menentang keadaan yang ada. Dan dipandang dalam kacamata lain adalah tanda yang menyatakan satu ‘minder waardigheids –complex’. Mussolini yang bermula memeluk sosialisme, membantingkan pikirannya yang lama itu. Pada sangkanya demokrasi dan sosialisme-lah yang bersalah atas keadaan yang merendahkan derajat Italia di mata pergaulan internasional. Inilah satu paradoks yang didapat dalam pergerakan fasisme di Italia.


Hatta melanjutkan, mula-mula Mussolini sebagai sosialis dia berjuang untuk membela nasib kaum buruh, hendak mengangkat derajat kaum proletariat. kemudian sebagai fasis dia hendak mengangkat derajat bangsanya yang diperlakukan sebagai proletariat sebagai dunia luaran. Untuk mencapai Cooperative Staat itu, Mussolini menindas segala pergerakan yang yang menganjurkan perjuangan kelas dan menghancurkan pergerakan pekerja lama yang berdasar pada klassentrijd itu.


Kaum buruh dan kapitalis diperintah bekerja bersama-sama dibawah penjagaan Staat, yang memegang segala kekuasaan. Dan fasisme tidak menghilangkan milik privat atas alat perusahaan besar, sehingga dasar kekuatan besar kaum kapitalis tidak terganggu. Menurut kedudukan yang seperti itu, tidak heran kalau kaum kapitalis bergantung pada Mussolini. Fasisme dianggap oleh mereka sebagai tempat tiang bergantung dan sendi untuk bertahan, menentang dan menghancurkan demokrasi yang bertambah lama bertambah besar dan kuat” (Fasisme dan Paradoks, 1934).


Dalam sikapnya, Hatta memunculkan sebuah paradoks dalam sistem fasisme. Pandangan fasisme itu dapat mengancam kebebasan dan kesejahteraan kaum bawah, dalam hal ini bisa diartikan kelas pekerja dan petani miskin. Kegelisahan akan kelahiran fasisme di Indonesia bukanlah tanpa alasan bagi Hatta.


Fasisme dapat dipahami sebagai kebusukan atas sosialisme, persoalan dalam menegakkan sosialisme masa PD II menggiring tokoh-tokoh sosialis di dunia untuk menarik demarkasi kebangsaan dan menjadi aktor perang yang berjalan bersamaan dengan kebencian rasial.
Wiliam Ebenstein berpendapat, gejala persoalan fasisme bisa menyerang sebuah bangsa yang putus harapan akan realitas situasi, sehingga fasisme seolah secara langsung menawarkan kebangkitan dengan membunuh demokrasi dan menghapuskan hak azasi manusia secara massal. Politik seperti ini dikokohkan atas gerakan ‘Nasionalisme’ menuju ‘Ultra-Nasionalis’ dan disemai benih kebencian rasial yang harus bertanggung jawab atas kegagalan bangsanya (Ebenstein, 2006).


Dengan alasan seperti ini jugalah Hatta sangat riskan dengan kemunculan fasisme dalam tubuh pergerakan kemerdekaan. Apabila kita kembali memahami gagasan Hatta yang dituliskan setelah dia kembali ke Indonesia dan memimpin PNI Pendidikan bersama Sjahrir. Ini adalah satu era dimana Hatta mulai masuk dalam kehidupan negri jajahan Hindia Belanda. Sehingga kita menemukan satu oase intelektual seorang Hatta yang berdiri diatas kondisi riil (sebenarnya). Dari banyak pandangannya kita berupaya menangkap insight yang dipancarkan Hatta, Hatta lebih cenderung memiliki pandangan yang reformis ketimbang Soekarno yang revolusioner dan meledak-ledak diatas podium.


Bagi Hatta revolusi tidak selalu melahirkan tatanan sosial yang lebih baik, atau justru sebaliknya menjadi lebih buruk. Karena dalam revolusi sosial, para aktor revolusioner tidak bisa teridentifikasi dalam strata moral dan militansi perjuangan. Dan banyak golongan opurtunis yang mengambil kesempatan untuk dirinya sendiri tanpa mempertimbangkan kepentingan rakyat yang semula dibelanya.


Pandangan serupa ditulis Hatta dalam ‘Menuju Indonesia Merdeka’, yang dikutip oleh Zulfikri Suleman; “demokrasi Barat yang dilahirkan oleh Revolusi Perancis tiada membawa kemerdekaan rakyat yang sebenarnya, melainkan menimbulkan kekuasaan kapitalisme” (Suleman, 2010).
Kutipan itu memiliki benang merah dalam pandangan Hatta soal kediktatoran fasisme dan kondisi revolusi yang sedang berjalan di Indonesia menuju kemerdekaan, kala itu. Hatta tidak menginginkan gerakan revolusi kemerdekaan menjadi sebuah paradoks dikemudian hari, maka dari itu Hatta lebih memiliki kecenderungan pada pilihan reformis. Meskipun sikap itu tidak menghilangkan semangat Hatta untuk memerdekakan Indonesia.


Dikemudian hari Hatta (bersama Soekarno) menjadi kolaborator dengan Jepang, yang memberikan sebuah penilaian inkonsistensi terhadap semangat anti-fasis. Deliar Noer menuliskan, bahwa pemerintahan fasis Jepang memperlihatkan gaya militerisme dan totalitarian ditengah-tengah perang pasifik.


Gaya pendudukan Jepang menjadi teror kematian bukan saja untuk rakyat tapi juga bagi pemimpin gerakan kemerdekaan. Hatta mendapat ancaman dibunuh oleh Kempeitai karena Hatta dianggap komunis (Noer, 1990). Situasi ini membuat Hatta harus berkolaborasi dengan Jepang pada kebijkan Romusha.


Pada masa itu Hatta juga menggelorakan semangat untuk mendukung Jepang dalam kondisi perang pasifik melalui pidato dan tulisan-tulisannya. Meskipun Hatta juga menyisipkan semangat kemerdekaan Indonesia tanpa campur tangan bangsa lain, dimana Hatta kembali menyampaikan pikiran-pikiran yang di tuliskan pada masa 1920’an untuk kembali menyuntikan semangat nasionalisme (Noer, 1990).


Selain itu kita juga bisa memahami kenapa Hatta memilih menjadi kolaborator ketimbang keluar menjadi oposisi. Ada pertimbangan lain, Hatta harus tetap mengawal semangat nasionalisme Soekarno dengan pandangan-pandangan Sosialismenya, sehingga paradigma Soekarno tidak terjebak pada gejala-gejala fasisme dikemudian hari. Ini bisa juga beralasan, karena Hatta adalah sosok sosialis yang masih bercengkrama dengan Soekarno sampai mengantarkan ke pintu gerbang kemerdekaan (ketimbang Sjahrir, yang sedari awal menjadi kritikus Soekarno).


Hatta belajar dari gejala fasisme di Eropa dimana tirani mayoritas akan hidup berdampingan bersama totalitarian-militeristik. Tidak ada demokrasi dalam iklim politik yang tunggal, karena kekuasaan politik dan ekonomi hanya terpusat pada satu titik saja. Maka kritik Hatta terhadap individualisme menghasilkan antisis dari kolektivisme sebuah kearifan lokal masyarakat Indonesia, yang bisa dijadikan potensi menjalankan demokrasi parlementer.


Dalam “Demokrasi Kita” dia kembali menekankan pada aktivitas desa sebagai tulang punggung demokrasi. Bagi Hatta, dalam masyarakat desa asli Indonesia, tanah bukanlah milik seorang melainkan kepunyaan desa. Orang-orang hanya punya hak pakai. Orang-seorang dapat mempergunakan tanah yang masih kosong sebanyak yang dapat didapat dikerjakannya utuk keperluan hidupnya sekeluarga. Hanya menjual ia tidak boleh. Semangat kolektif ini ternyata pula pada: melaksanakan pekerjaan yang berat-berat, yang tidak terpikul oleh orang-seorang, menggarap sawah, memotong padi, membuat rumah, mengantar mayat ke kubur, membuat pengairan dan banyak lagi lainnya. Semua pekerjaan itu dilakukan bersama-sama secara gotong royong” (Hatta, 1992: 145).


Dalam tulisannya itu Hatta kembali menekankan kearifan lokal yang sebenarnya sudah mengandung prinsip-prinsip kebersamaan. Bagi Hatta pandangan ini dapat melahirkan kedaulatan rakyat yang kokoh. Ini adalah prinsip-prinsip Hatta yang berbeda dengan Soekarno dan Soepomo yang lebih cenderung pada negara kesatuan. Meskipun mereka sama-sama tidak sepakat pada paham liberalism, namun dalam menginternalisasi bentuk negara pemahan antara ‘kebersamaan’ dan ‘persatuan’ menjadi ide yang sulit disatukan dalam siding-sidang BPUPKI (Suleman, 2010).
Politik distribusi kekuasaan bagi Hatta semakin nyata setelah dia mengeluarkan Maklumat No.X tanggal 16 Oktober 1945. Mengubah dari sistem presidensial kearah parlementer. Langkah yang pertama dilakukan Hatta adalah peningkatan status KNIP menjadi pengganti DPR dan mengambil sebagian tugas MPR.


KNIP menjadi lembaga legeslatif perwakilan rakyat yang setara dengan lembaga eksekutif Presiden. Sehingga MPR bersama Presiden bermusyawarah untuk menetapkan Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN). Semenjak itu, banyak terjadi peralihan kekuasaan wewenang dalam lembaga tinggi negara (Noer, 1990). Proses peralihan wewenang dalam tata negara yang masih baru pun terus bergulir.


Setelah menekan sistem parlementer, secara logis dibutuhkan lahirnya banyak partai. Sehingga untuk menunjang sistem parlementer, Hatta mengeluarkan Maklumat 3 November 1945. Dimana dalam maklumat ini dianjurkan untuk membentuk partai banyak untuk mendukung pemilu di tahun 1946, meski pemilu tertunda karena adanya agresi militer Belanda (Noer, 1990).


Konsep kedaulatannya berdampak secara linear pada konsep sebuah kekuasaan, seperti yang sudah disinggung sebelumnya Hatta tidak menghendaki sebuah kekuasaan yang terpusat. Maka pilihan atas desentralisasi kekuasaan atau otonomi daerah menjadi satu pilihan yang masuk akal baginya.


“Oleh karena Indonesia terbagi atas beberapa pulau dan golongan maka haruslah tiap-tiap golongan, kecil atau besar, mendapat otonomi, mendapat hak untuk menentukan nasibnya sendiri. Satu-satunya dapat mengatur pemerintahan sendiri menurut keperluan dan keyakinan sendiri, asal saja peraturan masing-masing tidak berlawanan dengan peraturan pemerintahan umum” (Suleman, 2010: 202).
Mengacu pada tulisan Hatta, memang opininya terkait soal desentralisasi kekuasaan sangat berimplikasi terhadap bentuk negara otonomi daerahe. Secara jelas Hatta lebih cenderung pada pilihan otonomi daerah, ketimbang integralistik. Pilihan politiknya bukan datang begitu saja, melainkan rangakaian teoritis dan benang merah atas logika distribusi kekuasaan.


Pembelaannya terhadap otonomi daerah bukanlah sebuah dukungan untuk melestarikan sistem kolonial Belanda belaka, yang tersisa pasca perundingan-perundingan. Jauh lebih dalam, Hatta menginginkan bentuk kedaulatan rakyat secara kongkrit bukan sebatas semboyan saja. Ketakutan Hatta bahwa kesatuan dapat mengancam kedaulatan rakyat terbukti dengan kebijakan dan sikap politik yang diambil Hatta ketika menjabat wakil presiden.


Inti dari demokrasi Hatta kalau boleh digaris bawahi adalah prinsip kedaulatan rakyat, dengan kedaulatan yang otonom maka keberagaman bisa terus hidup. Dengan iklim seperti ini demokrasi akan tumbuh subur dan memiliki cita-cita atas tumbuh kembangnya sosial demokrasi di Indonesia. Lebih lanjut dalam pidatonya di Solo bertepatan dengan Permusyawarahan Pamong Praja (7 Februari 1946) setahun setelah Indonesia merdeka, memiliki tema “Kedaulatan Rakyat” yang mengurai prinsip-prinsip kedaulatan itu.
“Kedaulatan rakyat berarti, bahwa kekuasaan untuk mengatur pemerintahan negri ada pada rakyat. Rakyat berdaulat, berkuasa untuk menentukan cara bagaimana ia harus diperintah. Tetapi putusan rakyat yang dapat menjadi peraturan pemerintahan bagi orang semuanya ialah keputusan yang ditetapkan dengan cara mupakat dalam satu perundingan yang teratur bentuknya dan jalannya (…) Jadinya, kedaulatan rakyat adalah kekuasan yang dijlankan oleh rakyat, atau atas nama rakyat diatas dasar permusyawaratan.


Permusyawaratan itu boleh diadakan langsung oleh semua orang yang dewasa pada satu daerah atau dengan jalan perwakilan, dengan jalan yang tidak langsung. Permusyawaratan yang langsung hanya dapat dilakukan pada satu desa yang tidak begitu besar jumlah penduduknya. Akan tetapi, manakala daerah itu sudah agak besar, maka permusyawaratan akan dilakukan dengan jalan perwakilan” (Kedaulatan Rakyat, 1946).
Pandangan ini sejalan dengan semangat parlementariat Hatta yang dikongkritkan dalam Maklumat No.X, musyawarah dan permusyawaratan digunakan Hatta untuk menyederhanakan sistem demokrasi perwakilan yang menurutnya dapat menjadi model demokrasi Indonesia.


Secara tersirat Hatta menekan partisipasi aktiv rakyat dalam arena demokrasi yang lebih luas, dengan terus mengadakan dialog pada tataran desa sebagai fundamental demokrasi Indonesia. Untuk soal demokrasi perwakilan Hatta memang tidak menjabarkan secara spesifik bagaimana harus mengatur partai politik dan kelompok-kelompok kepentingan yang sifatnya kelokalan.
Di sini Hatta lebih menekankan perwakilan pada tingkat desa dan kabupaten-kota, sedangakan kecamatan, keresidenan dan provinsi sebatas territorial koordinat yang tidak dapat mengambil keputusan politik. Seperti banyak studi sejarah, pemilu pertama pada tahun 1952 yang menjadi kontestasi pemilu bukan saja dari partai politik yang memiliki kepengurusan pada tingkat nasional.


Tetapi kelompok-kelompok kepentingan yang mengusung klan tertentu atau bahkan nama tokoh untuk mendukung satu sosok agar duduk di parlemen. Secara praktek politik, demokrasi perwakilan ini sudah resmi masuk dalam dinamika liberalisme seutuhnya. Artinya wacana ideologi Hatta bukan tanpa distorsi dalam prakteknya, harapan Hatta untuk mempraktekan kolektivisme dan kebersamaan nyatanya terjadi persaingan secara liberal.


Musuh bagi Hatta adalah amoral manusia dan kepemimpinan yang tidak bertanggung jawab dapat berimplikasi negatif terhadap tatanan kehidupan lainnya. Wacana keadilan dan kesejahteraan yang diadopsi dari ideolog sosial demokrasi, cukup memiliki benang merah dengan pandangan Hatta soal kedaulatan;
“Demikian juga dengan kedaulatan rakyat, yang dalam praktek hidup berlaku sebagai pemerintah rakyat. Syarat bagi kekuasaan ialah keadilan, yang dengan sendirinya harus membawa kesejahteraan bagi segala orang. Manakala pemerintahan rakyat tidak membawa keadilan dan kesejahteraan, melainkan menimbulkan kelaliman dan pencederaan, kekuasaannya itu tidak bisa kekal.
Dalam pangkuannya akan lahir tenaga dan aliran yang menentangyang akan membawa robohnya dan menimbulkan gantinya. Kedaulatan rakyat yang meluap dari batasnya dan melulu menjadi anarki, akan digantikan oleh peraturan pemerintah yang bertentangan dengan itu, monarki ataupun oligarki.


Digantikan oleh pemerintahan raja yang berkuasa sendiri atau oleh satu pemerintahan satu golongan kecil dengan kuasa penuh (…) Ikut berkuasa dalam hal menentukan pembagian barang-barang yang dihasilkan bersama-sama oleh kaum buruh dan kapital, dengan berdasarkan keadilan-sosial, itulah yang terpenting bagi rakyat jelata. Tetapi hak itulah yang belum ada. Itulah sebabanya, maka timbul aliran yang dibawa sosialisme, dengan menuntut adanya demokrasi sosial. Disebelah demokrasi politik yang telah dicapai, mestilah diadakan demokrasi ekonomi, supaya rakyat memperoleh kenikmaan dari kerja bersama dalam penghasilan masyarakat” (Kedaulatan Rakyat, 1946).


Tata kelola pemerintahan pusat dan daerah bukanlah pemerintahan yang hirarkis, bagi Hatta daerah juga harus diberikan kewenangan otonom untuk menentukan model pemerintahan sesuai dengan kultur setempat. Jadi otonomi daerah bagi Hatta adalah sebuah otonomi khusus bagi guna menjaga prilaku masyarakat yang banyak mengacu pada norma-norma kelokalan.


Meskipun ada otonomi khusus bagi daerah, namun acuan atau landasan untuk membuat kebijakan tetap mengacu pada pemerintahan umum. Konsep Hatta adalah menawarkan memerintah bersama Republik Indonesia tanpa menghilangkan kebebasan daerah itu sendiri. Karena rakyat daerah harus berdaulat maka, mereka memiliki hak untuk memilih pemimpin daerah dan wakil-wakilnya selain itu harus juga bertanggung jawab secara moral. Sehingga pemerintahan pusat dalam hal ini nasional menjadi badan kordinasi antara daerah dan simbol internasional.

Sumber : https://geotimes.co.id/kolom/bung-hatta-dalam-politik-distributif-dan-kedaulatan-rakyat/