Pidato sambutan Anies Baswedan pada Rapimnas Dewan Koperasi Indonesia


Sumber : Anies Baswedan

Saya bersyukur sekali Alhamdulillah bisa kembali mengikuti acara dekopin. Ketika saya dapat undangan pertama kali, diberitahu Pak Nudin ada surat undangannya. Saya sempat khawatir waduh ini pas jadwalnya itu ada acaranya di Palu, makanya saya bilang ini gimana caranya bisa pulang supaya tetap bisa hadir di acara Dekopin ini. Jadi, acara di sana belum selesai sebenarnya. Pagi-pagi sudah langsung terbang ke sini. Alhamdulillah untung ada pesawat langsung, Palu-Jakarta. Jadi alhamdulillah bisa sampai dan ketemu dengan Ibu/Bapak para pejuang koperasi yang punya tantangan yang cukup besar di Indonesia ini.

Jadi, saya dapat kesempatan untuk berbagi, cuma tadi diberi waktunya agak menakutkan malah. Kalau waktunya  15-20 menit itu malah punya bayangan. Kalau agak panjang ini kita khawatir, tapi saya ingin gunakan kesempatan ini untuk berbagi pandangan, berbagi harapan dan sedikit reflektif barangkali. Atas apa yang kita kerjakan selama ini, saya ingat kalau tidak salah tahun lalu diundang di acara di Senayan di Hotel Century Atlet.

Saya ingin mengulang sedikit soal itu, jadi undangannya adalah bicara tentang Ekonomi Kerakyatan dan pembahasan Ekonomi Kerakyatan ini sudah menjadi pembahasan rutin puluhan tahun. Puluhan tahun bukan hanya sekarang-sekarang, ya. Dari dulu kita bahas, tapi sebelum kita bicara lebih jauh, izinkan kami bercerita sedikit tentang konsep ekonomi yang biasa disebut sebagai sosial market economy. Kalau sekarang mereka malah menyebutnya social market environment economy.

Kebetulan saya ketika tugas di Paramadina, di kampus, kami secara khusus mengadakan program pengkajian pendalaman terkait dengan konsep social market ekonomy ini. Kita mengundang para ekonom-ekonom dari kampus-kampus di seluruh Indonesia untuk bekerja bersama, memikirkan tentang bagaimana social market economy ini secara konseptual dansecara eksekusi. Kami kerjasama dengan Jerman, karena Jerman yang sudah melaksanakan konsep ini.

Jadi, yang unik dalam penanganan ini dalam konteks di Jerman. Penanganan kemiskinan misalnya, kalau di sana itu tidak dikerjakan oleh kementerian yang mengurusi kesra, tapi kemiskinan itu dikerjakan oleh kementerian yang mengurusi perekonomian. Jadi, Menteri Pembangunan dan Kerjasama Ekonomi itulah yang mengurusi soal kemiskinan, padahal di sana ada Kementerian Sosial dan Tenaga Kerja. Kenapa itu dilakukan? Karena urusan kemiskinan, urusan ketimpangan itu diselesaikan melalui instrumen ekonomi, bukan melalui instrumen jejaring pengaman sosial.

Jadi pasar, perekonomian itu sengaja dirancang untuk memperhitungkan mereka yang miskin dan mampu mengakomodasi mereka dengan memberikan kesempatan-kesempatan yang setara di dalam sistem perekonomiannya. Yang biasa kita kerjakan, apalagi di Amerika Utara, biarkan market beroperasi, nanti ada yang disebut sebagai market failure, kegagalan pasar.

Market failure itu yang bisa menciptakan apa yang muncul dengan fenomena ketimpangan, fenomena kemiskinan. Market failure itu, sisa itu nanti yang akan dibantu oleh pemerintah dengan berbagai macam program, peran social. Jadi, membereskan persoalan ketimpangan kemiskinan, bukan semata-mata sebagai instrument, menggunakan instrumen pemerintah, tapi justru menggunakan instrumen pasar.

Nah, konsep ini, social market economy ini didorong menjadi alternatif ketiga, setelah kita punya dua yang kita tahu di dunia ini. Satu adalah sistem kapitalis, yang satu sistem sosialis. Ini menjadi jalan ketiga yang ditawarkan. Dia menggabungkan sistem ekonomi pasar, sistem ekonomi kapitalis dengan kebijakan-kebijakan sosial yang memastikan adanya kompetisi yang adil di dalam pasar dan di dalam meraih kesejahteraan bersama.

Jadi, negara tidak mengintervensi perencanaan produksi, tidak mengintervensi perencanaan ketenagakerjaan, penjualan, tapi negara menggunakan instrumen kebijakan moneter, menggunakan instrumen kredit, perdagangan, perpajakan, bea cukai, investasi untuk menciptakan sebuah perekonomian, untuk menciptakan sebuah pasar yang memastikan bahwa kesejahteraan dan memastikan bahwa terpenuhinya kebutuhan seluruh populasi bukan hanya sebagian populasi.

Nah, kita ketika melihat ini, konsep ini di dalam operasionalisasinya di sana rasanya seperti melihat sesuatu yang sering kita baca dalam literatur kita yang kita sebut sebagai konsep Ekonomi Pancasila, konsep Ekonomi Kerakyatan yang sudah digaungkan berdekade-dekade yang lalu. Nah, kalau kita lihat, saya cek di sejarahnya social market economy itu pertama kali di Jerman itu tahun 1949. Sebenarnya kita lebih awal bicara tentang bagaimana Ekonomi Kerakyatan, Ekonomi Pancasila itu sudah jauh sebelum tahun 1949, tapi ada bedanya Bapak/Ibu. Apa bedanya ini?

Bedanya, kita-kita yang membawa konsep Ekonomi Kerakyatan, konsep Ekonomi Pancasila berhenti di wilayah filsafat. Ekonomi Pancasila sebagai filosofi, sementara mereka yang berada di dalam social market ekonomy bergerak sampai modeling.

Bagaimana hitungan matematikanya? Bagaimana model perekonomiannya? Fungsi produksinya seperti apa? Jadi, di kita berhenti di wilayah filsafat, karena itu tidak bisa didebat, pasti semua setuju. Pasti semua setuju, filosofinya adil kok. Mana ada yang tidak setuju sama adil.

Pertanyaannya, bagaimana menjelaskannya? Nah, kalau boleh saya cerita sedikit sejarahnya. Bung Hatta dan generasinya berbicara tentang ekonomi yang berkeadilan, pasar yang berorientasi pada kesejahteraan semua, bukan berontasi pada kesejahteraan sebagian, itu generasi Bung Hatta. Generasi berikutnya dikirim sekolah ekonomi ramai-ramai ke negara yang mengadopsi sistem kapitalis. Berangkat rombongan ke sana dan kemudian di sana tidak sedikitpun belajar unsur sosialnya di dalam pasar.

Teknik-teknik kebijakannya, modeling ekonominya, semua mengasumsikan pasar tanpa unsur sosial dan berbondong-bondong mereka pulang ke Indonesia, lalu menyusun perencanaan perekonomian Indonesia. Tidak menggunakan kiblat yang disusun Bung Hatta, tapi menggunakan kiblat yang dipelajari ketika berada di sekolah tempat mereka belajar dan saya salah satu yang terbawa dalam rombongan itu.

Saya berangkat ke Amerika itu atas beasiswa Fulbright. Bidangnya international trade. Saya ini sebetulnya bidangnya bukan politik, saya ini sarjana ekonomi ambil bidangnya adalah bidang international trade, di sana bicara tentang economy internasional, economy policy dan tesis di final itu tentang currency market. Tentang apa tuh currency market, tuh? Pasar mata uang dan bagaimana mengelola currency market itu dengan benar, begitu kira-kira.

Tapi untungnya, Bapak/Ibu sekalian, untungnya pondasi yang saya bawa berangkat itu pondasi yang saya pelajari dari Bapak Mubyarto. Karena saya belajar ekonomi di Fakultas Ekonomi, Universitas Gadjah Mada, guru saya namanya Profesor Mubyarto yang bicara Ekonomi Panca sila. Jadi, ketika saya berangkat ke sana, saya lihat itu beda. Jadi ketika kemudian saya ketemu dengan instrumen-instrumen itu, saya kemudian membaca. Wah, begini rupanya cerita Republik ini. Ketika kami belajar Ekonomi Pancasila / Kerakyatan, tidak ada modelingnya, Bapak/Ibu. Tidak ada, mana modelnya? Coba kalau Bapak/Ibu tanya ini mana modelnya? Fungsi produksinya seperti apa? Coba ditunjukkan rumusnya, tidak kelihatan. Sementara ketika saya bicara belajar tentang ekonominya kapitalis di situ ada fungsi produksinya, di situ missing link kita.

Karena itu ketika saya kemarin bertugas sebagai Rektor di Universitas Paramadina, saya bicara; “Yuk kita bahas bagaimana menerjemahkan Ekonomi Kerakyatan, Ekonomi Pancasila dalam sebuah model-model perekonomian, model-model ekonomi yang matematikanya bisa dihitung”. Karena selama ini model itu berhenti di dalam filsafat, jadi kalau kemudian Bapak/Ibu ketemu dengan pengambil kebijakan bilang, “Pak, kami ingin kebijakannya berorientasi social.” Itu pengambil kebijakannya juga bingung. “Tunjukkan saya caranya.” Kalau dalam pidato saya bisa pidatokan, tapi kalau tunjukkan kebijakan apa yang harus kerjakan? Kenapa contoh dari social market economy di Jerman itu menarik? dan itu ada ilmunya sekarang. Dan yang menarik, kampus-kampus di Amerika Serikat mulai mengimpor dosen-dosen dari Jerman untuk mengajarkan social market economy di pusatnya kapitalisme di Amerika Serikat.

Bagaimana pasar dengan spirit keadilan? Nah, ini Bapak/Ibu sekalian PR yang harus kita tuntaskan. Ketika kita mengkaji ini dengan banyak ekonom-ekonom Indonesia, semuanya merasa alhamdulillah akhirnya filosofi yang kita punyai itu, punya instrumen aplikasinya. Ini kemudian yang harus kita dorong, jadi kalau kita tidak membereskan ini di level para pakar ekonomi, maka sampai kapanpun kita akan bergerak 2 arah.

Filosofinya kerakyatan, alatnya kapitalis, karena alatnya kita nggak punya. Yang bergerak kapitalis juga mencoba untuk mencari justifikasi filosofinya, bukan? Dengan cara negara hadir memberikan bantuan-bantuan sosial atas ketimpangan yang muncul akibat pendekatan yang kapitalis. Nah, ini Bapak/Ibu sekalian yang saya merasa PR, ekonomi kerakyatan ini masih slogan. Masih menjadi filsafat, jadi ke depan kita harus melakukan pengembangan keahlian di dalam menerjemahkan filsafat Ekonomi Kerakyatan menjadi instrumen kebijakan Ekonomi Kerakyatan.

Jadi ini membuat Ekonomi Pancasila, Ekonomi Kerakyatan itu tidak menjadi

sesuatu yang utopis. Kalau sekarang ngobrol tentang Ekonomi Pancasila di kalangan ekonom, utopis itu. Pasti begitu.  Secara terbuka ya, semuanya pasti baguslah. Namanya juga filsafat keadilan, tidak ada yang tidak setuju, tapi dalam prakteknya model matematikanya tidak ada, kebijakan publik yang kokohnya juga belum ditemukan. Nah, salah satu yang sering juga disebut dan juga sering dibahas tapi terasa masih sebagai slogan, itu adalah kalimat; Koperasi adalah soko guru perekonomian Indonesia. Mirip bukan? Iya, mirip. Koperasi sebagai soko guru, soko guru itu artinya apa, sih? Tiang utama, yang di tengah, tiang penyangga. Dan kenyataannya, apakah koperasi ini sudah menjadi soko guru atau masih sekedar pavilion? Ini kenyataannya, nih. Ya, kan? Kita masih di teras, belum masuk halaman utama.

Dan apakah koperasi sudah menjadi penyedia solusi utama? Bagi masalah-masalah besar bangsa, masalah-masalah besar perekonomian, masalah-masalah besar kesejahteraan, rasanya belum. Betul itu? Rasanya belum. Dan bila koperasi itu disebut, kira-kira top of mind di publik apa? Koperasi simpan pinjam, Bapak/Ibu. Iya, kan? Itu top of mind.

Saya sempat minta tim saya untuk ngecek apa namanya statistiknya. Statistiknya itu 6 dari 16 sektor yang tinggi atau 5 sektor utama. 49,6% itu jasa keuangan dan asuransi. 35% pertanian, kehutanan, asuransi. Lalu makanan minuman akomodasi 10%, perdagangan besar 1,6%, jadi separuh itu bidangnya, jasa keuangan.

Jadi simpan pinjam dan di antara simpan pinjam itu ada yang sangat terkenal; KospinJasa Pekalongan. Ini catatannya nilainya sudah sampai Rp.12 triliun. Pengelolaan bisnisnya lebih dari Rp.20 triliun. Ini nilai yang besar, tapi apa sudah menjadi soko guru perekonomian? Belum. Nah, sekarang kita coba lihat di negara lain. Bagaimana kira-kira di negara lain?

Kita jangan hanya membandingkan dengan seharusnya, tapi kita membandingkan dengan yang sudah senyatanya bisa dikerjakan. Saya rasa Bapak/Ibu sekalian punya banyak contoh, tapi izinkan saya ambil contoh satu aja yang produknya kerasa kita di sini, Selandia Baru.

Selandia baru itu punya koperasi susu yang anggotanya 9.000 peternak, ini nggak kalah banyak dengan anggota di Bandung. Ini 9.000 peternak nih di sana, tapi koperasi ini menguasai 30% ekspor (produk) susu dunia. Saya ulang, 30% ekspor (produk) susu dunia. Dan kita kenal di Indonesia, ada mentega Anchor, susu Anlene. Nah, ini banyak sekali, namanya Fonterra. Fonterra ini koperasi di sana.

Perusahaan terbesar di sebuah negara justru sebuah koperasi. Jadi, kalau di New Zealand mereka bisa bilang bahwa koperasi adalah soko guru perekonomian New Zealand. Bisa itu, boleh ngomong. Karena yang terbesar adalah koperasi. Menguasai ekspor produk susu dunia.

Kita punya di Indonesia, namanya KPSBU, Koperasi Peternak Susu Bandung Utara (Lembang) dan anggotanya di sana itu lebih 8.000, kalau Selandia Baru 9.000 ini lebih dari 8.000. Populasi sapi perahnya itu di atas 20.000 dan produksi sekarang sekitar 150 ton per hari. Nah, pertanyaannya apakah KPS BU Lembang ini sudah menjadi soko guru perekonomian di Lembang dan Bandung? Apakah bisa kita bilang bahwa perannya sudah mendekati peran Fonterra di Selandia Baru? Belum.

18:58

Apakah dia nantinya bisa seperti Fonterra? Harus bisa! Ini tugas kita bersama. Jadi kita punya potensinya. Harus bisa. Harus bisa. Jadi kita ini ketika melihat kenyataan loh ukurannya 9.000, sini 8.000 yang sana bisa menguasai. Ini masalah, harus bisa dan kita harus mengusahakan itu.

Ada satu contoh lain, Pak. Di daerah Basque, Basque itu di Spanyol. Ada Koperasi namanya Mondragon, bidangnya bisnis, keuangan, retail. Ini pekerjanya 80 ribu orang, ada 250 anak perusahaan dan mereka punya sebuah kebijakan yang unik, yaitu tentang rasio upah. (Rata-rata) rasio upah pegawai paling rendah dan paling tinggi tidak boleh (lebih dari) 5x lipat dan mereka ikut menentukan arah kebijakan.

Ketika Spanyol kemarin menghadapi kontraksi krisis global, mereka bersama-sama mengambil keputusan, bukan mengurangi tenaga kerja. Tapi mengurangi gajinya, mengurangi anggarannya secara bersama-sama, tapi tenaga kerjanya tidak dikurangi. Inilah contoh ketika fungsi produksinya itu berubah, kita biasanya dalam perekonomian itu total produktivitas itu ada fungsinya. Ada sumber daya kapital, nomor satu. Labor, tanah, teknologi. Kemudian dia menjadi sebuah satu persamaan fungsi produksi. Nah, ini contoh Ekonomi Kerakyatan. Ada juga contoh lain di Yunani, Pulau Sifnos. Ini penduduknya sekitar 3.000 orang bikin koperasi memproduksi listrik dari sumber terbarukan untuk 100% kebutuhan listrik sendiri. Jadi mereka bikin panel surya, bikin kincir angin dan kemudian mereka gunakan itu untuk semuanya dan di Jerman hari ini 50% energi terbarukan itu dihasilkan dan dimiliki oleh komunitas-komunitas bentuknya koperasi, tapi Bapak/Ibu sekalian, 50% dari energi terbarukan di Jerman dihasilkan lewat koperasi. Jadi Ini contoh nyata.

Ketika filosofi itu diturunkan dalam bentuk kebijakan, diturunkan dalam bentuk model, begitu dieksekusi dahsyat dampaknya. Itu tadi cerita Selandia Baru, cerita Spanyol, cerita Yunani. Sekarang saya cerita Jakarta boleh ya? Cerita Jakarta walaupun sudah pension. Jadi ketika kami bertugas di Jakarta, kita melihat ini tidak bisa kita membiarkan begini saja. Negara dan rakyat berinteraksi tanpa ada sebuah institusi yang mengatur bersama, jadi kita gunakan pendekatan koperasi ini untuk sebuah policy experiment, policy breakthrough yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Kami ini di pemerintah kalau membangun rumah susun, lalu kami menyediakan pengelola rumah susun, lalu pengelola rumah susun itu akan berurusan dengan setiap warga yang ada di situ. Tagihannya, maintenance-nya, begitu kira-kira. Semua kita kerjakan nanti pada bayar, tuh bulanan. Seperti apartemen, nah Kampung Aquarium, Kampung Akuarium itu kampung yang dulu digusur, hilang, kemudian kami bangun kembali kampung itu. Dibangunlah tower di sana dan warganya kembali masuk ke sana, nah, ini kita ubah konsepnya. Bukan pemerintah berurusan dengan perwarga. Kami minta mereka membuat koperasi untuk mengelola itu semua, namanya Koperasi Aquarium Bangkit Mandiri.

Mereka menjadi entitas berkumpulnya seluruh warga yang tinggal di sana harus anggota koperasi, tanpa anggota koperasi tidak bisa ikut tinggal di sana, harus. Lalu seluruh pengelolaan rumah susun itu dikelola oleh koperasi. Pembayaran bulanan oleh koperasi, jadi negara tidak berurusan langsung dengan rakyat, tapi berurusan lewat koperasi. Kan kita biasanya panggil manajer, bikin PT, mengelola rumah susun. Manajemen building, kenapa manajemennya PT? Apa yang terjadi ketika (koperasi) ini dilakukan? Semua memiliki peran yang sama, ya Bapak/Ibu tahulah prinsip pengelolaan koperasi.  Apa yang terjadi?

Kemudian warga itu bersatu, bekerja bersama dan berurusan dengan pemerintah sebagai sebuah entitas. Jadi kami bukan malah berinteraksi dengan warga langsung dan memecah belah warga, bukan. Justru Kami ingin warga bersatu lewat entitas koperasi, ini sudah dijalankan dan itu pertamakali. Ada pemerintah mengelolakan sebuah tempat miliknya, in ikan asetnya asset pemerintah, tapi dikelola oleh koperasi. Itu lamanya di mana? Lamanya cari regulasinya, Bapak/Ibu.

Apa artinya? Kita tidak memiliki policy framework yang memberikan ruang pada koperasi untuk mengelola seperti ini. Seperti yang saya katakan tadi, selama kita tidak menerjemahkan ke dalam bentuk regulasi, ini sulit koperasi itu tumbuh, sulit. Regulasinya disiapkan, jadi kami itu bertarungnya di mana? Nanti kalau pemeriksaan BPK bagaimana? Betul, kan? Nanti kalau perhitungan nilainya yang layak seperti apa? Wah itu rumitnya di situ.

Nah ini sudah kita lakukan, jadi kami ingin bilang begini Bapak/Ibu sekalian. Kalau kita mau menanyakan apa yang akan dikerjakan besok, jangan tanya apa isinya besok yang mau dikerjakan. Semua orang bisa ngarang apa saja Bapak/Ibu. Bapak/Ibu sekalian cari semua calon gubernur, calon walikota, calon presiden bicara depan Bapak/Ibu sekalian, tanya; “apa yang akan dikerjakan untuk koperasi, semua jawabannya menyenangkan kuping Bapak/Ibu sekalian. Iya, pasti semuanya akan bilang oh iya, kami akan bikin koperasi top, koperasi nomor satu. Semua akan bilang begitu dan Bapak/Ibu dengerin. Wah, ini cocok ini! Ini cocok sama kuping saya. Begitu ya. Pas tahun berikutnya berjalan kok tidak ada kenyataannya, ya?

Kami tidak mau menawarkan itu Bapak/Ibu sekalian, yang kami tawarkan adalah rekam jejak, kenyataan yang sudah terlaksana itu. Kenapa? karena ini rumus ini dalam psikologi, psikologi 101 ini semua yang belajar di ilmu psikologi tahu; the best predictor of your future behavior is your post behaviour. Prediktor terbaik untuk perilaku di masa depan adalah perilaku di masa lalu. Itu prediktornya, bukan kata-kata kita tentang masa depan, bukan. Bapak/Ibu juga kalau merekrut pegawai tenaga kerja pastikan tanya, kalau ditanyain; cari petugas jaga malam ajalah paling gampang. Sanggup tidak jaga malam? Lek-lekan (begadang)? Tidak tidur. Sanggup tidak? Pasti bilang sanggup. Dua malam tidak tidur? Oh, siap! Bapak/Ibu terus percaya gitu? Tidak mungkinlah. Bapak/Ibu lihat CV-nya, tidak pernah tugas jaga malam mengaku bisa jaga malam. Tidak akan terjadi, jadi Bapak/Ibu sekalian berhentilah fokus pada visi-misi, karena visi misi itu bisa disusun orang lain dan bisa indah sekali. Lupakan itu.

Visi-misi selalu. Setiap kali ada kandidat datang, saya ingin dengar visi-misi hanya mesti bagus bapak ibu dapat dari visi misi, ya mesti bagus Bapak/Ibu. Mesti bagus. Terus apa yang Bapak/Ibu dapat dari visi-misi yang bagus itu? Keterpesonaan sementara. Iya, itu Bapak/Ibu dapat. Tanyakan rekam jejak, tanyakan rekam jejak. Visi-misi itu imajinatif tapi rekam jejak itu realita, rekam jejak itu kenyataan.

Nah, kami mencoba di Jakarta, ketika kemarin kami coba dengan pendekatan. Ini makanya saua katakan tadi namanya policy experiment, policy breakthrough, di mana kita siapkan regulasinya supaya koperasi itu jalan sekarang. Harapan saya, pendekatan ini diteruskan. Kita lakukan untuk Kampung Bukit Duri, Bukit Duri itu warganya digusur kita buatkan rumah susun yang baru, sekarang mereka menggunakan koperasi juga untuk mulai itu. Oke, nanti Kampung Bayam menggunakan koperasi juga untuk mengelola. Nah, kita berharap nanti semua yang baru-baru di Jakarta itu menggunakan koperasi. Kita sudah mulai, mudah-mudahan diteruskan. Tanda tangannya sudah bukan di saya lagi soalnya. Kan itu soal tanda tangan, nah tapi arahnya sudah dan berjalan. Jadi Bapak/Ibu sekalian, ketika awal tahun ini, kami semua diundang para gubernur ke Nusantara ibu kota baru. Kami diminta untuk membawa tanah dan air, kami tidak bawa air mistis-mistis. Kami tidak bawa tanah mistis-mistis, bukan. Kami tidak bawa itu semua yang dari leluhur mana, tidak. Yang kami bawa itu adalah tanah dari Kampung Aquarium untuk membawa pesan bahwa Republik ini didirikan oleh rakyat kebanyakan dan kita harus mengelolanya dengan pendekatan yang mengandalkan pada pendekatan disusun konstitusi kita berbasis kerakyatan. Tanpa penggusuran yang seperti biasa kita kerjakan, relokasi itu tidak bisa dihindari Bapak/Ibu sekalian.

Dalam semua pembangunan relokasi tidak bisa dihindari, tapi pendekatannya harus pendekatan yang tepat. Nah ini yang kita bawa kemarin untuk bawa pesan itu, walaupun lalu ramai karena saya bawa tanah dari Kampung Akuarium, tapi kita inging membawa pesan bahwa kalau ke depan kita harus bicara tentang bagaimana membuat koperasi. Ekonomi Kerakyatan menjadi salah satu strategi utama dalam mengendalikan dampak berlebih dari Ekonomi Pasar Bebas. Kapitalisme dan Ekonomi Pasar Bebas ini Bapak/Ibu sekalian, sebetulnya ini relatif baru. Sebelum kapitalisme apa namanya, Bapak/Ibu sekalian? Sebelum ada kapitalisme. Feodalisme, Bapak/Ibu. Itu sebelum ada kapitalisme namanya feodalisme dan di bangsa kita punya feodalisme itu. Ada.

Sebelum ada social market economy, sebelum ada kapitalisme. Ekonomi kita ini dikuasai oleh tuan tanah dan kaum aristokrat. Kaum aristocrat, para ningrat. Mereka memperkerjakan orang-orang kecil dan orang-orang kecil ini nurut saja karena mereka menghadapi potensi kelak kelaparan, ketidakterdidikan, penderitaan. Nah, ini sudah berjalan Panjang, baru kemudian mulai abad 15, 16 di Eropa muncul terobosan tentang perekonomian berbasis kapitalisme dan feodalisme ini di Eropa mengalami pergeseran. Tapi di tempat kita feodalisme itu masih jalan terus agak Panjang, jadi saya ingin sampaikan bahwa munculnya kelas pedagang, munculnya variasi market base ekonomy itu fenomena baru dan punya tingkat kesuksesan yang bervariasi. Nah, kita melihat Bapak/Ibu sekalian. Kapitalisme ini telah berhasil mempercepat peningkatan kesejahteraan penduduk bumi secara agregat, secara agregat kita menyaksikan itu. Jadi gedung ini kenyamanan yang kita nikmati ini adalah contoh bagaimana sebuah pendekatan itu berhasil memberikan kenyamanan hidup bagi begitu banyak orang, tapi dia punya dampak side effect yang tidak kalah dahsyat.

Kita menyaksikan, kita di ruangan ini AC-nya nyaman bukan? Terangnya enak bukan? Tapi untuk ini bisa terjadi apa Bapak/Ibu sekalian? Emisi yang dihasilkan oleh gedung-gedung seperti ini, itu menyumbang 30% dari emisi efek rumah kaca di dunia ini. Sumbangannya 30% dari gedung. Kenapa? Lah wong AC-nya nyaman begini, terus residunya kemana Bapak/Ibu? Betonnya, lalu listriknya. Listriknya dimunculkan dari mana? PLTU Bapak/Ibu. PLTU-nya di sekitar Jakarta itu keluar dalam bentuk cerobong asap yang mengotori lingkungan kita.

Jadi ada ketidakpedulian pada kerusakan lingkungan, ada ketimpangan yang melebar akibat distribusi income dan kesejahteraan yang tidak setara. Ada kegagalan pasar dan ada siklus ekonomi yang hoom and bust. Nah ini Bapak/Ibu sekalian, seperti juga perkembangan teknologi, perkembangan ilmu itu mengalami fase-fasenya dan sekarang ini kita menyaksikan bahwa feodalisme dialihkan dengan sistem kapitalis lalu ada alternatif sosialis lalu sekarang muncul social market economy.

Nah, bagaimana dengan kita di Indonesia? Dari pengalaman kami, kalau melihat di Jakarta caranya bukan dengan memusuhi satu system, tapi dengan membuat terobosan dan dibesarkan, terobosan dibesarkan. Jadi kita harus mendorong perubahan, tapi perubahan itu tidak harus drastic, perubahan itu bisa dikerjakan secara bertahap. Sembari koperasinya pun mengalami pertumbuhan secara bertahap, jadi kita membayangkan Bapak/Ibu sekalian, membangun institusi-institusi alternatif di dalam sistem yang lama dan salah satu institusi yang bisa diandalkan adalah institusi koperasi. Itu yang paling bisa diandalkan.

Jadi ketika mendorong perkembangan koperasi, ini tidak berarti kemudian kita menuntut perubahan perekonomian secara keseluruhan. Namun kita membangun organisasi yang lebih menjanjikan kesetaraan bagi mereka yang terlibat di dalamnya dan bila koperasi ini bisa membuktikan, bisa menyelesaikan masalah-masalah besar, bisa menyelesaikan masalah-masalah mendasar, tidak hanya sebagai lembaga simpan pinjam, maka koperasi dengan sendirinya akan tumbuh.

Koperasi akan beralih menjadi mainstream dan insya Allah bisa menjadi mesin utama perekonomian Indonesia. Jadi kita ingin Bapak/Ibu sekalian punya koperasi sekelas Eonterra, yang bisa menghasilkan keadilan sosial seperti yang di Mondagron. Yang bisa seinovatif seperti di Sifnos Island, nah Bapak/Ibu sekalian berada di Dekopin itu punya contoh-contoh champion koperasi, betul? Ada contoh-contoh simple koperasi, itu dibesarkan. Strateginya itu dibesarkan dan carikan regulasi pemerintah apa yang menghambat itu menjadi besar. Itu diubah, itu diberikan ruang untuk bisa berkembang. Jadi saya melihat PR untuk mengerjakan ini itu besar tapi doable.

Hanya kita-kita yang berada di dalam pemerintahan itu harus mau mencari ruang policy apa yang harus diubah? Ruang policy apa yang harus diberikan? Jadi kalau boleh Bapak/Ibu sekalian mumpung lagi Rapimnas, Bapak/Ibu identifikasi 4 hal. Satu, terkait kebijakan untuk koperasi ini, hal apa yang harus diteruskan dan ditingkatkan oleh pemerintah? Dua, hal apa yang harus dikoreksi oleh pemerintah? Tiga, hal apa yang harus dihentikan oleh pemerintah? Empat, terobosan apa yang harus dikerjakan oleh pemerintah?

Itu semua terkait dengan koperasi, empat ini Bapak/Ibu. Jadi kita bukan bicara tentang Ekonomi Kerakyatan berkeadilan dengan utopia terus mau diterjemahkan ke Indonesia. Menerjemahkan keseharian kita, it won’t work, tidak jalan. Kita lihat prosesnya jangan deduktif; kira-kira kalau gitu teorinya, lalu kita mau terapkan. Jangan! Pendekatanny lebih induktif. Lihat kenyataannya lalu identifikasi empat itu.

Apa yang harus diteruskan dan ditingkatkan? Apa yang harus dikoreksi? Lalu apa yang harus dihentikan atau diganti? Lalu yang keempat adalah apa yang baru, apa yang harus dimulai? Dari sisi koperasinya, identifikasi, champio­nchampion koperasinya siapa? Harus think big, start small. Berpikirnya besar, kerjanya mulai dari yang kecil, yang nyata nih. Jadi kalau tadi kita bicara koperasi peternak susu, Susu Bandung Utara misalnya atau Kospin misalnya. Apapun, Bapak/Ibu yang lebih tahu. Bapak/Ibu yang berada di dalam institusi ini. Mana yang bisa jadi champion, mana yang bisa menjadi pembuka identifikasi. Lalu seriusi untuk itu diberikan ruang tumbuh berkembang, sehingga nantinya kita bisa memiliki contoh-contoh Bapak/Ibu sekedar disinformasi, saya tidak menghentikan pengelolaan rumah-rumah susun lama di Jakarta diubah jadi koperasi. Tidak, Bapak/Ibu.

Saya menerapkan pada yang baru, yang lama belum diganti. Kenapa? Biar yang baru ini terbukti dulu. Jalan terbukti berapa tahun, 5 tahun, 6 tahun baru dilihat. Nah baru yang lainnya mengalami perubahan. Kita kadang-kadang kalau bikin perubahan tuh ingin sekarang, ingin lakukan tepuk tangan buat pemilu ditunjukkan, Bapak/Ibu. Jangan.

Bubar semua ini. Bukan, ini perubahan untuk kesejahteraan rakyat. Jangan kita kerjakan semuanya; pokoknya asal kelihatan angka statistiknya keren. Senyatanya (harus) terjadi perubahan. Jadi kami kebijakannya yang baru kita terapkan dengan pola koperasi. Nah, ini kira-kira ke depan saya berharap Dekopin ambil positioning ini.

Jadi Rapimnas ini harapannya itu bisa mengambil isu-isu strategis yang tadi saya usulkan. Usulan ini, pikirkan sama-sama dan harus kita manfaatkan momentum pascapandemi ini sebagai kesempatan untuk restarting our economy on the right track. Restart ekonomi, right track. Pemerintahnya memberikan ruang, akademiknya mulai memasukkan yang saya sebut tadi sebagai ekonomi kerakyatan sebagai konsep perekonomian, lalu semua yang bergerak di bidang koperasi itu mengidentifikasi. Jadi nantinya ketika kita bicara tentang cita-cita Republik ini menghadirkan keadilan social, maka keadilan sosial itu bisa diraih lewat proses perekonomian yang baik, yang benar. Bukan sekedar dari tangan pemerintah, dengan begitu maka itu self sustain, Bapak/Ibu sekalian, kesejahteraan berkeadilan yang lewat mekanisme pasar self sustain. Kalau berkeadilan lewat kebijakan pemerintah, pemerintahnya ganti bisa tidak sustain, Bapak/Ibu. Tapi kalau lewat mekanisme pasar dia akan self sustaining. Nah, kalau boleh sebagai kalimat pada bahan penutup, selama ini kita mengasumsikan mekanisme pasar itu efisien, tapi kita tidak memasukkan unsur fairness justice dalam ekonomi pasar.

Itulah yang kira-kira nanti harus kita kerjakan sama-sama, jadi Bapak/Ibu sekalian saya hormati. Ini adalah harapan, ini adalah cerita tentang apa yang sudah dikerjakan dan bagaimana kedepannya itu bisa kita ekstrapolasi, bisa kita besarkan untuk seluruh Indonesia.

Nah kami berharap Dekopin bisa cerna ini semua, merenungkannya dan mudah-mudahan mewujudkan dalam bentuk langkah-langkahnya. Kami ingin sampaikan terima kasih kepada Ibu/Bapak sekalian yang konsisten berada di dalam rute yang senyap ini, rute yang sunyi ini ya. Ini adalah rute yang tidak banyak yang mengerjakan, betul, kan? Secara jumlah memang besar dari sisi jumlah institusinya dari sisi jumlah orangnya, tetapi secara porsi di dalam perekonomiannya. Nah kita ingin agar skala itu membesar, kami mempercayai Bapak/Ibu sekalian bahwa instabilitas dunia akibat kerusakan lingkungan itu luar biasa besar. Kita kan ditargetkan menurunkan satu setengah derajat suhu kita, bukan menurunkan, mencegah kenaikan sampai satu setengah derajat. Itu bukan pekerjaan yang ringan dengan aktivitas perekonomian yang kita miliki seperti sekarang.

Itu Bapak/Ibu sekalian kalau kita tidak kerjakan di skala mikro dengan memunculkan institusi-institusi seperti koperasi ini PR-nya akan luar biasa. Indonesia bisa mengerjakan dan Dekopin harus menjadi garda terdepannya.

Terima kasih.

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Sumber :

Channel Youtube : Anies Baswedan

119 Tahun Proklamator Bung Hatta, Universitas Bung Hatta Siap Hadirkan Sandiaga Uno dan Erick Thohir

119 Tahun Proklamator Bung Hatta, Universitas Bung Hatta Siap Hadirkan Sandiaga Uno dan Erick Thohir

TRIBUNPADANG.COM, PADANG – Universitas Bung Hatta yang — menyandang gelar nama besar tokoh Proklamator Bung Hatta — akan menggelar Webinar dengan tema “Membangun Keteladanan Bung Hatta”.

Melalui rilisnya, yang diterima redaksi Minggu (8/8/2021) Rektor Universitas Bung Hatta Prof. Dr. Tafdil Husni, S.E, MBA menyebutkan bahwa pada 2021 ini, Universitas Bung Hatta bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat dan Yayasan Proklamator Bung Hatta. 

Kegiatan yang akan digelar secara online menggunakan aplikasi zoom meeting, menghadirkan Keynote Speaker Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno, Menteri BUMN Erick Thohir dan Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi.

Sementara itu, Wakil Rektor 3 Universitas Bung Hatta, Dr. Ir. Hidayat, M.T, IPM menyebutkan acara tersebut digelar dalam rangka menanamkan karakter dan nilai baik Bung Hatta kepada generasi muda khususnya dan masyarakat pada umumnya, sekaligus memperingati 119 tahun kelahiran Bung Hatta yang jatuh pada tanggal 12 Agustus 2021.

Menurutnya, selain itu, momentum dan rangkaian acara ini guna memperingati HUT ke-76 Kemerdekaan Republik Indonesia (RI).

Terpisah Ir. Iman Satria, M.T., IPM, ASEAN.Eng selaku panitia pelaksana, selain ketiga Keynote Speaker tersebut juga akan berbicara saksi sejarah yaitu putri pertama Bung Hatta Prof. Dr.Meutia Farida Hatta.

Bakal ikut kegiatan ini Rektor Perguruan Tinggi Besar di Sumatera Barat Universitas Bung Hatta Prof Dr. Tafdil Husni,SE.,MBA, Rektor Universitas Andalas Prof.Dr.Yuliandri,SH.,MH, Rektor Universitas Negeri Padang Prof.Ganefri,M.Pd.,Ph.D.

Turut akan tampil juga Dosen Universtas Indonesia yang saat ini jadi Komisaris Bank Mandiri Andrianof A Chaniago serta Prof. Dr. Maizar Rahman, Ketua umum YPBH dan mantan ketua Gubernur OPEC.

“Acara ini akan digelar pada hari Rabu, 11 Agustus 2021, mulai pukul 13.00 WIB dan terbuka untuk umum. Pendaftaran dapat melalui tautan https://s.id/regBungHatta119” ujar Iman, yang juga dosen FTI-UBH.

Hidayat menambahkan, membumikan pemikiran-pemikiran Bung Hatta kepada generasi muda sebagai pelanjut tongkat estafet pembangunan bangsa, mengewejawantahkan tindakan, pemikiran dan komitmen-komitmen kebangsaan Bung Hatta harus terus menerus dijelaskan dan disosialisasikan kepada generasi saat ini.

“Bung Hatta sudah memberikan berbagai contoh tauladan mulai dari sikap sederhana dan hemat sampai kepada sikap kecintaannya kepada Tanah Air, ini perlu disosialisasikan tanpa henti,” tandas Hidayat.

Pendaftaran Festival Film Pendek

Sedangkan, untuk Festival Film Pendek Universitas Bung Hatta diperpanjang dan masih terbuka da kesempatan buat kamu untuk mengikuti Festival Film Pendek meraih hadiahnya.

Hidayat menyebutkan jadwal pendaftaran dan pengiriman video hingga 31 Agustus 2021 mendatang guna tayang di media bagi yang terpilih nantinya.

Selanjutnya pada 3 September 2021 lalu pengumuman pemenang babak I hasil penilaian oleh juri internal pada 4 September 2021. Hingga pemilihan dan pengumuman pemenang oleh juri Nasional pada 5 September 2021 mendatang.

Teknis Pelaksanaannya sebagai berikut;

1 Tuliskan nilai-nilai dan kepribadian Bung Hatta, Sang Proklamator Bangsa yang masih sangat relevan dan dibutuhkan pada saat ini. Kemudian jelaskan juga bagaimana kondisi kekinian yang bertentangan dengan karakter yang beliau miliki.

2 Tulisannya antara 750-900 kata

3 Bisa juga dalam bentui video. Caranya, sampaikan pandangan sesuai tema di atas dalam bentuk bertutur / storytelling, posisi videonya landscape

4 Videonya boleh pakai musik atau juga tanpa musik

5 Kirim juga foto identitas kamu ke panitia

6 Naskah atau tulisan terpilih akan dimuat pada TribunPadang.com atau klik! padang.tribunnews.com

7 Video terpilih akan ditayangkan di media sosial @lentera.nusantara dan @universitasbunghatta 


Persiapan Maraton

Sebelumnya, Panitia pelaksana menggelar rapat secara virtual Persiapan Festival Film Pendek “Bung Hatta Muda pada Selasa (13/7/2021) siang.

Sebagaimana diketahui, bahwa pendaftaran peserta Festival Film itu telah dibuka hingga penutupan 31 Juli 2021 mendatang.

Rapat yang dimoderatori oleh Wakil Rektor III,  Dr. Ir. Hidayat, S.T.,M.T., IPM juga menghadirkan dari pihak keluarga Bung Hatta (Moh Hatta) termasuk juga masing-masing YPBH Pusat dan YPBH Chapter Sumbar Riau. Turur serta  Rektor Universitas Bung Hatta Prof.Dr.Tafdil Husni, SE, MBA beserta jajaran petinggi perguruan tinggi, dosen dan mahasiswa sekaligus panitia pelaksana.

Pihak pemerintah provinsi melalui Bidang Kebudayaan dinas atau OPD terkait beserta jajaran media partner,  termasuk yang ikut bekerja sama TribunPadang.com turut menyampaikan pandangan dan sumbang saran.

sama Pemerintah daerah Sumatera Barat ingin nama Bung Hatta selalu menggema dan membumi diseluruh lapisan masyarakat Indonesia dan dunia.

Melalui kegiatan Festival Film Pendek dengan tema Bung Hatta Muda guna mengharumkan terus nama Dr. Muhammad Hatta supaya tidak pernah hilang dalam ingatan masyarakat Indonesia.

Selain itu menurutnya tujuan kegiatan ini guna menggali nilai-nilai luhur dalam kepribadian sosok dari Pahlawan Mohammad Hatta yang menebarkan sebanyak 18 nilai-nilai karakter serta sepatutnya untuk dapat ditauladani oleh generasi penerus bangsa.

“Nilai-nilai karakter tersebut antara lain; Religius, Jujur, Toleransi, Disiplin, Kerja keras, Kreatif, Mandiri, Demokratis, Rasa ingin tahu, Semangat kebangsaan, Cinta tanah Air, Menghargai prestasi, Bersahabat/Komunitif, Cinta damai, Gemar membaca, Peduli lingkungan, Peduli sosial, Tanggung jawab,” ujar Hidayat.

Dia menambahkan nilai karakter yang paling dominan yaitu Religius yang tergambar dari sikap dan perilaku Hatta yang mendekatkan diri pada Allah, serta patuh pada perintah Agamanya.

Lebih lanjut, imbuhnya Semangat Kebangsaan terlihat dari perjuangan pantang menyerah melawan kolonialisme dan imperialisme yang menyengsarakan bangsanya, Indonesia yang terjajah.

Utamanya lagi, Gemar Membaca terlihat dari wawasan membacanya yang luas dan mempunyai buku terbanyak dari mahasiswa Indonesia yang sekolah di Belanda.

Rektor Universitas Bung Hatta, Prof. Dr. Tafdil Husni, S.E., MBA dan Ketua LLDikti X Prof. Herri yang didampingi Dr. Ir. Hidayat, S.T.,M.T., IPM Wakil Rektor III Universitas Bung Hatta dan Riko Evril, S.T., M.T ketua STTIND diterima langsug oleh Gubernur Sumatera Barat di Istana Gubernur jalan Sudirman Padang, Rabu (30/6/2021).
Rektor Universitas Bung Hatta, Prof. Dr. Tafdil Husni, S.E., MBA dan Ketua LLDikti X Prof. Herri yang didampingi Dr. Ir. Hidayat, S.T.,M.T., IPM Wakil Rektor III Universitas Bung Hatta dan Riko Evril, S.T., M.T ketua STTIND diterima langsug oleh Gubernur Sumatera Barat di Istana Gubernur jalan Sudirman Padang, Rabu (30/6/2021). (ISTIMEWA/DOK.UNIVERSITAS BUNG HATTA)

Sejauh ini lanjutnya Bung Hatta memiliki 16 peti besi buku selama sekolah di Belanda. Kerja Keras terlihat dari usahanya untuk mewujudkan tujuannya yaitu Indonesia Merdeka dengan mengikuti pertemuan-pertemuan.

Hidayat juga mengutip nilai-nilai Demokratis juga terlihat dari hasil pemikirannya yang selalu memperjuangan nasib rakyat Indonesia. Ia lebih berpihak pada masyarakat dari pada sekelompok yang berkuasa karena persamaan hak dan kewajiban secara adil dan merata antara dirinya dengan orang lain.

Selama ini ungkapnya, nilai-nilai karakter yang dimiliki Pahlawan Mohammad Hatta atau sebagaimana dikutip dari tulisan, (Marsinta dan Uli, 2017).

Gubernur Sumbar, Mahyeldi melakukan sesi foto bersama Rektor Universitas Bung Hatta, Prof. Dr. Tafdil Husni, S.E., MBA dan Ketua LLDikti X Prof. Herri yang didampingi oleh Ketua Panitia EA 5 Dr. Ir. Hidayat, S.T.,M.T., IPM dan Pengarah Riko Evril, S.T., M.T di Istana Gubernur Sumbar, Jalan Jenderal Sudirman Kota Padang, Rabu (30/6/2021). 
Gubernur Sumbar, Mahyeldi melakukan sesi foto bersama Rektor Universitas Bung Hatta, Prof. Dr. Tafdil Husni, S.E., MBA dan Ketua LLDikti X Prof. Herri yang didampingi oleh Ketua Panitia EA 5 Dr. Ir. Hidayat, S.T.,M.T., IPM dan Pengarah Riko Evril, S.T., M.T di Istana Gubernur Sumbar, Jalan Jenderal Sudirman Kota Padang, Rabu (30/6/2021).  (ISTIMEWA/DOK.UNIVERSITAS BUNG HATTA)

Sebelumnya, Rabu (30/6/2021), Rektor Universitas Bung Hatta, Prof. Dr. Tafdil Husni, S.E., MBA dan Ketua LLDikti X Prof. Herri yang didampingi Dr. Ir. Hidayat, S.T.,M.T., IPM Wakil Rektor III Universitas Bung Hatta dan Riko Evril, S.T., M.T ketua STTIND diterima langsung oleh Gubernur Sumatera Barat, H.Mahyeldi, SP di Istana Gubernur Jalan Sudirman Padang.

Dalam pertemuan tersebut, Prof. Herri mengungkapkan ketauladan Tokoh Bung Hatta mesti ditularkan kepada generasi muda. “Apalagi di era millenial ini, banyak generasi muda asyik dengan produk-produk teknologi yang terkadang mengakibatkan abai dengan nilai-nilai kebaikan dan lingkungan sekitar,” ujarnya.

Senada dengan itu, Prof Tafdil mengungkapkan betapa pentingnya menggemakan nama besar Bung Hatta melalui even-even yang mengangkat tema ke-Bunghataan. “Sehingga tidak terjadi kevakuman informasi dan penanaman karakter baik Bung Hatta kepada generasi muda,” ujar rektor.

Pada kesempatan tersebut Hidayat menyampaikan kegiatan yang diselenggarakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Universitas Bung Hatta yaitu Festival Film Pendek dengan tema Bung Hatta Muda.

Gubernur Mahyeldi berharap agar gagasan yang disampaikan oleh TIm gabungan Universitas Bung Hatta kali ini dapat menciptakan Film Animasi, Komik tentang karakter dan nilai baik Bung Hatta. Alasannya, media tersebut sangat disukai oleh anak-anak dan generasi muda, sehingga mampu untuk menanamkan karakter Bung Hatta semenjak anak berusia dini.(*)

Sumber : https://padang.tribunnews.com/2021/08/08/119-tahun-proklamator-bung-hatta-universitas-bung-hatta-siap-hadirkan-sandiaga-uno-dan-erick-thohir

Sutan Sjahrir: Masa Muda, Kiprah, Penculikan, dan Akhir Hidup

Maria Duchateau saat tiba di Bandara Schipol, Belanda (kiri) dan Sutan Sjahrir (kanan).
Maria Duchateau saat tiba di Bandara Schipol, Belanda (kiri) dan Sutan Sjahrir (kanan).(geheugenvannederland.nl/Wikipedia)

Sutan Sjahrir adalah seorang pemimpin dan perdana menteri kemerdekaan revolusioner Indonesia. Ia digambarkan sebagai seorang intelektual Indonesia yang idealis. Sutan Sjahrir menjadi perdana menteri Indonesia pertama pada 1945, setelah berkarier sebagai penyelenggara utama nasionalis Indonesia tahun 1930-an dan 1940-an. Dari situ, Sjahrir mulai bekerja keras sebagai Perdana Menteri untuk memastikan Indonesia memenuhi namanya.  Ia dianggap sebagai seorang intelektual karena Sjahrir lebih mementingkan kepentingan bersama daripada kepentingan politiknya. Sjahrir mengutamakan negaranya di atas kebutuhannya sendiri.

Awal Hidup

Sutan Sjahrir lahir di Padang Panjang, Sumatera Barat pada 5 Maret 1909.  Sjahrir merupakan putra dari pasangan Mohammad Rasad gelar Maharaja Soetan bin Soetan Leman gelar Soetan Palindih dan Puti Siti Rabiah.  Sang ayah menjabat sebagai penasehat Sultan Deli dan kepala jaksa (landraad) di Medan.  Pada awal 1926, Sutan Sjahrir menyelesaikan pendidikannya di MULO ( Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) atau Sekolah Menengah Pertama pada zaman kolonial Belanda.  Setelah itu, ia ke sekolah lanjutan atas (AMS) di Bandung. AMS menjadi sekolah termahal pada waktu itu di Hindia Belanda.  Di AMS, Sjahrir bergabung dalam Himpunan Teater Mahasiswa Indonesia (Batovis) sebagai sutradara, penulis skenario, dan aktor.  Setiap hasil pementasan digunakan Sjahrir untuk membiayai sekolah yang ia dirikan, Tjahja Volksuniversiteit atau Cahaya Universitas Rakyat.  Di kalangan sekolah AMS, Sjahrir menjadi seorang bintang.  Ia menjadi murid yang aktif dalam klub debat di sekolahnya.  Sjahrir juga terjun dalam aksi pendidikan melek huruf secara gratis untuk anak-anak dari keluarga yang tidak mampu dalam Tjahja Volksuniversiteit.  Pada 20 Februari 1927, Sjahrir masuk dalam sepuluh orang penggagas pendirian himpunan pemuda nasionalis, Jong Indonesië.  Perhimpunan ini kemudian berubah nama menjadi Pemuda Indonesia. Pemuda Indonesia menyelenggarakan Kongres Pemuda Indonesia, kongres monumental yang mencetus Sumpah Pemuda 1928.

Pengasingan 

Pada 1929, Sjahrir sampai di Belanda untuk melanjutkan pendidikannya di Universitas Amsterdam. Kemudian, ia menjadi mahasiswa hukum di Universitas Leiden. Sutan Sjahrir sempat menjadi sekretaris Perhimpunan Indonesia, sebuah organisasi pelajar Indonesia di Belanda.  Sjahrir juga menjadi salah satu pendiri Jong Indonesia, sebuah perkumpulan pemuda Indonesia untuk membantu perkembangan pemuda Indonesia untuk generasi berikutnya. Selama aktivitas politiknya sebagai mahasiswa di Belanda, Sjahrir menjadi lebih dekat dengan aktivis kemerdekaan, Mohammad Hatta. Pada 1931, Sjahrir kembali ke Indonesia. Sekembalinya Sjahrir ke Indonesia, ia bergabung ke dalam organisasi Partai Nasional Indonesia (PNI Baru) pada Juni 1932 yang kemudian diketuainya.  Pada 1932, Mohammad Hatta yang juga telah kembali ke Indonesia, turut memimpin PNI Baru.  Bersama dengan Hatta, Sjahrir mengemudikan PNI Baru sebagai organisasi pencetak para kader pergerakan.  Karena merasa takut akan potensi revolusioner PNI Baru, pada Februari 1934, pemerintah Belanda menangkap dan mengasingkan Sjahrir beserta Hatta. Mereka menghabiskan masa pembuangan selama enam tahun di Banda Neira, Kepulauan Banda.

Proklamasi Indonesia

Pada masa pendudukan Jepang, Sjahrir membangun jaringan gerakan bawah tanah anti-fasis (gerakan radikal ideologi nasional).  Sjahrir meyakini bahwa Jepang tidak akan memenangkan perang.  Oleh karena itu, kaum pergerakan harus mempersiapkan diri untuk merebut kemerdekaan di waktu yang tepat.  Saat itu, Sutan Sjahrir mengetahui perkembangan Perang Dunia secara sembunyi-sembunyi dengan mendengarkan berita dari stasiun radio luar negeri.  Berita ini kemudian disampaikan Sjahrir kepada Moh. Hatta.  Sjahrir yang didukung dengan para pemuda lain mendesak Soekarno dan Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 15 Agustus, karena Jepang sudah menyerah tanpa syarat kepada Sekutu.  Soekarno dan Hatta yang belum mendengar berita menyerahnya Jepang pun tidak melakukan apa-apa.  Mereka menunggu keterangan dari pihak Jepang. Proklamasi juga harus dilakukan sesuai prosedur lewat keputusan Panita Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), bentukan Jepang.  Rencana PPKI, kemerdekaan Indonesia akan diproklamasikan pada 24 September 1945.  Tindakan yang dilakukan oleh Soekarno dan Hatta ini membuat para pemuda merasa kecewa.  Sebab itu, agar Soekarno dan Hatta tidak terpengaruh oleh Jepang, Sjahrir bersama para pemuda lain menculik Soekarno dan Hatta pada 16 Agustus 1945. Mereka diasingkan ke Rengasdengklok. Setelah didesak oleh para pemuda, Soekarno dan Hatta pun setuju untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, yaitu pada 17 Agustus 1945.  Baca juga: Tan Malaka: Masa Muda, Perjuangan, Peran, dan Akhir Hidupnya.

Penculikan Soekarno dan Hatta

Pada 26 Juni 1946, setelah Sjahrir menjadi Perdana Menteri Indonesia, ia diculik oleh oposisi Persatuan Perjuangan yang tidak puas atas diplomasi yang dilakukan Kabinet Sjahrir II.  Peristiwa ini terjadi di Surakarta. Diplomasi Sutan Sjahrir dianggap sangat merugikan perjuangan bangsa Indonesia pada saat itu.  Kelompok ini ingin mendapat pengakuan kedaulatan penuh yang dicetuskan oleh Tan Malaka.  Sedangkan Kabinet Sjahrir II hanya menuntut pengakuan atas Jawa dan Madura.  Perdana Menteri Sjahrir ditahan di suatu rumah peristirahatan di Paras. Ia diculik oleh kelompok Persatuan Perjuangan yang dipimpin oleh Mayor Jenderal Soedarsono dan 14 pimpinan sipil.  Salah satu di antara mereka adalah Tan Malaka.  Presiden Soekarno yang mendengar kabar penculikan ini merasa sangat marah.  Ia memerintahkan Polisi Surakarta untuk menangkap para pimpinan tersebut.  Pada 1 Juli 1946, ke-14 pimpinan berhasil ditangkap dan dijebloskan ke penjara Wirogunan.  Sehari kemudian, 2 Juli 1946, tentara Divisi 3 dipimpin Mayor Jenderal Soedarsono menyerang Wirogunan dan membebaskan ke-14 pimpinan yang ditahan.  Pada 3 Juli 1946, Mayjen Soedarsono dan pimpinan pemberontak berhasil dilucuti senjata dan ditangkap di dekat Istana Presiden di Yogyakarta.

Diplomasi

Setelah tragedi penculikan, Sjahrir hanya bertugas menjadi Menteri Luar Negeri.  Tugas Perdana Menteri pun diambil alih Presiden Soekarno.  Namun, pada 2 Oktober 1946, Soekarno kembali menunjuk Sjahrir untuk menjadi Perdana Menteri agar dapat melanjutkan Perundingan Linggarjati.  Perundingan ini kemudian berhasil ditandatangani pada 15 November 1946.  Agar Republik Indonesia tidak runtuh, Sjahrir menjalankan siasatnya.  Sebagai ketua Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP KNIP), ia menjadi pencetus perubahan Kabinet Presidensil menjadi Kabinet Parlementer.  Kabinet Parlementer bertanggung jawab kepada KNIP sebagai lembaga yang punya fungsi legislatif.  RI sendiri juga menganut sistem multipartai.  Kepada massa rakyat, Sutan Sjahrir selalu menyerukan nilai-nilai kemanusiaan dan anti kekerasan.  Dengan siasat-siasat tersebut, Sjahrir berusaha menunjukkan ke dunia intenrasional bahwa revolusi Republik Indonesia adalah perjuangan suatu bangsa yang beradab dan demokratis. Belanda kerap melakukan propaganda bahwa orang-orang di Indonesia merupakan gerombolan yang brutal, suka membunuh, merampok, dan lainnya.  Untuk mematahkan propaganda tersebut, Sjahrir menginisiasi penyelenggaraan pameran kesenian yang kemudian diliput dan dipublikasikan oleh para wartawan luar negeri.

Akhir Hidup

Tahun 1955, Partai Sosialis Indonesia gagal mendapat suara banyak dalam pemilihan umum pertama di Indonesia.  Tahun 1962 sampai 1965, Sjahrir ditangkap dan dipenjarakan tanpa diadili sampai mengalami stroke.  Sutan Sjahrir ditangkap karena partai yang ia dirikan, Partai Sosialis Indonesia diduga telah terlibat dalam pemberontakan PRRI.  Setelah itu, Sjahrir diizinkan untuk berobat ke Zürich Swiss. Sjahrir meninggal di Swiss pada 9 April 1956.  Di tanggal yang sama, melalui Keppres Nomor 76 Tahun 1966, Sutan Sjahrir dikukuhkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia. 

Sumber :

https://www.kompas.com/stori/read/2021/06/22/080000479/sutan-sjahrir–masa-muda-kiprah-penculikan-dan-akhir-hidup?page=all#page2

Penulis Verelladevanka Adryamarthanino | Editor Nibras Nada Nailufar

Kompas.com – 22/06/2021, 08:00 WIB

Filsafat Kerakyatan Bung Hatta

Jaya Suprana Show- Prof.Dr. Meutia Hatta Swasono- Filsafat Kerakyatan Bung Hatta

“Diantara sekian banyak negarawan dunia, jadi bukan hanya indonesia tetapi dunia. Yang paling saya kagumi dan paling saya hormati adalah Bung Hatta karena saya memang belum pernah, belum sempat berbincang-bincang langsung dengan beliau tetapi dari kejauhan saya senantiasa mengagumi Bung Hatta. Terutama mengenai filsafat kerakyatan Bung Hatta yang Saya kira tidak ada duanya di planet bumi ini, saya kira yang paling berhak untuk bicara tentang filsafat kerakyatan Bung Hatta adalah Putri Sulung beliau yaitu Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono, maka Ibu Prof. Meutia saya berterima kasih sekali atas berkenan anda untuk berkisah tentang filsafat kerakyatan Bung Hatta dalam kesempatan ini dan selanjutnya waktu dan tempat saya serahkan sepenuhnya kepada Prof. Dr.

Meutia Farida Hatta Swasono silahkan.” – Jaya Suprana.

“Terima kasih Pak, saya bersyukur bisa mempunyai kesempatan di sini dan Bapak minta saya untuk bicara soal filsafat Bung Hatta yang dilihat sebagai filsafat kerakyatan Bung Hatta kan dan dalam gaib ini saya melihatnya juga sebagai filsafat kenegaraan karena Bung Hatta itu seorang negarawan dari kecil, bukan dari kecil dari muda mahasiswa mempersiapkan diri untuk berpikir Indonesia Merdeka jadi dia memupuk diri sebagai negarawan.” – Prof. Dr. Meutia  Farida Hatta Swasono.

“Mohon maaf kalau boleh saya nimbung, kok bisa beliau itu sejak muda itu punya yang menurut saya itu obsesi beliau adalah untuk Indonesia Merdeka, padahal waktu itu kan Indonesia belum ada. Indonesia aja kan belum ada, adanya Hindia Belanda ya kok bisa Bung Hatta sejak muda itu punya cita-cita Indonesia Merdeka? silahkan.” – Jaya Suprana.

“Ya terima kasih mungkin Ini pengalaman hidupnya dari kecil, ketika masih kecil umur 6 tahun itu ada Perang Kamang di Sumatera Barat dan di Bukittinggi tempat beliau waktu itu masih anak-anak tinggal. Bung Hatta itu punya kebiasaan kalau makan malam, makan siang, makan malam bersama-sama keluarganya jadi percakapan orang dewasa ini mulai dari kakek , nenek,  ibu kemudian juga om-omnya ke paman-pamannya itu. Mengenai Perang Kamang ini juga menceritakan tentang Serdadu yang kasar kepada rakyat itu terpatride di hatinya, jadi Belanda jahat. Waktu sekolah di Padang ya, di sekolah di Padang datanglah tokoh-tokoh seperti Nazir Sutan Pamuncak dan Abdul Muis yang membicarakan tentang Jong Sumatranen Bond jadi anak-anak muda harus mengenal masyarakatnya sendiri gitu. Di sini Bung Hatta kemudian ada satu hal yang dia pikir itu upacara… upacara atau suatu kebiasaan adat tapi ternyata itu tanam paksa jadi baru tahu rupanya rakyat itu disuruh menanam sayur-sayur dan kopi ya seperti itu. Tapi tidak boleh menikmati sendiri harus diserahkan kepada Belanda jadi SMP sudah terbuka itu lalu Bung Hatta juga ketemu tokoh-tokoh yang seumur maupun yang lebih tua jadi dan ketika kebetulan ya, ketika sekolah di Batavia di Jakarta beliau itu sendiri, Ayah saya itu sendiri tapi Kemudian pada tahun 1918 Bung Hatta itu terekspos pada suatu situasi yang mengesalkan kepada rakyat, waktu itu terutama di Batavia mereka ngomongin ini Gubernur Jenderal Limburg Stirum itu dulu pernah berjanji mempersiapkan Indonesia Merdeka jadi pemupukan fasilitas seperti itu tapi setelah ditanya di foxset beliau mengingkar, mengingkari janji itu. Mereka mengambil keputusan kita harus Merdeka tidak usah minta tolong Belanda lagi seperti yang dipikirkan tetapi ayo kita mulai gitu. Perhimpunan Hindia Belanda itu kemudian juga tokoh-tokohnya mempengaruhi anak-anak muda, Ayah saya waktu itu kan umurnya baru 19 tahun kemudian ia di negeri Belanda waktu itu, lalu kalau kita Merdeka namanya apa ya negara kita tentu tidak bisa Hindia

Belanda lalu mereka mencari di perpustakaan nama apalagi yang pernah muncul ,nah itu ada tiga cholar ilmuwan yang dua Inggris yang satu Jerman, yang Jerman itu Bastian tapi sebelumnya itu sama elegan tiga-tiganya menggunakan nama Indonesia. Nah itulah nanti yang menjadi negara maka perhimpunan yang disebut Indische Vereeniging itu menjadi Indonesische Vereeniging tahun 1922 dan baru 2 minggu kemarin itu saya juga diundang karena Kedutaan Besar kita di negeri Belanda membuat peringatan 100 tahun Perhimpunan Indonesia jadi saya bersyukur sekali saya diundang. Iya ini dia jadi, nah jadi Bung Hatta itu terobsesi bahwa kita harus Merdeka dan sebagai anak muda kan dia juga suka pergi konferensi-konferensi yang dihadiri oleh anak-anak muda Asia dan Afrika yang kuliah di Eropa dan mereka datang semua. Negara-negara mereka waktu masih terjajah India jadi bertemu dengan ayah saya begitu ya dan akhirnya mereka memupuk kita harus Merdeka masing-masing dan Bung Hatta mengatakan kemerdekaan itu harus diperjuangkan oleh kita sendiri dan sifatnya non kooperasi tidak boleh minta-minta kepada Belanda semuanya harus dikerjakan sendiri. jadi tadi menjawab pertanyaan “Kenapa Bung Hatta pikirannya ke situ?” karena pengalaman itu.” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Dan Ibu menjelaskannya secara sangat gampang dan sangat-sangat sesuai kenyataan karena Ibu saya kira juga pernah tentu berbincang-bincang dengan Ayahanda Ibu mengenai hal itu kalau saya boleh tahu Bu, karena Ibu kan Putri Sulungnya nah secara manusia, bukan sebagai negarawan tapi sebagai manusia Bung Hatta itu bagaimana sifatnya?” – Jaya Suprana.

“Beliau itu orangnya tidak banyak bicara tapi banyak berpikir, tapi ramah ya tidak pernah marah kecuali harus marah. Karena ada yang dablek tapi marahnya juga secara berwibawa tuh kalau Ayah saya marah itu berwibawa gitu ya.” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Jadi ada prinsipnya beliau orangnya sabar.” – Jaya Suprana.

“Ya sabar tetapi kalau punya prinsip dan merasa benar tidak mau kalah.” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Pantang menyerah. Oke kembali lagi Bu kepada uraian Ibu tentang filsafat kenegaraan Bung Hatta” – Jaya Suprana.

“Ya jadi filsafat kenegaraan Bung Hatta itu adalah azasnya kebangsaan dan kerakyatan itu dua sisi, kedua yang bersatu itu apa bersatu satu sama lain ya, jadi nah ketika itu mengenai filsafat kenegaraan Bung Hatta ini adalah sebetulnya tegaknya akses kebangsaan ya justru Bung Hatta waktu itu memikirkan itu sedang marak-maraknya di Eropa, itu dikumandangkan semangat internasional yang setelah Perang Dunia I itu ya. Di mana itu dinamai sebagai pusat pergaulan internasional, nah disitu dalam menegakkan asas kebersamaan itu kembali lagi kita lihat di negara kita saat itu kan Bung Karno mendirikan PNI (Partai Nasional Indonesia) itu juga suatu partai kebangsaan tetapi ketika Bung Karno ditangkap partai itu dibubarkan dan Bung Hatta kembali ke Indonesia, Sutan Syahrir lebih dulu ke Indonesia dan apa, Bung Hatta itu mengatur, membimbing ya jadinya dari luar negeri beliau sudah

memikirkan Sutan Syahrir harus membantu Bung Karno untuk mendirikan TNI itu nah ketika Bung Karno ditangkap Bung Hatta datang dan mereka dengan Bung Syahrir mendirikan Pendidikan Nasional Indonesia supaya inisialnya itu sama dengan PNI, jadi ini untuk mengenang tapi sekaligus

meneruskan badan terutama partai kader karena di dalam Pendidikan Nasional Indonesia itu mendidik anggota supaya melek terhadap situasi yang ada dan juga melek terhadap kondisi-kondisi supaya kalau nanti kita Merdeka, Indonesia Merdeka kemudian ada yang mau jadi Menteri ada yang mau jadi barangkali Ketua Partai ada yang mau jadi apa, mereka tahu bahwa system ekonomi itu seperti ini, sistem hukum itu, seperti ini jadi mereka diajari itu supaya melek ya. Jadi tidak masuk partai asal aja terus ngomong sembarangan tetapi sudah ada dasarnya jadi di dalam partai

yang mendidik itu orang diajar. Bagaimana kalau mengelola negara jadi dasar-dasarnya itu diberikan

di dalam aktivitas partai, cuma diam-diam karenakan dipantau oleh aparat keamanan Pemerintah Kolonial ya, jadi kadang-kadang pintunya ditutup tapi satu kamar terbuka nah di situ diajarkan jadi dari atasnya rumahnya gelap gitu malam hari padahal ada orang-orang yang diajari gitu.” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Gerilya Pendidikan.” – Jaya Suprana.

“Bung Hatta akhirnya ketangkap dan dibawa ke Boven Digoel bersama Sutan Syahrir kemudian dipindah ke Banda Naira jadi karena perjuangan itu.” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Kalau boleh saya terus terang kurang-kurang mengenal Sutan Syahrir dan itu bagaimana? kok bisa dengan Bung Hatta, kok bisa seperti dua sejoli begitu?” – Jaya Suprana.

“Saya kira mereka itu walaupun sifatnya beda-beda tapi mereka sama pikirannya dan sama juga orangnya tapi saya kira etnis tidak terlalu menjadi sebab mereka bersatu tapi mereka punya pikiran yang sama dan Sutan Syahrir lebih mudah jadi bung Hatta seperti kakak gitu.” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Sutan Syahrir itu juga dari Minang?” – Jaya Suprana.

“Kan ketemunya di negeri Belanda, jadi ini tadi saya juga mau mengatakan ,jadi bung Hatta mengatakan tulisannya Itu namanya ke arah Indonesia Merdeka. Ada satu buku kecil tapi sangat

penting itu ditulis 1931 ayat 32 nah Bung Hatta mengatakan begini “Selama Indonesia Merdeka menjadi tujuan kita yang utama, maka selama itu pergerakannya bersifat kebangsaan” karena Bung Hatta mengatakan “Tidak ada pergerakan kemerdekaan yang terlepas dari semangat kebangsaan apa yang mau dimerdekakan? dari genggaman penjajah bangsa asing, kalau tidak bangsa dan tanah airnya sendiri” nah gitu jadi mengatakan “Memang persatuan hati dan persaudaraan segala manusia itu adalah bagus dan baik tetapi kalau tidak Merdeka itu yang lebih dulu adalah kemerdekaan bangsa jadi harus diutamakan”. Jadi disitu Bung Hatta mengatakan ya “Indonesia itu nama politisnya ya tahun 1922 di situ Indonesia menjadi Peristiwa Pertama menunjukkan penggunaan nama Indonesia untuk tujuan politik ini mencapai kemerdekaan Indonesia” dan satu lagi non kooperatif dan kooperatif itu merupakan kebijakan menyandarkan diri kepada kekuatan sendiri kebijakan Berdikari kalau istilahnya.” – Prof. Dr.. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Ini kan sebetulnya paradoks dengan koperasi yang beliau diberikan itu kan esensi dari koperasi kan adalah kooperatif tapi melawan penjajah kita nggak boleh kooperatif.” – Jaya Suprana.

“Kalau melawan penjajah tidak boleh tapi kalau koperasi diterapkan dalam ekonomi bahwa ekonomi itu dikerjakan oleh secara bersama-sama untuk menolong diri sendiri secara bersama-sama dan itu, dengan itu menjadi besar dan semuanya dirembuk bersama saling menolong, saling asah, asih dan  asuh. Begitu ya ada prinsip-prinsip Koperasi kalau nanti ada waktunya saya bisa tambahkan jadi Bung Hatta itu, saya tertarik pada apa kata-katanya ya, katanya ini “hanya bangsa-bangsa dan manusia yang sama derajat dan sama Merdeka dapat bersaudara kalau tuan dan Budak itu susah berpendapat

seperti persaudaraan nggak bisa gitu tapi harus Merdeka hatinya sama-sama gitu ya” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Maka Beliau juga pernah bilang “jangan menjadi kuli”.” – Jaya Suprana.

“Ya betul, jadi ini di atas kebangsaan kan apa keberanian?  “kalau takut sama penjajah tapi suatu

waktu ada keberanian untuk membela negaranya sendiri berani menantang maut dan sebagainya dan juga bagaimanapun juga bodoh dan penakutnya orang tapi pada suatu saat yang penting ia udah berkorban untuk membela tanah airnya” Nah apa Bung Hatta mengatakan gitu. Jadi saya melihat di sini apa yang non kooperatif tadi ya jadi pentingnya membangun, memerdeka Indonesia harus dengan tujuan kita sendiri jangan minta tolong, jangan tergantung pada Belanda tidak akan terjadi.” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Hubungan Bung Hatta dengan Multatuli?” – Jaya Suprana.

“Beliau lebih senior ya, jadi itu juga dalam kaitan perjuangan tetapi Bung Hatta punya prinsipnya sendiri.” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Jadi tidak ada kerjasama dengan multatuli? tidak ada?”. Jaya Suprana.

“Tidak, karena usianya lanjut ya bung hatta. tapi anaknya Douwes Dekker kan? anaknya itu mengatakan tidak setuju kalau nama Indonesia dipakai, tapi Bung Hatta tetap pada pendiriannya nama Indonesia harus dipakai ya.” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Alasan anaknya Douwes  Dekker itu keberatan namanya Indonesia dipakai itu apa?” – Jaya Suprana.

“Ya dia lebih suka menggunakan nama lensa, saya lupa apa ya mungkin karena dia juga Indo kan orang Indo, tapi Bung Hatta nasionalis banget dan orang Indonesia.” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Pokoknya tidak ada kompromi.” – Jaya Suprana.

“Jadi Bung Hatta mengatakan “Hanya satu bangsa yang paham akan harga dirinya, maka cakrawalanya akan terang benderang” perhimpunan Indonesia mendidik bangsa itu membuatnya kukuh ya, kuat dan kukuh jadi maka itu prinsip non kooperatif ini yang paling penting untuk bung hatta, juga Bung Hatta memperkenalkan dan mengumandangkan nama Indonesia itu sampai juga menjadi amplifier Kata Profesor Sartono kartodirdjo untuk deklarasi Sumpah Pemuda di Tanah Air itu juga karena anak-anak muda di Indonesia mendengarkan yang diperhimpunan Indonesia dan Indonesia. Itu salah satu yang penting dan yang kedua tadi asas kerakyatan tadi kan kebangsaan dan kerakyatan nah Bung Hatta mengatakan “azas kerakyatan itu mengandung arti bahwa kedaulatan ada di tangan rakyat segala hukum atau peraturan Negeri haruslah bersandar pada perasaan keadilan dan kebenaran yang hidup dihati rakyat banyak dan aturan penghidupan haruslah sempurna dan berbahagia bagi rakyat” maksudnya membahagiakan rakyat itu jadi rakyat harus berbahagia di sinilah supaya masyarakat itu berdasarkan keadilan dan kebenaran haruslah rakyat Insaf akan haknya dan harga dirinya dan ini yang harus diajarkan kepada rakyat. Jadi cara menyusun ekonomi pemerintah itu harus mufakat yang musyawarah, mufakat itu semua diajarkan jadi tanggung jawab pemerintah itu, ini belum merdeka waktu itu ya tapi tanggung jawab pemerintah ada dalam untuk menyadarkan rakyat nah itu jadi ini falsafah Bung Hatta itu prinsipnya. Apa yang dilakukan? apa tahtanya? pemimpin itu punya apa ya tahta gitu ya, bukan Raja tapi maksudnya tugas memimpin negara itu ditujukan untuk rakyat itu dia.” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Sebetulnya beliau sangat demokratis.” – Jaya Suprana.

“katanya juga disebut sebagai bapak kedaulatan rakyat oleh banyak orang waktu 100 tahun peringatan ulang tahun Bung Hatta juga ada satu buku diterbitkan. Mulai dari Pak Subadyo, Pak Sartono Kartodirdjo, Ahmad Syafi’i Ma’arif, banyak yang sekarang sudah wafat ya tapi mereka mengatakan sama yaitu Bung Hatta adalah Bapak Kedaulatan Rakyat dan ini saya… yaitu Pak jadi itu apanya yang saat tadi dari filsafat kenegaraan itu kebangsaan dan kerakyatan kemudian filsafat yang lain ekonomi, ekonomi kerakyatan.” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Kalau gak salah filsafat ekonomi kerakyatan Bung Hatta dilanjutkan oleh Prof. Mubyarto di UGM ya?” – Jaya Suprana.

“Ya, tapi beliau ini yaa…cepat pergi ya.” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Tapi sekarang dilanjutkan oleh menantu beliau yaitu Prof. Sri Edi Swasono.” – Jaya Suprana.

“Memang sekarang tantangannya berat ya Pak artinya karena di tengah jalan kan waktu itu cita-citanya ekonomi kerakyatan dan itu sudah ada di Undang-Undang Dasar 1945 tetapi kemudian ada masuk satu periode di mana kapitalisme masuk nah jadi ini mengacaukan karena tidak sama, karena saya waktu itu mendengar ceritanya aduh tertarik sekali ya tapi nanti sebentar saya ceritakan, tapi begitu ada kapitalisme masuk kok makin yang ditanamkan kok kapitalisme gitu ekonomi rakyatnya susah, Bung Hatta selalu mengatakan “Jangan memutar ujung menjadi pangkal” jadi kalau kita mempunyai produk ekonomi dalam negeri jangan langsung diekspor tetapi buatlah jadi, bukan bahan mentah yang utama untuk membangun tapi bahan mentah itu harus dikerjakan dulu di Indonesia di dalam negeri sehingga nanti ada orang-orang yang expert terlatih menjadi buruh menjadi expert dalam membuat bahan-bahan mentah itu menjadi produk yang berharga tapi juga bahannya dari negara kita sendiri dan tanah tumbuh di tanah rakyat gitu, jadi kan ada banyak yang kita tahu dulu itu ada karet rakyat, tebu rakyat itu memang dari tanah rakyat lalu ekonomi nasional menggunakan itu masuk dalam system kemudian juga sebagian rakyat lagi bekerja di pabrik-pabrik dan mereka daya belinya meningkat karena punya uang dan akhirnya kemajuan dari ekonomi dalam negeri itu adalah dari rakyat untuk rakyat oleh rakyat.” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Sebetulnya dari itu juga terjadi di minyak bumi, minyak bumi kita kan dalam bentuk mentahkan malah di export kemudian diolah di luar negeri kemudian dijual kembali ke Indonesia. wah ini Bung Hatta kalau masih hidup marah itu.” – Jaya Suprana.

“Pernah sempat tahu dan marah, sempat tahu juga tapi kalau lihat sekarang kita tambangnya kan makin banyak ya yang ketemu-ketemu berikutnya. ternyata tidak ada lagi PLECI misalnya itu energi dari minyak gas dan macam-macam. Nah itu apa seharusnya kita yang mengola, karena kapitalisme masuk yang lemah disingkirkan.” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Oke Ibu saya kira ekonomi kerakyatan Bung Hatta memang itu adalah ekonomi Indonesia sebetulnya tapi ibu memang benar bahwa setelah itu, setelah kapitalisme masuk ke sini kekuatan-kekuatan tertentu itu melupakan bahkan menyingkirkan rakyat ya sehingga rakyat bukannya di bahagiakan seperti harapan Bung Hatta tapi rakyat disengsarakan itu memang banyak terjadi ibu, itu terutama masyarakat adat dan rakyat miskin. Itu mereka sudah menyuarakan amanat penderitaan mereka beliau-beliau. nah memang sayang sekali Bung Hatta sudah tiada itu bentuknya sayang sekali karena kalau beliau masih ada saya yakin beliau akan marah tentu dengan marah yang berwibawanya beliau itu. Silahkan Ibu lanjut apa yang ingin Ibu utarakan dala tentang filsafat kerakyatan Bung Hatta silakan. – Jaya Suprana.

“Jadi itu tadi bahwa Bung Hatta selalu mengatakan Tuhan di negeri sendiri artinya Master in our on home country, bukan host, kalau kita jadi host kita kadang-kadang arisan atau pesta biar tamunya senang uang kita sedikit jadi itu bukan begitu, tapi kita yang mengatur kalian disini boleh apa… Master in our on home country gitu, tergantung kenapa harus, tergantung pada asing itu kerjasama dengan baik mengikuti kita juga gitu bukan mengatur kita.” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Kalau itu kita setuju tanpa syarat cuma memang nggak semua setuju Bu karena kepentingan, saya kira ada juga sesama warga kita yang memperoleh keuntungan dengan bekerja sama dengan berkolaborasi atau berkomplot lah dengan asing itu ada yang diuntungkan sebenarnya.” – Jaya Suprana.

“Seharusnya yang diuntungkan itu negara dan negara.” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Bukan pribadi.” – Jaya Suprana.

“Bukan.” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Maka itu setiap saya teringat Bung Hatta itu terus terang bulu roma saya itu berdiri Bu, agak  merinding gitu ya, karena kok ada manusia seperti Bung Hatta, apalagi almarhumah Ibu Rahmi berkisar bagaimana beliau menabung untuk beli mesin jahit kemudian akhirnya nggak berhasil karena uangnya dipotong tetapi beliau tidak dikasih tahu oleh Bung Hatta, waktu Bu Rahmi marah sama Bung Hatta, Bung Hatta bilang “Loh kamu kan istri saya tapi saya harus membela bukan istri saya, yang saya bela negeri saya, Wah itu saya betul-betul.” – Jaya Suprana.

“Jadi memang membedakan antara kedinasan dan kekeluargaan karena perjuangan itu membutuhkan korban kan? ya tapi ayah saya, ibu saya juga ikut berkorban nggak papa gitu asal masih tertanggung kan, gapapalah mesin jahit gapapa gitu.” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Apalagi ya kalau Ibu kan orangnya juga sabar sekali kan saya kira….” – Jaya Suprana.

“Suka ngomel juga, tapi sabar. Ngomel tapi nurut gitu.” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Ya saya memang, ya memang bagaimana ya kalau dengan segala hormat kepada Bung Karno saya itu terus terang merasa lebih bagaimana ya… lebih dekat dengan Bung Hatta karena cara berpikir beliau yang menurut saya sangat-sangat alami, sangat natural, sangat tidak dibuat-buat dan beliau tidak terpengaruh oleh isme-isme tetapi kecintaannya kepada Indonesia itu ya memang cinta ya sudah mau apa lagi dan nggak perlu definisi nggak perlu apapun beliau itu kan.” – Jaya Suprana.

“Karena beliau memahami rakyat karena cinta pada rakyat dari kecilkan suka sudah lihat dia tuh orang kota tapi pergi ke desa-desa gitu, lahirnya di kota tapi diajar karena kakeknya itu punya angkutan pos yang kalau sekarang JNE, Tiki tapi dulu masih pakai kereta kuda jadi suka pergi dari kota ke kota naik kereta, naik itu lihat-lihat desa gitu jadi hatinya ke rakyat padahal dia orang kota.” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Beliau dilahirkannya dimana bu?” – Jaya Suprana.

“Kenapa pak?” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Lahirnya di Bukittinggi ya?” – Jaya Suprana.

“Bukittinggi iya.” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Kotanya ya?” – Jaya Suprana.

“Iya, cucunya orang kaya, saudagar. Jadi tapi Bung Hatta bisa memahami orang yang miskin gitu itu hebatnya jadi karena beliau cinta sama rakyat Indonesia gitu makanya ingin Indonesia cepat merdeka karena waktu pergi ke negeri Belanda lihat orang, anak-anak muda Belanda lulus SMA terus dapat pekerjaan, ada juga yang pergi ke Hindia Belanda kan Tanah Air kita tapi kok orang-orang Indonesia sendiri yang orang Hindia Belanda kok tidak boleh sekolah gitu, makanya dia pengen harus bisa seperti rakyat yang merdeka gitu jadi itu obsesinya Bung Hatta.” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Beliau waktu di negeri Belanda itu sekolahnya di mana Bu?” – Jaya Suprana.

“Di Rotterdam, Rotterdam Handels Hogeschool.” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Tempatnya Pak Koe Ki Anggi juga sekolah ya?” – Jaya Suprana.

“Iya, dia senior” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Makanya Pak Koe itu kalau dengan Bung Hatta itu… udah beliau pokoknya, sudah pokonya kamu belajar dari Bung Hatta kecintaannya dengan indonesia itu gak ada tanpa syarat itu.” – Jaya Suprana.

“Jadi Ayah saya itu, Bung Hatta memahami belajar tentang kapitalisme, belajar tentang komunisme tapi karena dia tahu tentang kehidupan masyarakat Indonesia dia melihat ini dua-duanya tidak cocok maka itu ekonomi rakyat itu filsafatnya begitu.” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Hebat, hebat.” – Jaya Suprana.

“Musti ada kebangsaan dan ada kerakyatan, rakyat yang berdaulat di dalam Tanah Air yang dimerdekakan itu.” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Jadi beliau itu ternyata anak saudagar?” – Jaya Suprana.

“Iyaa, kaya sekali dulu itu zaman itu ya, kalau sekarang orang lebih kaya jauh.” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Tapi waktu itu sudah dianggap orang yang kaya, udah kaya lah jadi beliau tidak pernah mengalami penderitaan ekonomi?” – Jaya Suprana.

“Tapi rela menderita dipembuangan di Digoel dan Banda Neira.” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Iya setelah itu bukan main dan saya baru tahu bagaimana beliau waktu di Boven Digoel itu eh waktu di Banda Neira beliau bikin kapal yang di cat nya merah putih biru.” – Jaya Suprana.

“Merah putih, terus bilang “Kenapa merah putih?” “Karena lautnya sudah biru nggak usah lagi bikin cat biru.” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Iya makanya birunya sudah di laut, jadi orangnya sebetulnya humoris juga ya.” – Jaya Suprana.

“Tapi anggun, gak seperti lelucon gitu.” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Bukan lelucon, tetapi humor dalam arti yang mulia, karena cara berpikir beliau itu buat saya sangat humoristis dalam arti bermain dengan logika. Apalagi Bu Meutia yang anda bisa kisahkan tetang Bung Hatta dengan filsafat kerakyatan beliau?” – Jaya Suprana.

“Jadi itu ekonomi kerakyatan tadi sudah disebut bahwa produk rakyat dari tanah rakyat, di produk rakyat dimasukkan dalam sistem ekonomi nasional daerah maupun nasional gitu ya jadi rakyat itu punya, punya penghasilan daya belinya meningkat dan kita jadi sejahtera gitu dan juga Bung Hatta… oh satu lagi Pak yang menariknya jadi waktu itu Ir. Laoh diangkat menjadi Menteri PU tahun 48 kira-kira Kabinet itu, waktu itu dan Bung Hatta memanggil Ir. Laoh “Kamu tahu apa tugasmu?” “tidak Bung”, dipanggilnya Bung dulu ya “Kamu harus merangkai Indonesia” merangkai Indonesia itu bikin Dermaga dimana-mana, bikin Pelabuhan, Airport, ya memang dulu belum ada cukup uang tapi idenya sudah ada.” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Gila itu, itu kemaritiman yang modern sekali Bu.” – Jaya Suprana.

“Maritim maupun pesawat nanti atau kalau di daerah-daerah, jalan-jalan atau sungai-sungai itu ada Dermaga sungai jadi masuk ke pelosok-pelosok nanti rakyat sendiri yang akan membuat daerah itu menjadi ada rumahnya, ada warungnya, ada apa jadi berkembang sendiri. Jadi artinya tidak ada yang terpencil, tidak terlalu terpencil gitu ya terpencil pasti ada karena negara kita ini begini luas ya dan ekonomi kan juga waktu itu masih tahun 40-an ke atas itu 49 – 50 masih sederhana kan, tapi Bung Hatta sudah memikirkan “Kamu harus merangkai Indonesia” sehingga dengan merangkai Indonesia itu tidak ada gap yang sangat tinggi antara yang kaya dan yang miskin dan ada yang terpencil dan yang terbuka gitu, sekotak-kota besar seperti Jakarta dan lain-lain itu jadi supaya rakyat Indonesia ini adil gitu. Makanya Bung Hatta juga kesel kalau korupsi itu menyebabkan dana maupun aset-aset yang harusnya ke daerah terpencil tidak terjadi karena korupsi, itu tidak adil kepada rakyat sekarang di mana-mana ada korupsi ya susah juga.” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Waduh kalau sekarang maaf Bu, ini menjadi demokratisasi korupsi sekarang ini Bu.” – Jaya Suprana.

“Terutama Bung Hatta yang sudah bilang korupsi menjadi kebudayaan,  terus orang kese eh sekarang lebih-lebih lagi kan.” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Jadi sebetulnya pada waktu Bung Hatta masih hadir diantara kita semua, itu korupsi sebetulnya kan belum merajalela kan Bu?” – Jaya Suprana.

“Sudah ada tetapi tidak seperti sekarang terus Ketika saya jadi Menteri saja Pak SBY itu pernah bilang “Itu kasihan Ibu-ibu yang suaminya korupsi lalu dia harus tampil, saya juga merasakan begitu yang sama istri-istrinya harus pergi ke tempat dimana suaminya ditangkap di foto itu tapi sekarang suami istri sama-sama korupsi kan?” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Malah kadang-kadang yang korupsi istrinya, suaminya malah nggak tahu.” – Jaya Suprana.

“Tapi saya kira ini adalah karena kita mengabaikan prinsip-prinsip luhur dan apa kebaikan yang baik dari leluhur maupun dari agama ya, semua agama pasti mengajarkan kebaikan. Nah ini harus dikembalikan tapi susah sekali tapi harus gitu.” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Tapi saya kira juga ada pengaruhnya mengenai pengkhianatan terhadap rakyat itu Bu, karena orang-orang yang korupsi itu pasti mereka itu tidak memikirkan kepentingan rakyat, yang dipikrikan kan kepentingan pribadi dia. Kalau dengan, kalau kita memahami pemikiran Bung Hatta dengan sendirinya

kita pasti tidak akan tega hati melakukan itu semua karena itu korupsi itu penghianatan kerakyatan yang paling parah itu sebetulnya.” – Jaya Suprana.

“Ya betul dan disamping itu merendahkan dirinya sendiri, lupa, martabatnya sendiri dan keluarganya tapi dicuekin ya.” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Belakangan ini Bu dan saya juga jadi curhat kepada Ibu, begini belakangan ini ada sebagian dari teman-teman KPK kita yang waktu itu disingkirkan dari KPK itu, mereka itu sangat-sangat menderita dalam arti bukannya menderita secara ekonomi terhadap tapi menderita dalam arti mereka berjuang untuk melawan korupsi tetapi malah disingkirkan, karena kebetulan yang melakukan korupsi itu sedang memegang kekuasaan. Nah ini Bu kalau Bung Hatta masih hidup, saya pasti akan mengajak teman-teman ini untuk menghadap Bung Hatta untuk supaya, pasti Bung Hatta akan marah yang berwibawa itu tadi ya dan begini Bu terus terang pada saat Bung Hatta meninggal / wafat itu tidak kurang dari seorang Ruslan Abdul Gani yang memberitahu itu bilang ke saya “Waduh Pak Jaya celaka ini” “Loh kenapa celaka?” “Ini Pak Harto itu paling hormat dan paling takut kepada Bung Hatta, nah sekarang kalau ini Bung Hatta nya gak ada, Pak Harto gak ada yang ditakuti lagi” itu betul, itu omongannya Ruslan Abdul Gani itu.” – Jaya Suprana.

“Beliau mengatakan hati nurani bangsa Indonesia sudah enggak ada, iya kan? di koran waktu itu begitu.” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Ya itu di koran, tapi pribadi kesaya, dia itu ngakunya tidak ada yang ditakuti lagi.” – Jaya Suprana.

“Jadi saya tadi, apa Bapak bilang mau mengajak orang-orang yang kecewa itu ke Bung Hatta kalau masih hidup? saya inget hati nurani bangsa Indonesia itu, ya tidak ada yang ditakuti lagi ya, tidak ada yang disegani lagi.” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Tidak ada, tidak ada yang dihormati lagi. Iya jadi kita betul-betul kehilangan ya, saya itu sangat belum sempat berjumpa beliau. Kalau saya sempat pasti dengan bantuan Ibu memperkenalkan saya, bagi beliau sayapun tidak ada artinya. Tapi sebetulnya saya ingin banyak belajar dari beliau, bukan ilmunya Bu tapi pengalamannya beliau itu loh, kalau ilmu kan saya bisa baca buku tapi kalau pengalaman kan nggak bisa Bu. Itukan harus orang yang ngalami sendiri.” – Jaya Suprana.

“Pengalaman itu dicerna dan dilihat apakah Indonesia cocok dengan suatu hal prinsip tertentu seperti komunisme, kapitalisme. Tapi kita harus punya sendiri, yaitu ekonomi rakyat, ya itu sudah dasarnya kita sudah punya kebersamaan ya. Milik rakyat yang di… karena kasih sayang pada rakyat tanahnya, produknya diberdayakan masuk dalam sistem ekonomi nasional. Mestinya kan begitu tapi tidak gitu, malah kalau bisa digusur kehilangan tananhnya.” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Nah itu dia, kalau dengar perkataan digusur itu saya sedih sekali, saya nggak pernah digusur Bu, tapi saya pernah menyaksikan sendiri seorang Ibu, kalau itu orang emak-emak ya begitu, waktu digusur itu di Bukit Duri waktu itu, dia itu diusir dari gubuknya bukan rumah Bu, gubuk. Gubuknya kemudian dia bilang (yang gusur)  “Ayo bawa semua harta bendamu” saya nunggu di situ saya pikir Bu harta bendanya mungkin banyak begitu kan, ternyata dia cuma dibawain gerobak, isinya gerobak itu Bu cuma satu kompor minyak tanah yang udah tua gitu kemudian beberapa dua piring dan sendok garpu dan anak perempuannya yang baru berusia 4 tahun berada di gerobak itu, nah kemudian saya tanya “Loh yang lain mana?” Ibu itu bilang “Iya ini, harta saya ya ini” nah rasanya gimana bu?” – Jaya Suprana.

“Ya itu sifat-sifat yang tegaan seperti itu terlalu kasar ya, kejam boleh dibilang. Itu terjadi kita baca di media dimana nonton di media jadi saya kira harus ada lebih banyak orang saling mengingatkan lah gitu, kita nih mau, negara kita mau jadi negara seperti apa makanya Bung Hatta mengatakan pendidikan karakter bangsa itu penting ya, jadi orang pintar banyak tetapi yang karakternya baik itu harus dipupuk dari diri sendiri dan itu sulit memang tapi harus dilakukan. Kalau bisa menang dari Dirinya Sendiri itu baru baik.” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Jadi menaklukkan diri sendiri Bu ya, dalam Islam kan itu Jihad Al Nafs itu. itu saya sangat mengagumi faslafah Jihad Al Nafs itu. Menaklukkan diri sendiri.” – Jaya Suprana.

“Ya mendalami dari saya tapi saya juga paham ini, ya artinya juga kita membutuhkan sekarang ini orang yang menunjukkan bahwa dia tidak korupsi, dia menjadi star, menjadi bintang di negara ini kalau dia bisa menunjukkan dia tidak korupsi, karena banyak sekali sih korupsi di mana-mana tapi tokoh-tokoh ini bukan tokoh yang kaya, yang cantik, yang baik hati tapi jangan korupsi.” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Begini Bu teman-teman KPK itu kan merencanakan akan membedah buku yang mereka tulis. Nanti Ibu saya undang nggeh ya.” – Jaya Suprana.

“Terimakasih.” – Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Loh kami yang terimakasih, supaya mereka mendengar pesan dari Bung Hatta melalui Putri Sulungnya ini dan tentu dari Prof. Meutia sendiri dan Prof. Sri Edi Swasono. Saya tidak pernah lupa bagaimana pada waktu itu, waktu kita sedang berusaha membantu para ojek-ojek itu Prof. Edi itu dengan penuh semangat memberikan semangat, mengenai membentuk koperasi kepada anak-anak gojek ini untuk mereka bertahan melawan modal besar. itu Prof. Edi melakukannya dengan Con Amore padahal Profesor itu kalau dibayar berapa itu, maksudnya sebagai Konsultan Koperasi.” – Jaya Suprana.

“Dan memang kebersamaan itu penting rasa kebersamaan saling memiliki tidak menghianati satu sama lain gitu, Setia.” –Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Oke Bu ini waktu yang membatasi kita, Nah apa yang belum saya tanyakan, yang pasti masih banyak. Nah tapi menurut Ibu sangat perlu kita ketahui segera kita lebih bisa memahami filsafat kerakyatan warisan Bung Hatta silahkan.” – Jaya Suprana.

“Saya berharap begini bahwa rakyat itu diberdayakan dan jangan digusur artinya dan dibimbing terus dan juga misalnya saya pengalaman saya penelitian belum lama ini pemimpin-pemimpin di wilayah desa atau kecamatan itu harus saling terintegrasi dengan rakyatnya susah senang ditanggung bersama dan tahu mau kemana, jadi rakyat tidak sendiri, tapi Pemimpin juga didukung oleh rakyatnya jadi karena punya tujuan yang sama untuk membangun desanya atau kecamatannya atau apa dan mereka sendiri jadi kalau bersama-sama ini akan bisa apa ya lebih cepat mensejahterakan. Karena harus, hatinya harus bersatu harus bersama dan legowo gitu untuk….” –Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Saya kira pesan Ibu bukan hanya tertuju kepada Kepala Desa atau Kepala Kecamatan tapi juga Bupati, Walikota, Gubernur bahkan Presiden dan Wakil Presiden itu harus bersatu dengan rakyat.” – Jaya Suprana.

“Dicontohkan oleh Bung Karno dan Bung Hatta.” –Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Ada pertanyaan saya terakhir kenapa kalau Bung Karno bisa? Bung Hatta bisa? Kenapa kok kita sekarang sulit bisa, itu kenapa itu? kan kita sama bangsa Indonesia.” – Jaya Suprana.

“Ya karena belum selesai dengan dirinya sendiri, itu.” –Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Belum selesai dengan dirinya sendiri.” – Jaya Suprana.

“Belum bisa menahan masih menyukai apa yang duniawi yang…” –Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Yang apa yang dia butuhkan dia inginkan.” – Jaya Suprana.

“Karena pemimpin itu harus berkorban dan Bung Hatta melakukan itu Bung Karno juga. Bung Hatta yang saya tahu sangat berkorban.” –Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Sampai Ibu Rahmi ikut harus berkorban dan saya kira anak-anaknya juga kan, anak anaknya ikut berkorban kan pasti.” – Jaya Suprana.

“Kita bisa kok.” –Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono.

“Ya makanya, makanya itu lah Bu saya kira memang kita nggak salah dalam arti kita mencoba memohon Prof. Meutia Farida Hatta Swasono untuk memberi pelajaran kepada kita semua tentang filsafat kerakyatan Indonesia ini ya, kepada kita semua karena anda sendiri termasuk saudara-saudara anda ya Mba Gemala dan Mba Halida, beliaukan mengajar disekolah kami, nah itu di situ kita bisa belajar dari bukan teori tapi keteladanan sikap dan perilaku dan terbukti anda semua bisa jadi artinya kalau mau kan bisa lah kalau ndak bisa artinya nggak mau. Ya itu saja terima kasih Ibu Prof. Meutia Hatta Swasono, tapi nggak punya apa-apa. Tapi nanti akan apa, mengirim ini kepada anda sangat sederhana ucapan terima kasih kepada Prof. Dr. Mutia Faridah Hatta Swasono.

Sumber : Jaya Suprana Show

PENDIRI BANGSA,BUNG HATTA LEBIH DARI SEKEDAR BAPAK KOPERASI INDONESIA – Kwik Kian Gie

https://www.youtube.com/watch?v=h-A5CsdqTnA

Bung Hatta : Untuk Kemerdekaan Indonesia, Kalau Perlu Darah Mengalir Dalam Keluarga Saya

Bung Hatta : Saya Lebih Suka Melihat Nusantara Tenggelam, Ambles Di Bawah Laut,dari pada harus Di Jajah

Kwik Kian Gie : Saya Menghormati dan Tidak Bisa Mengerti bahwa ada Manusia (Bung Hatta), Yang Begitu Hebatnya

Sumber : Syakaa Channel Tv

Peringatan 120 Tahun Bung Hatta

Memperingati 120 tahun sang proklamator Bung Hatta Yayasan Proklamator Bung Hatta menggelar kegiatan Webinar dengan Tema “Bung Hatta Pejuang Tangguh dan Pemikir yang Visioner” Napak Tilas, Ultra Run dan Launching Metaverse Hatta Memorial Heritage Virtual. Acara ini dibuka langsung oleh Putri Bung Hatta Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono pada Istana Bung Hatta Bukittingi.

Tiga agenda sekaligus digelar pada (13/8) yaitu : Napak Tilas Bung Hatta, Ultra Run atau lari maraton 120 km dan launching museum virtual dengan teknologi Metaverse.

Ketiga putri Bung Hatta yaitu Meutia, Gemala dan Halida hadir dalam rangkaian acara yang digelar di istana Bung Hatta Bukittinggi sejak pukul 07.00 pagi itu. Acara juga dihadiri oleh Rektor Universitas Bung Hatta Prof. Dr. Tafdil Husni, S.E., M.B.A., Bupati Agam Dr. H. Andri Warman, MM. dan Ketua Umum Yayasan Proklamator Bung Hatta Prof. Dr. Maizar Rahman serta perwakilan Pemprov Sumbar dan Pemkot Bukittinggi.

Dalam sambutannya Meutia Hatta menyampaikan bahwa yang paling penting dari peringatan ini adalah bagaimana agar keteladanan Bung Hatta itu bisa dipedomani oleh setiap pejabat khususnya di Sumatera Barat.

Selanjutnya Meutia Hatta juga mengungkap bahwa Bung Hatta bukanlah sosok yang tiba-tiba saja hadir dari langit untuk memproklamirkan Kemerdekaan Indonesia, namun kehadiran beliau adalah sebuah perjalanan yang panjang.

Dalam upaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia Bung Hatta melakukan perjalanan ke berbagai pelosok Negeri untuk meyakinkan rakyat dan membangun optimisme.

Sementara itu Bupati Agam, Andri Warman merasa sangat beruntung bahwa dalam agenda 120 tahun Bung Hatta ini, Bukittinggi dan Kabupaten Agam kedatangan 3 putri Bung Hatta dan Pesanggrahan Bung Hatta yang berlokasi di Kabupaten Agam menjadi tujuan utama agenda napak tilas Bung Hatta.

Andri Warman berharap pesanggrahan Bung Hatta dapat menjadi destinasi wisata baru karena disamping keindahan alamnya juga ada jejak Bung Hatta yang bisa menjadi situs sejarah.

Kemeriahan peringatan 120 tahun Bung Hatta sangat terasa di Kabupaten Agam dimana para tamu disuguhi “upacara tradisional” atau dalam bahasa Minangnya “Baralek Gadang” atau pesta besar di lapangan di depan SD 09 yang konon diresmikan oleh Bung Hatta pada tahun 1952.

Upacara ini disaksikan oleh para pemuka adat di kabupaten Agam dan diakhiri dengan makan bersama secara tradisional yang disebut dengan ‘makan bajambek’.

Bukittinggi, 13 Agustus 2022