Peringatan 120 Tahun Bung Hatta

Memperingati 120 tahun sang proklamator Bung Hatta Yayasan Proklamator Bung Hatta menggelar kegiatan Webinar dengan Tema “Bung Hatta Pejuang Tangguh dan Pemikir yang Visioner” Napak Tilas, Ultra Run dan Launching Metaverse Hatta Memorial Heritage Virtual. Acara ini dibuka langsung oleh Putri Bung Hatta Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono pada Istana Bung Hatta Bukittingi.

Tiga agenda sekaligus digelar pada (13/8) yaitu : Napak Tilas Bung Hatta, Ultra Run atau lari maraton 120 km dan launching museum virtual dengan teknologi Metaverse.

Ketiga putri Bung Hatta yaitu Meutia, Gemala dan Halida hadir dalam rangkaian acara yang digelar di istana Bung Hatta Bukittinggi sejak pukul 07.00 pagi itu. Acara juga dihadiri oleh Rektor Universitas Bung Hatta Prof. Dr. Tafdil Husni, S.E., M.B.A., Bupati Agam Dr. H. Andri Warman, MM. dan Ketua Umum Yayasan Proklamator Bung Hatta Prof. Dr. Maizar Rahman serta perwakilan Pemprov Sumbar dan Pemkot Bukittinggi.

Dalam sambutannya Meutia Hatta menyampaikan bahwa yang paling penting dari peringatan ini adalah bagaimana agar keteladanan Bung Hatta itu bisa dipedomani oleh setiap pejabat khususnya di Sumatera Barat.

Selanjutnya Meutia Hatta juga mengungkap bahwa Bung Hatta bukanlah sosok yang tiba-tiba saja hadir dari langit untuk memproklamirkan Kemerdekaan Indonesia, namun kehadiran beliau adalah sebuah perjalanan yang panjang.

Dalam upaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia Bung Hatta melakukan perjalanan ke berbagai pelosok Negeri untuk meyakinkan rakyat dan membangun optimisme.

Sementara itu Bupati Agam, Andri Warman merasa sangat beruntung bahwa dalam agenda 120 tahun Bung Hatta ini, Bukittinggi dan Kabupaten Agam kedatangan 3 putri Bung Hatta dan Pesanggrahan Bung Hatta yang berlokasi di Kabupaten Agam menjadi tujuan utama agenda napak tilas Bung Hatta.

Andri Warman berharap pesanggrahan Bung Hatta dapat menjadi destinasi wisata baru karena disamping keindahan alamnya juga ada jejak Bung Hatta yang bisa menjadi situs sejarah.

Kemeriahan peringatan 120 tahun Bung Hatta sangat terasa di Kabupaten Agam dimana para tamu disuguhi “upacara tradisional” atau dalam bahasa Minangnya “Baralek Gadang” atau pesta besar di lapangan di depan SD 09 yang konon diresmikan oleh Bung Hatta pada tahun 1952.

Upacara ini disaksikan oleh para pemuka adat di kabupaten Agam dan diakhiri dengan makan bersama secara tradisional yang disebut dengan ‘makan bajambek’.

Bukittinggi, 13 Agustus 2022

Konsep Bung Hatta Memanfaatkan Hutan dan Lahan

Bung Hatta sudah punya konsep bagaimana memanfaatkan hutan dan lahan. Kuncinya keberpihakan kepada masyarakat lemah dan miskin.

Hariadi Kartodihardjo

SEKALI waktu kita mungkin perlu menoleh ke belakang: untuk tahu apa yang dahulu dipikirkan oleh tokoh pendiri Indonesia—dalam hal ini Bung Hatta (1902-1980)—tentang tanah hutan dan lahan. Apakah konsep dan cita-citanya kita jalankan pada saat ini. 

Dalam berbagai kesempatan, Bung Hatta mengemukakan pendapatnya soal pemanfaatan hutan dan lahan berikut ini:

Di koran Hindia Poetra Nomor 2 edisi Maret 1923, Bung Hatta menekankan perihal kurangnya perlindungan mengenai sewa tanah pertanian yang merugikan bangsa Indonesia, yaitu petani yang menyewakan lahannya kepada industri gula. 

Bung Hatta menulis: “Selama nilai sewa belum mencapai nilai tertinggi, cukup untuk membeli padi dengan jumlah yang sama, yaitu uang yang akan diterima oleh kaum petani sebagai pemberian bagi hasil pertanian, dan selama jalan masuk ke perbudakan bagi petani yang berada dalam posisi lemah secara hukum masih terbuka lebar, maka tidak akan ada perlindungan hukum yang nyata terhadap petani pemilik tanah yang lemah secara ekonomis. Jika hal-hal tersebut masih mungkin, kiranya Indonesia masih akan berada di bawah kekuasaan modal”.

Dalam kalimatnya yang lain, ia menulis “Bila seseorang berhati-hati dalam memandang keadaan Indonesia yang berubah cepat, tidak sukar untuk melihat bahaya besar bagi petani Indonesia”. 

Pada Kumpulan Karangan III (1954), Bung Hatta mengemukakan dasar pemikiran mengenai pemilikan dan penguasaan tanah. Sebagai negara agraria, pemilikan tanah diizinkan apabila tanah tersebut dikerjakan sendiri. Kepemilikan ini harus bisa dilindungi dari praktik memeras dan merampas para tukang riba, serta melarang praktik ijon. Seseorang tidak boleh punya lahan lebih dari lima hektare dan apabila tanah itu tidak dikerjakan sendiri, bagian yang mengerjakan tidak boleh kurang dari separuh hasil tanah itu. 

Mengenai hutan, Bung Hatta menulis artikel Hutan Menyimpan Kapital Nasional Kita pada 1950.  Dalam artikel ini, ia menjelaskan bagaimana perjuangan mempertahankan kemerdekaan 1945-1949, yang telah membakar bangunan-bangunan sendiri karena merasa lebih baik dibumi-hanguskan daripada dipergunakan oleh Belanda, serta bagaimana negara kekurangan kapital untuk kehidupan sosial-ekonomi setelah itu.

Setelah itu, Bung Hatta menulis “Betapa banyaknya hutan-hutan kita yang sebenarnya menyimpan kapital nasional. Hutan itu tidak boleh ditebang, ia harus dipelihara, karena itulah kapital nasional kita. Siapa yang hendak membuat ladang, haruslah bertanya dulu kepada dinas kehutanan, mana yang boleh ditanami menjadi ladang, mana yang tidak. Karena apabila kayu di gunung itu habis ditebang, air tidak bisa ditahan mengalir ke laut yang lambat laun akan menjadikan tanah-tanah kita menjadi tandus. Humus yang ada di kulit tanah habis dihanyutkan oleh air yang menyebabkan terjadinya gunung-gunung tandus. Inilah kapital nasional yang harus dijaga”.

Dengan sangat jelas fokus Bung Hatta pada keadilan dan kelestarian penggunaan tanah dan hutan. Pernyataannya ia tegaskan kembali pada saat briefing para pejabat dan tokoh masyarakat di Biak, Papua, pada 3 Juni 1970: “Sekarang bukan lagi berjuang untuk merdeka, tetapi berjuang untuk alam kita, untuk melaksanakan alam itu menjadi bahan kemakmuran bagi kita. Perjuangan kita sudah tertanam dalam Undang-Undang Dasar kita. Untuk mendirikan suatu negara Indonesia yang merdeka dan berdaulat kita sudah laksanakan, tinggal mendirikan Indonesia yang adil dan makmur!”

Pembicaraan yang terkait dengan tanah dan hutan itu juga pernah dilakukan dalam suatu seminar pada 6-7 Oktober 1977 bertajuk “Penjabaran Pasal 33 UUD 1945”. Seminar itu seperti evaluasi setelah 32 tahun merdeka, mengapa pada saat itu ekonomi tidak menjawab masalah kemiskinan dan pengangguran yang justru meningkat.

Bung Hatta mengatakan bahwa hasil-hasil pembangunan hanya berakibat menambah penghasilan berbagai golongan berpendapatan lebih tinggi, yang sudah memiliki modal, alat-alat produksi, jabatan-jabatan yang ada kaitannya dengan golongannya, kredit dan berbagai fasilitas lainnya, tetapi tidak menyentuh golongan yang masih rendah penghasilannya.

Apabila dihubungkan dengan situasi pemanfaatan lahan dan hutan saat ini—setelah 44 tahun seminar itu—keadaannya masih sama, walaupun setelah reformasi 1998 pemerintah telah berupaya mengatasinya.

Misalnya, di Riau, korporasi pulp dan paper telah menguasai hutan seluas 2.028.141 hektare dan perkebunan kelapa sawit telah menguasai 3.444.270 hektare (Ali, 2021). Secara nasional, penguasaan tanah jutaan hektare untuk perkebunan telah berada di tangan hanya beberapa perusahaan grup besar dan konflik lahan pun terjadi di hampir semua provinsi yang mempunyai perkebunan (Dirjen Perkebunan, 2021).

Pemanfaatan hutan juga didominasi perusahaan besar daripada masyarakat lokal dan adat (KLHK, 2020). Bahkan dalam Undang-Undang Nomor 11/2020 tentang cipta kerja, konsesi-konsesi besar mendapat peluang perizinan selama dua kali 90 tahun, dibandingkan dengan persetujuan perhutanan sosial yang hanya dua kali 35 tahun.

Dengan demikian, pokok soal yang dibahas dalam seminar 1977 itu, masih sangat relevan dengan kondisi saat ini. Untuk itu perlu kita pahami makna makalah kunci yang disusun Bung Hatta sebagai menjadi acuan.

Bung Hatta menegaskan dasar pemikiran bagaimana pasal 33 dibentuk, yaitu sistem ekonomi yang dikembangkan dari bawah melalui koperasi untuk memenuhi keperluan hidup rakyat sehari-hari dan kemudian berangsur-angsur meningkat ke atas. Pemerintah membangun dari atas, melaksanakan hal-hal besar seperti penyediaan tenaga listrik, air minum, infrastruktur ekonomi maupun berbagai macam produksi yang menguasai hajat hidup orang banyak.

Selanjutnya, pelaku ekonomi ketiga yaitu swasta, yang mempunyai ruang pengembangan ekonomi di antaranya. Dalam pelaksanaannya, Bung Hatta mengatakan, “Pemerintah berkewajiban membuat peraturan guna kelancaran jalannya ekonomi, yaitu peraturan yang melarang “pengisapan” orang yang lemah oleh orang yang bermodal”.

Sebagai pembahas makalah tersebut, Ruslan Abdulgani (1914-2005)—pemimpin selama revolusi pada akhir 1940-an dan Duta Besar PBB pada pemerintahan Presiden Soekarno—menekankan keharusan adanya keseimbangan antara peran negara dan peran pasar dalam pengaturan kekayaan alam, yang didasarkan pada idealisme dan realisme Bung Hatta.

Ia mengatakan rakyat mempunyai pengembangan ekonomi melalui aktiva koperasi dan aktiva negara menguasai public utilities dan natural riches, harus kita pegang teguh. Dalam hal ini tidak semua aktiva ekonomi harus dijadikan koperasi atau diambil alih negara.

Ruslan memberi alasan: “Karena, jika begitu, negara akan menjadi robot, harkat dan harga manusia akan lenyap. Kleptokrasi akan mendesak demokrasi dan nafsu klepto maniak akan menyelinap ke dalam birokrasi negara, mencuri kekayaan rakyat. Sebaliknya, kalau semua aktiva ekonomi diswastakan tanpa campur tangan, pembinaan oleh pimpinan negara dan pemerintah, maka free-fight liberalisme akan timbul: si kaya dan si kuat akan menghisap si miskin dan si lemah, si pintar akan menipu si bodoh. Kanibalisme ekonomi dan politik akan menjadi kebiasaan. Kombinasi etatisme negara dan kompetisinya liberalisme swasta itu dapat menyempitkan kemakmuran rakyat”.

Dalam seminar itu terungkap bagaimana hal-hal fundamental itu masih belum tercapai, antara lain, adanya penghamburan kekayaan negara termasuk nilai devisa, akibat penyalahgunaan, salah urus, komersialisasi jabatan, manipulasi maupun korupsi.

Dengan begitu, secara keseluruhan bisa kita lihat bahwa persoalan lahan dan hutan itu—yang telah dipersoalkan hampir 50 tahun yang lalu—akibat sistem pemerintahan yang tidak bisa memisahkan antara apa yang harus dijalankan sesuai dengan kepentingan publik, kebijakan afirmatif bagi rakyat yang tertinggal secara ekonomi dan politik, dengan apa yang dapat diberikan peluang-peluang ekonomi bagi swasta, yang berujung pada kanibalisme ekonomi dan politik.

Dua abad sebelumnya, hal itu telah diingatkan oleh pakar ekonomi Adam Smith (1723-1790), yang dahulu sering dikritik karena menyebarkan liberalisme melalui The Wealth of Nations dan The Theory of Moral Sentiments.

Smith curiga terhadap etika dan moral para pelaku bisnis dengan kebijakan pribadinya. Ia pernah berkata kurang lebih sebagai berikut: “Orang-orang dari bisnis yang sama jarang bertemu, bahkan untuk kesenangan dan hiburan, kecuali percakapannya berakhir dengan konspirasi melawan publik, atau untuk menaikkan harga. Pedagang dan pemilik pabrik tidak seharusnya mengatur umat manusia.”

Pikiran itu sejalan dengan konsep Bung Hatta dalam pemanfaatan hutan dan lahan.

Penulis : Hariadi Kartodihardjo

Guru Besar Kebijakan Kehutanan pada Fakultas Kehutanan dan Lingkungan serta fellow pada Center for Transdiciplinary and Sustainability Sciences, IPB.

Sumber : https://www.forestdigest.com/detail/1196/pikiran-bung-hatta-soal-hutan-dan-lahan#.Yw4W1Azmnlc.whatsapp

Perjalanan Rahasia Bung Hatta ke India

Ilustrasi: Edi Wahyono

Bung Hatta pernah menyamar dengan nama Abdullah dan menjadi kopilot saat bertandang ke India pada 1947. Melobi bantuan persenjataan untuk perang melawan Belanda.

Wakil Presiden Mohammad Hatta tengah berada di Bukittinggi, Sumatera Barat, dalam perjalanannya keliling Pulau Sumatera ketika surat dari Presiden Sukarno itu datang pada Juni 1947. Surat itu dibawa oleh seorang pilot India bernama Patnaik dari Yogyakarta, ibu kota Republik Indonesia.

Patnaik bukan pilot sembarang pilot. Ia adalah orang dekat Perdana Menteri India Pandit Jawaharlal Nehru. Patnaik pernah menerbangkan obat-obatan dari India ke Indonesia. Bantuan itu sebagai balasan atas tawaran beras dari Sukarno kepada India.

Sukarno hendak meminta bantuan kepada New Delhi untuk kedua kalinya. Belanda sudah semakin dekat, bersiap-siap menyerang ke daerah Republik Indonesia. Karena itu, ia mengutus Bung Hatta untuk meminta bantuan persenjataan kepada India.

Bung Hatta, yang senang bakal bertemu dengan Nehru, sahabat lama dan teman seperjuangannya menentang penjajahan untuk kemerdekaan nasional, menyanggupi perintah Sukarno. Namun perjalanan ke India adalah sesuatu yang rawan terendus Belanda. Karena itu, perjalanan tersebut amat dirahasiakan.

Mohammad Hatta
Foto: KITLV

Rupanya strategi penyamaran sudah disiapkan dengan baik oleh Patnaik. Ia membawakan Bung Hatta seragam kopilot yang dijahit di Yogyakarta. Ukurannya pun sudah disesuaikan dengan ukuran baju dan celana Bung Hatta. Patnaik juga menyiapkan paspor untuk Bung Hatta dengan nama Abdullah.

“Yang benar-benar menjadi co-pilot adalah Adisutjipto. Sebelum menjadi pilot Pemerintah Republik Indonesia, ia adalah pilot pemerintah Belanda dan dilatih oleh Angkatan Udara Inggris menghadapi Angkatan Udara Nazi-Jerman,” kata Bung Hatta dalam Mohammad Hatta, Memoir (1982).

Bung Hatta dan rombongan terbang dari Lapangan Terbang Gadut di Bukittinggi. Perjalanan ke India ditempuh dalam beberapa hari dan transit di berbagai negara. Pada saat di Kuala Lumpur, Malaysia, Bung Hatta menginap di sebuah hotel yang dimiliki seorang warga negara Inggris. Ia sempat merasa curiga mengetahui seorang kopilot diinapkan di kamar paling bagus.

“Aku percaya, bagaimanapun juga agresifnya Belanda, Indonesia akan menang.”

Setibanya di New Delhi, Bung Hatta tidak langsung bertemu dengan Nehru karena hari sudah malam. Nehru sendiri tidak diberi tahu kalau Bung Hatta sudah tiba di India. Patnaik memang sengaja ingin memberikan kejutan kepada Nehru.

Ketika keesokan harinya mengantar Bung Hatta ke rumah Nehru, Patnaik bilang kepada Nehru bahwa seorang tamu dari Indonesia bernama Abdullah sudah menunggunya. Nehru penasaran karena ia tak mengenal nama itu. Begitu keluar dari rumah dan tahu bahwa yang datang Bung Hatta, Nehru pun menghardik Patnaik.

Nehru menawarkan agar Bung Hatta menginap di rumahnya dan menganggap rumah itu layaknya rumah sendiri. Namun tawaran itu ditolak karena perjalanan Bung Hatta yang dirahasiakan. Bung Hatta bilang ingin membicarakan sesuatu yang penting dengan Nehru. Nehru menjadwalkan keesokan harinya karena sedang ada jadwal sidang kabinet.

Dalam pembicaraan kedua sahabat itu, Bung Hatta menanyakan apakah India dapat membantu Indonesia dalam hal persenjataan. Sebab, naga-naganya Belanda akan menyerbu Indonesia. Namun, Nehru menjawab tidak bisa. Senjata-senjata itu masih berada di bawah penguasaan Inggris, negara bekas penjajah India.

Nehru berjanji membantu Indonesia dengan melayangkan protes ke Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) agar tindakan Belanda itu dihukum. Protes itu tidak dapat diabaikan oleh Belanda karena gengsinya akan jatuh jika tetap menyerang Indonesia. Nama Belanda akan terpuruk di dunia internasional.

Pukulan dari Belanda akan mengangkat derajat Indonesia. Indonesia memang akan menderita karena perang, namun Indonesia tidak akan dapat dihilangkan dari peta. Pendudukan Belanda di Indonesia hanya sementara dan, sesuai dengan Perjanjian Linggarjati, seluruh daerah Indonesia akan merdeka.

“Aku menyesal India tidak dapat segera membantu Republik Indonesia dengan segera, tapi aku setuju dengan pandangan Nehru bahwa pukulan terhadap Belanda itu akan menaikkan derajat Republik Indonesia di masa mendatang,” ujar Bung Hatta.

Bung Hatta mengisahkan semangat dan keyakinannya akan kemenangan Indonesia itu makin membara ketika dipertemukan dengan tokoh spiritual dan politikus India, Mahatma Gandhi, oleh Nehru. Pertemuan itu berlangsung di rumah Gandhi di pinggiran Kota New Delhi.

Gandhi mengatakan tidak percaya Indonesia dapat dijajah kembali oleh Belanda. Sebab, seluruh dunia sudah menentang adanya kolonialisme. “Aku percaya, bagaimanapun juga agresifnya Belanda, Indonesia akan menang,” kata Gandhi.

Mohammad Hatta saat memperkenalkan Jawaharlal Nehru kepada Kepala Polisi RI, Raden Soekanto tahun 1950 
Foto : ANRI

Mendengar Gandhi berucap, terbayang dalam kepala Bung Hatta bahwa PBB akan segera mengakui hak merdeka dan berdaulat Indonesia. PBB akan memaksa mundur Belanda dari Indonesia dan mengakui kemerdekaan Indonesia sebagaimana tertuang dalam Perjanjian Linggarjati.

Setelah bertemu dengan Gandhi, Bung Hatta kembali ke Indonesia. Masih ditemani oleh Patnaik. Bung Hatta dan rombongan mendarat di Pekanbaru, Riau. Ia melanjutkan perjalanan keliling Pulau Sumatera ke Sumatera Utara.

Pada saat yang sama, radio mengabarkan Belanda mulai melancarkan agresi militer. Tercatat dalam sejarah agresi militer I itu mulai dilancarkan pada 21 Juli 1947. Selama beberapa waktu, Bung Hatta tertahan di Sumatera karena banyak daerah yang diblokade oleh Belanda. Hingga kemudian ia dapat kembali ke Yogyakarta menemui Sukarno setelah enam bulan berpisah.


Penulis: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

Sumber : DetikNews

https://news.detik.com/x/detail/intermeso/20220308/Perjalanan-Rahasia-Bung-Hatta-ke-India/

LAPORAN PROGRESS KERJASAMA KARYA ILMIAH

PROGRESS REPORT KARYA ILMIAH  
NoTanggalKegiatanKeterangan
 1.Juni – September 2021Persiapan proposal karya ilmiahMembuat proposal karya ilmiah untuk diajukan ke sponsorshipMembuat surat pengantar proposal untuk calon sponsorshipPengiriman hardcopy atau softcopy proposal dan surat ke sponsorship
 2.11 Agustus 2021Launching program Karya Ilmiah Launching program Karya Ilmiah ke Universitas Bung Hatta (UBH)  
     
                   
 3.
05 November 2021
Rapat dan Sosialisasi YPBH dengan UBHSelain mahasiswa insentif juga terbuka untuk dosen yang melakukan    penelitian dan dimuat di jurnal nasional/internasional.Nilai bantuan akan dibahas kemudianUBH akan membuat panduan sebelum program disosialisasikan ke civitas academicaRencana sosialisasi akan dilakukan akhir November 2021    
           
 4.07 Desember  2021Rapat dan Sosialisasi YPBH dengan Univ. Mercubuana Jogja Dana untuk ilmiah sesuai visi dan gagasan Bung Hatta akan dialokasikan utk Riset kolaborasi Dosen Mahasiswa dg output Skripsi dan Jurnal internasional.   Hasil : Januari 2022: Penetapan Judul Februari – Maret 2022:   Pelaksanaan Riset Juni 2022: Finalisasi Skripsi dan Pemuatan di Jurnal Ilmiah
 5.15 Desember 2021Sosialisasi program ke kampus UBH yang dihadiri oleh Ibu Prof. Dr. Meutia Hatta, Bapak Prof. Dr. Maizar Rahman, Bapak Prof. Dr. Tafdil Husni.S.E., MBA
 6.01 Januari 2022Pengumuman SOP pengajuan karya ilmiahSaat ini mahasiswa sedang ujian semester. Diperkirakan minggu kedua februari sudah ada proposal karya ilmiah yang masuk
 7.14 Januari 2022Pembahasan penelitian tentang Pengajaran Koperasi di Indonesia dengan Universitas Bercubuana Jogjakarta dan Mubyarto Institute
8.16 Februari 2022Meeting Yayasan Proklamator Bung Hatta dengan Universitas Mercu Buana Yogyakartahttp://proklamatorbunghatta.or.id/wp-content/uploads/2022/02/NOTULEN-RAPAT-YPBH-UMBY-16-Feb-2022.pdf
9.16 Februari 2022Penelitian Kolaborasi Yayasan Proklamator Bung Hatta, Universitas Mercu Buata Yogyakarta dan Mubyarto Institutehttp://proklamatorbunghatta.or.id/wp-content/uploads/2022/02/Penelitian-Kolaborasi-Yayasan-Proklamator-Bung-Hatta.pdf
10.14 Maret 2022UBH mengirim 10 judul karya ilmiah untuk : S1, S3 dan jurnal ilmiah
11.17 Maret 2022YPBH telah mengirim evaluasi atas 10 judul dari UBH
12.12 April 2022Evaluasi judul karya ilmiah dari UBH
13.17 April 2022Tujuh Judul Penelitian dan Publikasi Dosen-Mahasiswa Universitas Bung Hatta Lolos Hibah Pendanaan Yayasan Proklamator Bung Hatta (YPBH)https://bunghatta.ac.id/news-3648-tujuh-judul-penelitian-dan-publikasi-dosen-mahasiswa-universitas-bung-hata-lolos-hibah-pendanaan-yayasan-proklamator-bung-hatta-ypbh-.html
14.11 Mei 2022Berita Kerjasama ilmiah YPBH – UBHhttps://bunghatta.ac.id/news-3648-tujuh-judul-penelitian-dan-publikasi-dosen-mahasiswa-universitas-bung-hata-lolos-hibah-pendanaan-yayasan-proklamator-bung-hatta-ypbh-.html
15.07 Juli 2022Materi Progress Kerjasama Karya Ilmiahhttp://openjournal.unpam.ac.id/index.php/jit/article/view/18524

Panduan Proposal Riset YPBH
http://proklamatorbunghatta.or.id/wp-content/uploads/2022/01/Panduan-Proposal-Riset-YPBH.pdf

Progress Pelaksanaan Sponsorship Kerjasama Karya Ilmiah

No.PendonorPenerima GrantJudul dan Ikhtisar Karya IlmiahScheduleProgressKeterangan
1.PT. Petrokimia Gresik Universitas Bung Hatta – PadangDisertasi S3 atas :
a. Nama : Ir. Afrizal Naumar MT b. Judul : Sistim Pengurusan Air Pertanian untuk Kemampuan Pertanian Padi
PT. Petrokimia Gresik Universitas Mercubuana Yogyakarta Skripsi S1 atas :
a. Nama : Solahuddin
b. Judul : Pengaruh Faktor Pengalaman, Motivasi, Teknologi Informasi dan Diversifikasi Produk terhadap pertumbuhan Bisnis UMKM di Yogyakarta di masa Pandemi
2.PT. Kaltim Medika
3.PT. Kalianusa
4.PT. Pupuk Indonesia Energi
5.Bapak Supramu Santoso