Bung Hatta dan Sepatu Bally, Cermin Kesederhanaan Sang Proklamator …

Sabtu, 17 Agustus 2019 | 08:12 WIB

KOMPAS.com – Proklamator Republik Indonesia Mohammad Hatta sangat dikenal dengan gaya hidupnya yang amat sederhana.

Sifat itu terus bertahan, baik sebelum, saat, maupun setelah dia menjabat sebagai Wakil Presiden pertama Indonesia.

Salah satu cermin kesederhanaan Bung Hatta bisa dilihat dari cerita tentang sepatu Bally yang begitu disukainya.
Pada tahun 1950-an, Bally sudah menjadi sebuah merek sepatu bermutu tinggi yang terkenal di Indonesia. Harganya pun tidak murah.

Bung Hatta ingin memilikinya. Tak sengaja, dia membaca iklan sepatu itu di koran. Di dalamnya ada informasi tentang tempat penjualan sepatu tersebut.

Hatta yang kala itu belum mempunyai cukup uang, lalu menggunting dan menyimpan potongan iklan tersebut.

Mungkin, maksudnya agar jika sudah ada rejeki maka dia tak perlu repot-repot mencari tempat di mana sepatu itu dijual.

Sayangnya, uang tabungan Hatta tidak pernah mencukupi. Selalu saja terambil untuk keperluan rumah tangga, atau untuk membantu kerabat yang datang meminta pertolongan.

Dalam buku ”Untuk Republik: Kisah-Kisah Teladan Kesederhanaan Tokoh Bangsa” karya Faisal Basri dan Haris Munandar, salah satunya ditampilkan kisah kesederhanaan Bung Hatta.

Dalam buku itu diceritakan, bahwa hingga akhir hayatnya, Hatta tidak pernah memiliki sepatu merek Bally yang diimpikannya.

Tak lama setelah wafat pada 14 Maret 1980, keluarga Bung Hatta menemukan lipatan guntingan iklan lama dalam dompetnya. Iklan itu adalah iklan sepatu merek Bally, yang dulu disimpannya.

Bung Hatta memilih untuk tidak memilikinya. Padahal, dengan jabatannya sebagai wakil presiden, apalagi dia juga berasal dari keluarga yang tak kekurangan, bukan perkara sulit untuk mendapatkan sepatu itu.

Hatta bersikukuh memilih untuk tidak memilikinya karena dia memilih untuk hidup sederhana.

Selain sifat sederhana, Hatta juga dikenal sebagai tokoh yang bersih dan jujur.

Hal ini ditunjukkan Hatta ketika memarahi sekretarisnya saat di pemerintahan, I Wangsa Wijaya, yang menggunakan tiga lembar kertas Sekretariat Negara (Setneg).

Wangsa menggunakan kertas itu untuk membuat surat kantor wapres. Hatta kemudian mengganti tiga lembar kertas Setneg tersebut dengan uang kas wapres.
Meski terkesan remeh, Hatta selalu berusaha untuk tidak mengambil sesuatu yang bukan haknya.

Kertas usang di dompet Hatta menjadi saksi kesederhanaan seorang Hatta, Sang ProklamatorRepublik Indonesia.

Editor: Glori K. Wadrianto
Sumber:
Intisari Online,Harian Kompas
https://lifestyle.kompas.com/read/2019/08/17/081222820/bung-hatta-dan-sepatu-bally-cermin-kesederhanaan-sang-proklamator?page=2

Hatta Tak Suka Dijadikan “Dewa”

Bung Hatta dikenal disiplin dan sederhana. Tak heran bila ia kecewa mendapat sambutan berlebihan ketika mengunjungi kampung halaman.

Oleh M.F. Mukthi

Bung Hatta istri bersama Hasjim Ning dan istri dalam sebuah resepsi adat
(repro “Pasang Surut Pengusaha Pejuang”).

BEGITU kapal kecil yang membawanya bersandar di dermaga, 3 Juni 1947, Wakil Presiden Moh. Hatta segera turun ke darat. Kunjungan ke Panjang, Lampung, itu menandai kunjungan pertamanya ke Sumatra setelah Indonesia merdeka. Kunjungan Hatta itu merupakan safari politik untuk memperkuat semangat juang rakyat.

“Aku berangkat ke Sumatera atas undangan anggota-anggota KNIP dari Sumatera, yang baru dipilih dalam sidang pleno pada waktu itu. Yang ikut dalam rombongan antara lain Suryo, ketua Dewan Pertimbangan Agung; Ir. H. Laoh, menteri Perhubungan; Mr. A. Karim (waktu itu salah seorang direktur Bank Negara Indonesia); Suria Atmadja (Kementerian Perekonomian); Rusli Rahim (kepala Bagian Koperasi pada Kementerian Perekonomian); Abubakar Lubis, Supardjo, pemimpin pemuda; Wangsa Widjaja (sekretaris wakil presiden); WI. Hutabarat dan Ruslan Batangtaris (ajudan wakil presiden),” kata Hatta dalam otobiografinya Untuk Negeriku, Jilid 3.

Sekira tanggal 15, rombongan memasuki Sungai Dareh, Sumatera Barat melalui jalan darat dari Muara Tebo, Jambi. Dari situ, rombongan melanjutkan perjalanan ke Padang Panjang sebelum mencapai tujuan akhir Bukittinggi.

Antara Sungai Dareh dan Padang Panjang, rombongan beberapakali berhenti. Untuk sesaat, Bung Hatta menyempatkan diri menyapa rakyat yang menyambutnya meriah, lalu memberi sedikit wejangan. Pidato panjang diberikannya ketika di Padang Panjang.

“Sesudah itu kami dibawa ke sebuah rumah yang dihiasi dengan bendera Sang Saka Merah Putih. Kaum ibu di sana berhari-hari menyiapkan makan untuk kami. Meja makan penuh dengan ayam goreng, rendang, ikan air tawar, dan satu piring selada, yang sangat enak rasanya,” kenang Hatta.

Dari Padang Panjang, rombongan melanjutkan perjalanan ke Bukittinggi, kampung halaman Hatta. Mereka mendapat sambutan begitu meriah dari rakyat. Di sana, rombongan bakal tinggal selama enam hari, namun batal karena pada hari kelima Hatta dijemput Biju Patnaik, pengusaha penerbangan India yang bersimpati pada kemerdekaan Indonesia, untuk memenuhi permintaan Presiden Sukarno agar Hatta bertemu dengan PM India Jawaharlal Nehru.

Namun sebelum terbang ke India, Hatta sempat memberikan pidato di depan rakyat. Sebelum memberi pidato itulah Hatta mendapat sambutan luar biasa. Alih-alih senang, Hatta yang dikenal sederhana justru kecewa terhadap sambutan yang berlebihan itu. Bahkan, ia sampai menegur gubernur karena sambutan berlebihan itu.

Jauh setelah peristiwa itu terjadi, Hatta menceritakan kekecewaan itu kepada Hasjim Ning, keponakannya yang menjadi pengusaha berjuluk “Raja Mobil Indonesia”. Hasjim mengisahkan kekesalan pamannya itu dalam otobiografinya, Pasang Surut Pengusaha Pejuang.

“Orang di sana lupa bahwa aku wakil presiden, bukan raja dari suatu kerajaan,” kata Hatta.

“Mengapa, Oom?” tanya Hasjim yang belum tahu duduk perkaranya.

“Mereka menyambutku dengan nyanyian hymne.”

“Itu maksudnya mau menghormati, Oom,” kata Hasjim memberi komentar.

“Hymne itu lagu pujaan kepada dewa, tahu?”

“Teks lagunya bagaimana, Oom?”

“Ya berisi pemujaan atas pribadiku.”

“Ah, kalau begitu secara agama mereka sudah sesat, secara bernegara mereka sudah feodal,” Hasjim memberi penilaian.

“Ya itulah yang aneh. Orang Minangkabau yang selama ini terkenal demokrat, setelah merdeka mereka menjadi feodal,” kata Hatta.

Sumber : https://historia.id/histeria/articles/hatta-tak-suka-dijadikan-dewa-DnoQo

Kode Partikelir Mohammad Hatta dan Ali Sastroamidjojo berhubungan dengan kode partikelir, padahal sudah ada Dinas Code.

Oleh Hendri F. Isnaeni

Description: https://d220hvstrn183r.cloudfront.net/attachment/409130301_Hatta-Ali.large

PADA Januari 1950, ketika Ali Sastroamidjojo akan berangkat ke Washington, Amerika Serikat, untuk menjalankan tugas sebagai dutabesar, Mohammad Hatta membekalinya cek sebesar US$10.000 untuk membiayai kegiatan kedutaan.

“Bung Hatta dengan saya mengadakan suatu perjanjian tentang kode yang akan dipakai untuk tilgram-menilgram tentang hal-hal yang harus dirahasikan,” kata Ali dalam otobiografinya, Tonggak-tonggak di Perjalananku.

Kode itu diambil dari dua buku yang sama yang dipegang Hatta dan Ali. Tiap-tiap huruf dinyatakan dengan menyebutkan nomor halaman, kalimat, kata dan huruf pertama dari kata itu yang terdapat di dalam buku tersebut.

“Maklumlah pada waktu itu kita belum mempunyai dinas sandi seperti sekarang. Jadi terpaksa menggunakan ‘kode partikelir’,” ujar Ali.

Ketika uang dari Hatta sudah hampir habis, Ali segera mengirim kawat kepada Hatta untuk minta tambahan dana.

“Tilgram itu saya kirim dengan ‘kode partikelir’ yang saya ceritakan di atas tadi,” kata Ali. “Tetapi lebih dari 10 hari saya belum menerima jawaban. Suatu hal yang agak menyimpang dari ketertiban Bung Hatta yang saya kenal biasanya selalu memperhatikan surat-menyurat, apalagi kalau dengan tilgram.”

Ali pun mengirim kawat lagi tanpa menggunakan kode, menanyakan apakah Hatta telah menerima kawat berkode darinya. Jawaban Hatta datang dengan telegram biasa, singkat dan menggelikan: “Sudah terima, tetapi buku kode yang pada saya hilang. Harap ulangi isi kode saudara dengan kawat biasa.”

Itulah tak efektifnya kode partikelir.

Kala itu Indonesia sebenarnya sudah punya Dinas Code (sekarang Lembaga Sandi Negara), yang dibentuk pada April 1946. Menurut sejarah resmi Lembaga Sandi Negara, kegiatan persandian telah dimulai Jawatan Teknik bagian B Kementerian Pertahanan pada masa perjuangan kemerdekaan, baik di Jakarta, pemerintahan hijrah di Yogyakarta, maupun pemerintahan darurat di Bukittinggi; kemudian mendukung kegiatan diplomasi kementerian luar negeri dan perwakilan Indonesia di New Delhi, Den Haag, dan New York.

Mungkin saja, kode partikelir itu inisiatif pribadi Hatta dan Ali.

Sumber : https://historia.id/politik/articles/kode-partikelir-DBAx6

Api Gagasan Kebangsaan Bung Hatta

Gagasan kebangsaan yang kolot, yang terlalu mengagungkan klaim teritorial dan chauvinisme, akan tergilas oleh perkembangan zaman.

Penyebabnya, dunia yang makin terglobalisasi menggerus batas-batas bangsa. Sementara perkembangan teknologi informasi telah menggulung apa yang disebut “efek jarak jauh” (time-space distanciation).

Jadi, kalau gagasan kebangsaan tidak seiring-sejalan dengan semangat zaman, boleh jadi akan usang. Hanya tinggal kenangan atau artefak sejarah.

Disamping tantangan zaman, proyek kebangsaan kita kini tengah dicegat oleh dua tantangan langsung. Pertama, proyek neokolonialisme yang melucuti pilar utama dari sebuah bangsa merdeka, yakni kedaulatan. Kedua, bangkitnya politik sektarian berbaju SARA, yang berpotensi mengancam merobohkan rumah kebangsaan kita yang dibangun di atas pengakuan terhadap keragaman.

Menghadapi berbagai tantangan di atas, kita perlu ber-tafakur sejenak, sembari membuka lembar demi lembar risalah pemikiran para pendiri bangsa soal kebangsaan. Salah satunya: Bung Hatta.

Pada tahun 1932, melalui famplet politik berjudul Ke Arah Indonesia Merdeka, Bung Hatta menorehkan buah pikirannya mengenani kebangsaan. Bagi saya, gagasan-gagasan kebangsaan Bung Hatta sangat menarik untuk diulas.

Menurut Bung Hatta, tidak ada pergerakan kemerdekaan di bawah kolong langit ini yang tidak dibalut dengan semangat kebangsaan. Sebab, hakekat dari setiap perjuangan kemerdekaan adalah membebaskan tanah air dan bangsanya.

Bagi Bung Hatta, perjuangan memerdekakan bangsa merupakan prasyarat bagi cita-cita persaudaraan segala bangsa dan umat manusia. “Hanya bangsa-bangsa dan manusia yang sama derajat dan sama merdeka dapat bersaudara,” tulisanya.

Yang menarik, gagasan kebangsaan Bung Hatta tidak mempertentangkan antara cita-cita kebangsaan dengan cita-cita mewujudkan persaudaran manusia. Tentu saja, gagasan semacam ini merobohkan anggapan kaum internasionalis radikal, yang selalu mempertentangkan semangat kebangsaan dan internasionalisme.

Yang menarik lagi, Bung Hatta tidak menampik potensi penyalahgunaan semangat kebangsaan ini. Seperti dicontohkannya, atas nama “membela kehormatan bangsa”, seringkali kaum borjuis memanfaatkan konsep kebangsaan guna memobilisasi rakyat banyak dalam perang untuk memuluskan kepentingan ekonominya.

“Rakyat yang banyak dipakai mereka sebagai perkakas saja. Rakyat menderita azab dunia di atas medan peperangan, menjadi umpan pelor dan gas racun,” tulisnya.

Saking tak terhindarkannya penggunaan semangat kebangsaan dalam perjuangan kemerdekaan, Bung Hatta menyebutnya sebagai konsekuensi “real-politiek”, yakni teknik berpolitik dengan bergerak dari situasi kongkret.

Tetapi Bung Hatta menyadari, semangat kebangsaan itu punya aneka rupa. “Ada kebangsaan cap ningrat, ada kebangsaan cap intelek, dan ada pula kebangsaan cap rakyat,” tulis tokoh kelahiran tanah Minang ini.

Kebangsaan ningrat menempatkan kaum ningrat sebagai pemegang kekuasaan pemerintahan. Model kebangsaan ini sangat aristokratik dan feodal. Kekuasaan di tangan segelintir orang bangsawan dan terwariskan turun-temurun. Tentu saja, Bung Hatta tidak setuju dengan model kebangsaan ini, karena mengabaikan hak-hak rakyat banyak.

Sementara kebangsaan intelek menginginkan kekuasaan negeri dijalankan oleh kaum terpelajar. Mereka menempatkan kecakapan sebagai ukuran kepantasan memimpin. Agar negeri bisa maju dan makmur, maka kendali negara harus di tangan orang-orang cakap dan berpengetahuan.

Angan-angan mendirikan negara yang diperintah oleh cerdik pandai tidaklah baru. Plato sudah mengumandankannya 2300-an tahun yang lampau. Negara yang baik harus diperintah oleh akal, kata filsuf Yunani itu.

Meski terlihat menarik, kebangsaan cap intelektual ini ditampik oleh Bung Hatta. Sebab, kebangsaan ini terlalu mengglorifikasi keunggulan kaum terpelajar, tetapi mengabaikan dan merendahkan kapasitas politik rakyat banyak.

Dia condong pada konsep kebangsaan yang ketiga, yakni kebangsaan cap rakyat, yang mengakui dan menempatkan rakyat sebagai pemegang kendali Negara. Kebangsaan rakyat menjejakkan kakinya pada konsep kedaulatan rakyat.

Singkat cerita, jika kita ambil api gagasannya, konsep kebangsaan Bung Hatta punya tiga api. Pertama, penentangan terhadap kolonialisme dan segala bentuk penindasan bangsa atas bangsa di atas muka bumi ini. Karena itu, kebangsaan ala Bung Hatta sangat sadar, mimpi mewujudkan humanisme universal hanyalah angan-angan kosong jikalau masih ada bangsa yang kemerdekaan atau kedaulatannya terenggut oleh bangsa lain.

Kedua, jalan cita-cita kebangsaan ala Bung Hatta menuju pada persaudaran umat manusia atau antar bangsa. Karena itu, kebangsaan Bung Hatta menolak penyakit-penyakit kebangsaan yang anti persaudaraan antar umat manusia, seperti chauvinisme maupun xenophobia.

Ketiga, pemihakan pada kedaulatan rakyat, bahwa jalan kemerdekaan sekaligus cita-cita mendirikan negara merdeka haruslah meniti jalan kedaulatan rakyat. Kebangsaan ala Bung Hatta menempatkan rakyat sebagai protagonisdalam politik kenegaraaan.

Karena tiga api itu lah, gagasan kebangsaan Bung Hatta tidak tergerus oleh perkembangan zaman. Cita-citanya tidak pernah padam oleh perkembangan-perkembangan baru dalam tata baru bermasyarakat.

Rudi Hartonopemimpin redaksi berdikarionline.com

Sumber: https://www.google.com/amp/www.berdikarionline.com/bung-hatta-dan-konsep-kebangsaannya/amp/

Demokrasi Air ala Bung Hatta

Di tempat pengasingan, Bung Hatta membuat aturan agar tidak memakai air sesukanya untuk mandi.
Oleh: Aryono

Bung Hatta, Ali Sastroamidjojo, Mohamad Roem, Mr. Asaat, Komodor Suryadi Suryadarma, dan AG Pringgodigdo, di tempat pengasingan di Menumbing, Bangka.


Awal Januari 1949, Ali Sastroamidjojo dan Mohamad Roem tiba di Menumbing, Bangka. Mereka ditempatkan di sebuah pesanggarahan milik perusahaan timah Belanda. Mereka disambut Bung Hatta, Mr Asaat, Komodor Suryadi Suryadarma, dan AG Pringgodigdo yang sudah duluan ditawan Belanda setelah agresi militer Belanda kedua.
Sehari di sana, Bung Hatta memberikan “pengarahan”. Pertama, kendati berada di pengasingan, mereka harus tetap menganggap diri dan bersikap sebagai petugas resmi Republik Indonesia. Tetap berpakaian rapi. Tak boleh pakai piyama atau sarung. Selain itu, Hatta menandaskan perlunya memegang teguh azas demokrasi.
“Misalnya,” ujar Hatta sebagaimana dikutip Ali Sastroamidjojo dalam Tonggak-tonggak di Perjalananku, “kalau mandi janganlah memakai air sesukanya sendiri. Saya sudah mengukur isi tempat air mandi dan ternyata airnya cukup kalau saudara-saudara masing-masing hanya memakai 10 gayung tiap-tiap kali mandi.”
Mereka tertawa tapi mematuhinya dengan serius.

Sumber : https://www.google.com/amp/s/historia.id/amp/histeria/articles/demokrasi-air-ala-bung-hatta-D8ejy

Menlu: Bung Hatta Jadi Pilar Politik Luar Negeri Indonesia

Selasa, 14 Okt 2014 15:03 WIB

Jakarta – Mantan Wapres RI, Mohammad Hatta mendapat penghargaan Dr Ide Anak Gede Agung dalam keunggulan diplomasi. Menlu Marty Natalegawa menyebut Bung Hatta berperan mengokohkan pilar politik luar negeri Indonesia melalui diplomasi.

“Prestasi dan pencapaian serta suri tauladan dan jejak langkah ketokohan beliau demikian banyak sehingga sejarah bangsa Indonesia tidak terlepas sumbangsih beliau. Dan sebuah konsep pemikiran yang telah terus menjadi pilar politik luar negeri Indonesia yakni prinsip polugri bebas aktif,” ujar Marty dalam sambutannya pada pemberian anugerah, di Gedung Pancasila Kemenlu, Jakpus, Selasa (14/10/2014).

Marty mengungkapkan, pengaruh peran Bung Hatta tersebut dinilai sangat luar biasa. Prinsip bebas aktif telah melandasi konferensi Asia Afrika, dan menjadi penggerak pembentukan Gerakan Non-Blok.

“Tentunya dunia di awal abad 21 ini sangat berbeda dibanding pada masa awal kemerdekaan RI. Dimana suatu tatanan internasional yang semakin kompleks dan semakin leburnya bata-batas masalah dalam dan luar negeri,” ujar Marty

“Dan untuk itu, Indonesia perlu mempertahankan kemandiriannya dalam menentukan sikap terhadap persoalan internasional,” terang Marty lagi.

Dan tidak kalah penting, diplomasi Indonesia berupaya untuk melanjutkan keteladanan beliau sebagai pelopor gagasan-gagasan baru. “Seorang ‘thought leader’ yang tidak pasrah terhadap keadaan, melainkan mendorong pembaharuan kearah perbaikan,” tutup Marty.

Sumber : https://m.detik.com/news/berita/d-2718410/menlu-bung-hatta-jadi-pilar-politik-luar-negeri-indonesia

Seperti Apa Cara Bekerja Bung Hatta? Berikut Beberapa Hal yang Bisa Anda Teladani

Eka Utami,

Masih dalam rangka memeringati Hari Kemerdekaan Indonesia ke-72. Kali ini Qerja akan membahas tentang sikap dan cara bekerja salah satu proklamator kemerdekaan Indonesia: Mohammad Hatta. Bung Hatta, begitu ia disapa, terkenal sebagai orang yang jujur dan berintegritas. Selain itu, dia juga tegas dan disiplin. Berikut cara kerja Bung Hatta yang bisa diteladani oleh Qolega.


Disiplin waktu
Bung Hatta adalah orang yang terkenal disiplin. Dia bisa gusar jika ada jadwal acara yang meleset barang sebentar saja. Berdasarkan penuturan Sekretaris Pribadi Bung Hatta, Iding Wangsa Widjaja yang dikutip dari Detik, Bung Hatta pernah menolak bertemu dengan duta besar dari salah satu negara Eropa karena terlambat datang selama 30 menit dari waktu pertemuan yang telah ditentukan. “Bagaimana ini? Menurut rencana dia akan datang pukul 10, sekarang telah lewat. Saya tidak akan menerimanya!” demikian pernyataan tegas Hatta pada sekretarisnya ketika sang dubes tiba.

Bahkan, Bung Hatta juga tidak nyaman ketika terjadi kesalahan perhitungan waktu. Pada tahun 1953, Bung Hatta mengadakan kunjungan kerja ke berbagai daerah di Sulawesi. Saat bertolak dari Gorontalo ke Surabaya, Bung Hatta mendapat informasi bahwa akan tiba di Surabaya pada pukul 11.00. Ternyata, pesawat yang ditumpangi mendarat lebih cepat pada pukul 10.00. Gubernur Jawa Timur Samadikun langsung panik karena merasa telat menyambut kedatangan wakil presiden. Bung Hatta pun marah dan mengingatkan sekretarisnya agar lebih teliti menghitung waktu.


Anda tidak bisa menyepelekan waktu jika punya klien atau kolega seperti Hatta. Mungkin alasan macet pun tak bisa diterima. Dengan menerapkan disiplin waktu dalam bekerja, Anda akan dihargai orang lain.

Teratur
Hatta juga terkenal dengan cara kerja yang teratur. Pegawai yang bekerja dengan Hatta harus tahu dan memilah surat-surat penting yang harus segera ditandatangani sebelum tutup kantor. Jika tidak terkejar pada hari itu, maka surat-surat harus menunggu hingga keesokan harinya. Di luar jam kantor, Hatta tidak bisa diganggu untuk urusan pekerjaan.


Dengan meniru cara kerja seperti Hatta ini, Anda bisa mengatur keseimbangan kehidupan dan pekerjaan. Anda memang perlu bekerja keras selama berada di kantor. Ketika Anda sudah selesai bekerja, maka bisa membagi waktu dengan keluarga. Hal ini bisa menghindarkan Anda dari stres.

Memberi contoh sebelum memberi perintah Berdasarkan buku Seri Pengenalan Tokoh: Sekitar Proklamasi Kemerdekaan, Hatta selalu memberi contoh sebelum meminta orang lain melakukannya. Misalnya, ketika meminta anak-anaknya untuk tidak membaca sambil berbaring, maka ia tidak pernah melakukannya. Di lain waktu, Hatta juga mengajarkan keluarganya agar makan dengan rapi. Hal itu sudah ditunjukkan sebelumnya.

Kalau Anda sudah duduk di kursi manajer, tentu bisa meniru gaya kepemimpinan Hatta ini. Jika Anda ingin menerapkan hal baik untuk menjadi budaya kerja perusahaan, maka hal pertama yang dilakukan adalah mencontohkan dari diri sendiri. Konsistensi Anda dalam menjalankan keputusan yang dibuat sendiri akan membuat karyawan kagum dan meneladani Anda.

Jujur, antikorupsi
Bung Hatta sangat tegas dalam membuat pemisahan urusan pribadi dan negara. Dia tidak mau korupsi bahkan untuk selembar kertas sekalipun. Menurut catatan Detik, Bung Hatta pernah menegur sekretarisnya karena menggunakan tiga helai kertas sekretariat negara untuk keperluan prbadi. Dia meminta sekeretarisnya mengganti kertas tersebut dengan uang pribadi. Bung Hatta juga menegur putrinya yang mengirim surat dengan menggunakan kertas dengan kepala surat Konsulat Jenderal RI.
Setelah tidak menjabat sebagai wakil presiden, Bung Hatta pernah mendapat kesempatan berkunjung ke Irian –sekarang Papua- pada 1970. Dia tetap diperlakukan seperti pejabat negara. Bahkan seseorang menyodorkan uang saku tambahan di luar fasilitas yang diberikan. Tapi, Bung Hatta menolak.

Meskipun tidak lagi menjadi pejabat negara, Hatta berhak menerima uang negara untuk biaya berobat. Tapi, dia tidak mau menikmati kelebihan uang dari tidak digunakan untuk ongkos perjalanan dan dokter. Menurut Republika, pada 1971, ketika Hatta pulang berobat dari negeri Belanda, dia meminta sekretaris pribadinya, membuatkan laporan penerimaan dan pengeluaran uang negara selama berobat di Belanda. Bung Hatta ingin setiap rupiah uang negara yang tersisa dikembalikan ke kas negara. –Qerja.com

Sumber Foto: Flickr

Sumber : https://www.google.com/url?sa=t&source=web&rct=j&url=https://www.qerja.com/journal/view/8497-seperti-apa-cara-bekerja-bung-hatta-berikut-beberapa-hal-yang-bisa-anda-teladani/&ved=2ahUKEwi1jaHepdboAhVHWH0KHaFMAfkQFjACegQIBRAB&usg=AOvVaw21GjEruhr62lbCbltqLVcM

Pemikiran Bung Hatta Menginspirasi Pembangunan Rumah Rakyat

Editor: Hilda B Alexander


JAKARTA, KOMPAS.com – Upaya pemerintah dalam merumahkan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) tidak lepas dari semangat pemikiran almarhum Wakil Presiden Pertama RI, Mohamad Hatta ( Bung Hatta).
Ketika Kongres Perumahan Rakyat Sehat yang diselenggarakan pada 25-30 Agustus 1950 di Bandung, Jawa Barat, Bung Hatta menyatakan, terselenggaranya kebutuhan perumahan rakyat, bukanlah sebuah cita-cita yang mustahil untuk diwujudkan.
Ia menegaskan, setiap masyarakat berhak mendapatkan penghidupan yang layak, termasuk rumah.
“Semangat juang Bung Hatta dalam penyelenggaraan perumahan di Indonesia terus kita lanjutkan,” kata Sekretaris Jenderal Kementerian PUPR, Anita Firmanti, usai meletakan karangan bunga di makam Bung Hatta di TPU Tanah Kusir Jakarta, Kamis (15/8/2019).
Ia didampingi cucu Bung Hatta, Mohammad Athar dan juga Direktur Jenderal Penyediaan Perumahan, Khalawi Abdul Hamid saat melaksanakan kegiatan yang menjadi rangkaian peringatan Hari Perumahan Nasional (Hapernas) yang diperingati setiap 25 Agustus.
Anita menyatakan, pemikiran Bung Hatta di bidang perumahan merupakan suri bagi generasi penerus dalam penyelenggaraan penyediaan perumahan.
Hal yang sama juga dilakukan almarhum mantan Menteri PUPR, Cosmas Batubara semasa hidupnya.
“Keluarga besar Kementerian PUPR dan pemangku kepentingan bidang perumahan menyampaikan penghargaan dan terimakasih atas sumbangsih pemikiran Bung Hatta yang menjadi penyemangat bagi Kementerian PUPR yang mendapatkan amanah dalam penyelenggaraan perumahan di Indonesia,” tutur Anita.
Setiap tahun, angka kebutuhan rumah terus meningkat. Saat ini tercatat tingkat backlogperumahan mencapai 7,6 juta unit, dengan tambahan kebutuhan setiap tahunnya mencapai 500.000 hingga 600.000 unit.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah sejak 2015 telah melaksanakan Program Sejuta Rumah (PSR) dengan target 5 juta hingga akhir 2019.
Secara bertahap, capaian program sejuta rumah terus meningkat yaitu dari 904.758 unit di tahun 2015 menjadi 1.132.621 juta unit pada tahun 2018.
Secara akumulatif, capaian hingga akhir 2018 menyentuh 3.542.318 unit, dimana 70 persen diantaranya merupakan perumahan bagi MBR.
Tahun ini, diharapkan capaian pembangunan PSR dapat lebih tinggi, yakni sebanyak 1,25 juta unit rumah.
“Capaian program Sejuta Rumah tahun 2019 hingga 5 Agustus 2019 mencapai angka 735.547 unit. Jadi kita punya target tahun 2019 lebih besar untuk mendongkrak kekurangan dari total akumulatif menjadi 5 juta unit,” kata Khalawi.
“Kita bisa capai kurang lebih 4,79 juta atau 94 persen dari total target. Jadi kurangnya tidak terlalu banyak. Sektor perumahan juga cukup tinggi sumbangannya terhadap pertumbuhan ekonomi,” imbuh dia.
Sementara itu, Mohammad Athar berharap, pemerintah terus melaksanakan program perumahan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Kami harap program perumahan untuk masyarakat di Indonesia bisa lebih ditingkatkan lagi karena masih banyak masyarakat yang belum memiliki rumah yang layak huni,” sebut dia.


Sumber : https://properti.kompas.com/read/2019/08/16/090000521/pemikiran-bung-hatta-menginspirasi-pembangunan-rumah-rakyat?page=all#page2