Bung Hatta dalam Perbincangan

Prof Dr Maizar Rahman, sebagai Ketua Umum Yayasan Proklamator Bung Hatta, Selasa, 18 September 2018 mengundang saya ke Sekretariat Yayasan untuk berbincang-bincang tentang Proklamator Bung Hatta.

Sudah tentu undangan ini saya sambut dengan gembira, karena selain keturunan Minangkabau, disusunan pengurus terdapat nama-nama sebagai nara sumber, di antaranya Dr Mochtar Naim, Brigjen TNI Purn Dr Saafroedin Bahar yang baru saja mendahului kita, juga sebagai Pembina Yayasan, Prof Jend Pol Purn Awaluddin Djamin.

www.toptime.co.id
www.toptime.co.id

Ketiga tokoh Minangkabau ini, yaitu Mochtar Naim, saya kenal ketika beliau mengundang saya akan merealisasikan gagasannya membentuk Daerah Istimewa Minangkabau. Meski saya menyaksikan gagasan itu belum terwujud, saya selalu mendukung setiap ide yang positip buat bangsa dan negara.

Kedua, saya mengenal Dr Saafroeddin Bahar dan Jend Pol Awaluddin Djamin ketika saya mengundang kedua tokoh Minangkabau tersebut di acara peluncuran buku yang saya tulis: “Rais Abin Panglima Pasukan PBB di Timur Tengah.”

Dokumentasi pribadi
Dokumentasi pribadi

Kembali ke masalah Yayasan Proklamator Bung Hatta, saya pada hari Selasa, 18 September 2018 itu disambut beberapa orang pengurus, di antaranya Ketua Umum Prof Dr Meizar Rahman, Dewan Pengawas Ir Firman Rasjid,MM, Ketua I Abdul Hadi, Sekretaris Umum Ezrinal Azis Msc, Wakil Sekretaris II Media Andriani dan Bendahara Umum Winta Sri Mulyati.

Memang ada pertanyaan, apakah diskusi pada 18 September 2018 ini ada kaitan dengan kelanjutan diskusi pada 18 Desember 2017 di Hotel Ambhara, Jakarta Selatan, di mana saya juga diundang? Kita dalam pertemuan itu sepakat mengatakan, tidak sama sekali.

Memang pada tahun 2017, Direktorat Pelestarian Cagar Alam, Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI optimis bahwa Museum Bung Hatta akan menempati ruang di Istana Bung Hatta di Bukittinggi. Tetapi dikarenakan sesuatu hal rencana itu batal.

Pertemuan, 18 September 2018 akan mendirikan “Hatta Memorial,” di Rumah Bung Hatta. Saya menyaksikan semua rencana telah digagas di Sekretariat Yayasan Proklamator Bung Hatta, Jakarta Selatan.

Berbincang tentang Bung Hatta, kita sepakat bahwa selain gelar yang disandang sebagai Proklamator, Pahlawan Nasional dan Bapak Koperasi,  kita sepakat pula bahwa Bung Hatta adalah orang sangat sederhana dan menjadi contoh buat aparat yang tersandung korupsi, karena ia menjadi contoh orang yang bersih dari korupsi, juga sebagaiman diceritakan Burhanudin Mohamad (BM) Diah kepada saya tahun 1991 dan tentang Bung Hatta ini sengaja dicerirakan kepada saya yang pada tahun 1992 terbit menjadi buku: “Butir-Butir Padi B.M.Diah,” bab “Soekarno Hatta dalam Pandangan Saya,” dari halaman 65-98.

 

Sumber:

Bung Hatta dalam Perbincangan oleh Dasman Djamaluddin 

One comment

  1. Ya, ini benar, berbincang tentang Bung Hatta, kita sepakat bahwa selain gelar yang disandang sebagai Proklamator, Pahlawan Nasional dan Bapak Koperasi, kita sepakat pula bahwa Bung Hatta adalah orang SANGAT SEDERHANA dan menjadi contoh buat aparat yang tersandung KORUPSI, karena ia menjadi contoh orang yang bersih dari korupsi, juga sebagaiman diceritakan Burhanudin Mohamad (BM) Diah kepada saya tahun 1991 dan tentang Bung Hatta ini sengaja dicerirakan kepada saya yang pada tahun 1992 terbit menjadi buku: “Butir-Butir Padi B.M.Diah,” bab “Soekarno Hatta dalam Pandangan Saya,” dari halaman 65-98.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *