Kisah Bung Hatta Terkepung Agresi Pertama dan Perjalanan Meloloskan Diri ke Bukittinggi

Redaksi
Senin, 22 Juli 2019 | 23:16 WIB

Bung Hatta berpidato di depan rakyat. (Foto: Ist)

Langgam.id – Ketika tentara Belanda melancarkan Agresi Militer I pada 21 Juli 1947, Wakil Presiden Mohammad Hatta sedang bersiap meninggalkan Sibolga, Sumatra Utara untuk mengkonsolidasikan perjuangan.

Sehari setelah agresi, pada 22 Juli 1947, posisi Bung Hatta di Pematang Siantar sempat terkepung tentara Belanda. Sehingga, ia diminta para tokoh untuk menuju ke selatan dan terus ke Bukittinggi. Peristiwa ini terjadi tepat 72 tahun lalu dari hari ini, Senin (22/7/2019).

Dalam buku ‘Mohammad Hatta Memoir’ (1979), Bung Hatta menulis, pada 21 Juli 1947 saat terjadi Agresi Pertama, ia sedang baru saja meninggalkan Sibolga menuju Pematang Siantar. “Waktu kami meninggalkan Sibolga, radio sudah mengumumkan bahwa tentara Belanda sudah menyerang Republik Indonesia,” tulisnya.

Namun, Bung Hatta meneruskan aktivitasnya di Sumatra Utara untuk mengkonsolidasikan perjuangan. “Pada suatu tempat sebelum jalan mulai mendaki, aku mengadakan pidato dan menganjurkan rakyat siap berperang. Sebab, Belanda sudah mulai berperang dengan tujuan menjajah kita kembali,” kata Si Bung.

Bung Hatta kemudian menutup pidato yang tak lebih dari 10 menit itu dengan ucapan, “Terus berjuang. Sekali merdeka, tetap merdeka!” Pekik yang disambut rakyat dengan teriakan serupa, dengan gembira dan berkali-kali. Sampai di Tarutung, menurut Bung Hatta, ada rapat umum yang diisi dengan pembicara sejumlah tokoh, ditutup Bung Hatta.

Saat itu bulan puasa, Bung Hatta mengaku harus makan sirih setelah makan sahur dengan harapan tidak terlalu haus ketika berpidato di bulan puasa. Hal yang kemudian, menurutnya, cukup membantu.

Pukul 2.00 WIB dini hari, tanggal 22 Juli itu, Bung Hatta bergerak menuju Pematang Siantar dari Tarurung. Pukul 7.30 WIB pagi, ia sudah harus berpidato di dalam rapat umum di lapangan. Hatta kemudian menuju Tebing Tinggi, juga untuk menyemangati rakyat untuk berjuang dan kembali ke Siantar.


Saat berada di Pematang Siantar itu, Hatta sempat menyelesaikan masalah koordinasi perjuangan antara TNI dan laskar.

Dari Kolonel Hotman Sitompul, Wakil Panglima tentara Republik setempat, Hatta mengetahui, bahwa tentara Belanda kian dekat ke Siantar. “Tebing Tinggi sudah didudukinya. Ia akan mengepung Pematang Siantar dan rombongan wakil presiden akan ditangkapnya di sini,” kata Kolonel Sitompul.

Ia menyarankan Bung Hatta dan rombongan segera meninggalkan Pematang Siantar. Sarannya, lewat Brastagi. “Sebab sebelah utara Danau Toba, di Merek, ada jalan yang menuju ke sebelah barat Danau Toba dan dari sana terus ke Sibolga,” tulisnya.

Ketika Bung Hatta sampai di Kabanjahe, tentara Belanda sudah sampai dan menduduki Pematang Siantar. Di Kabanjahe, wakil presiden tidak sempat beristirahat lama, karena berkejaran dengan waktu. Tempat itu juga segera terkepung, bila Bung Hatta dan rombongan tidak segera menuju Sibolga.


Baru ketika sampai di Sibolga, keadaannya lebih baik. Rombongan Bung Hatta sempat istirahat satu hari di kota ini. Istirahat itu, membuat Bung Hatta dan mereka yang berpuasa, bisa lebih tenang berbuka dan makan sahur.

Dari Sibolga, Bung Hatta kemudian menuju Kota Nopan melalui Padang Sidempuan. “Mau tak mau di Padang Sidempuan mesti memberi wejangan. Yang tidak puasa, dapat makan tengah hari di sana. Jam 2 siang kami teruskan perjalanan ke Kota Nopan,” tulis si Bung.

Di tempat ini, rombongan Bung Hatta dapat beristirahat lagi semalam. “Esok paginya, jam 7.30 WIB kami teruskan perjalanan kami ke Bukittinggi. Kami sampai di Bukittinggi pada Hari Sabtu, 29 Juli 1947.”

Bung Hatta memutuskan, untuk sementara waktu menetap dulu di kota kelahirannya itu. “Terus berangkat ke Yogya seperti aku datang bermula, tidak dapat lagi. Sebagian dari daerah Sumatra Selatan yang harus kulalui diduduki oleh tentara Belanda,” tulisnya. (HM)

Sumber : https://langgam.id/kisah-bung-hatta-terkepung-agresi-pertama-dan-perjalanan-meloloskan-diri-ke-bukittinggi/

Anies ” Bung Hatta mengatakan bahwa kunci kemajuan bangsa adalah pendidikan” .” Kakek saya adalah sahabat Bung Hatta “.

Sumber : Youtrod Youtube Channel

Hatta Tak Suka Dijadikan “Dewa”

Bung Hatta dikenal disiplin dan sederhana. Tak heran bila ia kecewa mendapat sambutan berlebihan ketika mengunjungi kampung halaman.

Oleh M.F. Mukthi

Bung Hatta istri bersama Hasjim Ning dan istri dalam sebuah resepsi adat
(repro “Pasang Surut Pengusaha Pejuang”).

BEGITU kapal kecil yang membawanya bersandar di dermaga, 3 Juni 1947, Wakil Presiden Moh. Hatta segera turun ke darat. Kunjungan ke Panjang, Lampung, itu menandai kunjungan pertamanya ke Sumatra setelah Indonesia merdeka. Kunjungan Hatta itu merupakan safari politik untuk memperkuat semangat juang rakyat.

“Aku berangkat ke Sumatera atas undangan anggota-anggota KNIP dari Sumatera, yang baru dipilih dalam sidang pleno pada waktu itu. Yang ikut dalam rombongan antara lain Suryo, ketua Dewan Pertimbangan Agung; Ir. H. Laoh, menteri Perhubungan; Mr. A. Karim (waktu itu salah seorang direktur Bank Negara Indonesia); Suria Atmadja (Kementerian Perekonomian); Rusli Rahim (kepala Bagian Koperasi pada Kementerian Perekonomian); Abubakar Lubis, Supardjo, pemimpin pemuda; Wangsa Widjaja (sekretaris wakil presiden); WI. Hutabarat dan Ruslan Batangtaris (ajudan wakil presiden),” kata Hatta dalam otobiografinya Untuk Negeriku, Jilid 3.

Sekira tanggal 15, rombongan memasuki Sungai Dareh, Sumatera Barat melalui jalan darat dari Muara Tebo, Jambi. Dari situ, rombongan melanjutkan perjalanan ke Padang Panjang sebelum mencapai tujuan akhir Bukittinggi.

Antara Sungai Dareh dan Padang Panjang, rombongan beberapakali berhenti. Untuk sesaat, Bung Hatta menyempatkan diri menyapa rakyat yang menyambutnya meriah, lalu memberi sedikit wejangan. Pidato panjang diberikannya ketika di Padang Panjang.

“Sesudah itu kami dibawa ke sebuah rumah yang dihiasi dengan bendera Sang Saka Merah Putih. Kaum ibu di sana berhari-hari menyiapkan makan untuk kami. Meja makan penuh dengan ayam goreng, rendang, ikan air tawar, dan satu piring selada, yang sangat enak rasanya,” kenang Hatta.

Dari Padang Panjang, rombongan melanjutkan perjalanan ke Bukittinggi, kampung halaman Hatta. Mereka mendapat sambutan begitu meriah dari rakyat. Di sana, rombongan bakal tinggal selama enam hari, namun batal karena pada hari kelima Hatta dijemput Biju Patnaik, pengusaha penerbangan India yang bersimpati pada kemerdekaan Indonesia, untuk memenuhi permintaan Presiden Sukarno agar Hatta bertemu dengan PM India Jawaharlal Nehru.

Namun sebelum terbang ke India, Hatta sempat memberikan pidato di depan rakyat. Sebelum memberi pidato itulah Hatta mendapat sambutan luar biasa. Alih-alih senang, Hatta yang dikenal sederhana justru kecewa terhadap sambutan yang berlebihan itu. Bahkan, ia sampai menegur gubernur karena sambutan berlebihan itu.

Jauh setelah peristiwa itu terjadi, Hatta menceritakan kekecewaan itu kepada Hasjim Ning, keponakannya yang menjadi pengusaha berjuluk “Raja Mobil Indonesia”. Hasjim mengisahkan kekesalan pamannya itu dalam otobiografinya, Pasang Surut Pengusaha Pejuang.

“Orang di sana lupa bahwa aku wakil presiden, bukan raja dari suatu kerajaan,” kata Hatta.

“Mengapa, Oom?” tanya Hasjim yang belum tahu duduk perkaranya.

“Mereka menyambutku dengan nyanyian hymne.”

“Itu maksudnya mau menghormati, Oom,” kata Hasjim memberi komentar.

“Hymne itu lagu pujaan kepada dewa, tahu?”

“Teks lagunya bagaimana, Oom?”

“Ya berisi pemujaan atas pribadiku.”

“Ah, kalau begitu secara agama mereka sudah sesat, secara bernegara mereka sudah feodal,” Hasjim memberi penilaian.

“Ya itulah yang aneh. Orang Minangkabau yang selama ini terkenal demokrat, setelah merdeka mereka menjadi feodal,” kata Hatta.

Sumber : https://historia.id/histeria/articles/hatta-tak-suka-dijadikan-dewa-DnoQo